Sabtu, 09 Februari 2019

Mengunjungi Masjid Jami’ Tegalsari Ponorogo


Ngainun Naim
Bersama Dr. Murdianto, M.Si.

Kamis, 24 Januari 2019, di kantor Pondok Pesantren Ittihadul Ummah Jarakan Banyudono Ponorogo. Saya baru saja usai mengisi “Seminar Literasi” yang diikuti oleh ratusan peserta. Panitia mengajak saya ke ruang tamu Pondok Pesantren. Rupanya di ruang tamu tersebut telah disediakan menu makan siang. Cukup lengkap. Ada sayur bening, sambal terasi, ayam goreng, tempe, tahu goreng, sayur lodeh, dan telur goreng.
Saya dipersilahkan mengambil nasi duluan. Setelah itu saya mengambil sayur bening, sambal terasi, tahu, dan tempe. Menu makan semacam ini rasanya sungguh nikmat sekali. Kami makan pada siang yang cukup terik itu dengan lesehan. Makan dan diikuti dengan perbincangan tentang banyak hal.
Papan nama Masjid Jami' Tegalsari Ponorogo

Salah satu topiknya tetap terkait dengan literasi. Berbagai gagasan kita perbincangkan. Rencana kita diskusikan. Dan berbagai kemungkinkan akan kita jajaki. Tentu muaranya adalah bagaimana literasi menjadi bagian dari tradisi santri di pesantren ini.
Sambil berbincang santai, usai topik literasi, saya bilang ke salah satu panitia bahwa saya akan mampir ke Masjid Agung Kyai Mohammad Besari di Jetis. Saya refleks saja karena lokasi yang menjadi tempat ziarah spiritual ini posisinya berada di jalan saya pulang.
Mushola Kyai Ageng Mohammad Besari

“Nanti tak antar, Kang”, kata Dr. Murdianto, panitia acara.
“Nggak usah. Aku kan sambil pulang. Jadi santai saja”, jawabku.
Aku menjawab begitu karena posisi rumah Dr. Murdianto tidak searah dengan jalan pulang. Namun dia memaksa.
“Gampang. Nanti aku tak nyopiri Panjenengan. Mas Sugeng akan nyusul saya di Tegalsari”.
“Ya sudah kalau begitu. Monggo saja”, jawabku.
Di samping Mushola dan Dalem Ageng

Makan siang dan diskusi ringan usai. Setelah rehat sejenak saya pun pamit kepada pengurus pondok. Saya dan Dr. Murdianto segera meluncur ke masjid yang menjadi tujuan wisata religi tersebut. Perjalanan cukup lancar. Tidak sampai 30 menit kami sudah sampai lokasi.
Makam Tegalsari lokasi tidak seberapa jauh dari Pondok Modern Gontor. Suara adzan terdengar merdu saat kami datang. Setelah parkir kami pun bergegas mengambil air wudhu. Puluhan jamaah segera berbaris rapi begitu iqamah dikumandangkan. Saya segera mengambil posisi di baris kelima.
Usai shalat dan dzikir, saya menunggu pintu makam Kiai Hasan Besari dibuka. Terlihat  pintu masih dikunci. Beberapa saat berlalu, namun belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Saya pun kemudian memanfaatkan waktu dengan berfoto di dekat pintu makam. Setelah itu berkeliling ke sekitar masjid. Saya mengunjungi beberapa bangunan kuno yang ada di sekitar masjid.
Dalem Ageng

Di sebelah timur masjid yang dibelah oleh jalan kampung, terdapat Dalem Ageng Kyai Ageng Mohammad Besari. Sebuah bangunan kuno yang eksotik. Begitu masuk, ada musholla kecil tepat di barat Dalem Ageng. Saya duduk di halaman musholla yang mungil tersebut. Pemandangan sekitar terlihat asri. Sejuk, meskipun siang itu sesungguhnya udara cukup panas.
Seketika imajinasi saya melayang. Terbayang bagaimana kondisi lokasi ini ratusan tahun lalu. Di sini, ratusan tahun lalu, ada sebuah pesantren besar yang menjadi jejak dunia pesantren di Jawa Timur. Tokoh-tokoh besar konon tersambung sanadnya ke pesantren ini. Nama Ronggowarsito—sastrawan Jawa yang sangat masyhur—pada masa mudanya juga mondok di sini.
Sayang, imajinasi saya tidak bisa melayang lebih jauh. Bacaan saya sangat terbatas tentang sosok besar yang begitu legendaris dengan segenap warisannya. Seingat saya, hanya satu buku yang saya baca sampai tuntas tentang pesantren ini. Itu pun hanya fragmen tertentu saja. Buku itu karangan Dr. Purwadi, M.Hum. Judulnya Hidup, Cinta, dan Kematian Ronggowarsito. Sebuah buku yang sayangnya tidak diedit secara baik. Kesannya malah asal terbit.
Sebenarnya saya memiliki satu buku lagi tentang Kyai Mohammad Besari. Sayang, saya belum membacanya secara khusus. Keterbatasan pengetahuan ini membuat saya tidak memiliki khazanah yang cukup untuk merekonstruksi imajinasi di lokasi ini.
Jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul 13.30. Saya kembali ke makam dan tidak ada tanda-tanda pintu makam akan dibuka. Orang-orang yang ada di sekitar masjid memberikan informasi tentang penjaga makam. Kami dianjurkan untuk menghubungi beliau. Namun tampaknya kondisi kurang memungkinkan. Saya pun memutuskan untuk berdoa dari kejauhan.
Waktu semakin sore. Saya harus pulang. Perjalan dari Jetis Ponorogo menuju rumah masih lumayan jauh. Dalam hati saya berdoa semoga suatu saat diberikan kesempatan untuk kembali ke tempat ini dan berdoa di dekat pusara ulama besar tersebut. Semoga Allah mengabulkan. Amin.

Tulungagung, 9 Februari 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar