Kamis, 10 Januari 2019

Dua Buku Bermutu


Ngainun Naim


Sebuah telepon dari resepsionis IAIN Tulungagung mengabarkan adanya paket. “Seperti biasa, Pak. Kayaknya buku”, kata resepsionis di ujung telepon. Tidak seberapa lama paket segera saya ambil. Benar, dua buah buku.
Buku pertama adalah karya Adrinal Tanjung. Buku ini covernya sangat menarik dan judulnya pun sangat keren, Birokrat Menulis 2, Merangkai Kata dengan Cinta. Penerbitnya adalah Meilfa Media Publishing edisi Desember 2018. Kebetulan saya memberikan kata pengantar di buku ini. Saya memberi judul untuk kata pengantar, “Menulis untuk Kebahagiaan”.
Sebelum buku ini terbit, saya sudah membaca dummy-nya secara tuntas. Pembacaan harus saya lakukan karena kebetulan saya diminta oleh Pak Adrinal Tanjung untuk memberikan kata pengantar. Dengan cara demikian saya berusaha menangkap apa saja isi, spirit, dan muatan dalam buku ini.
Bagi saya, Pak Adrinal Tanjung adalah role model dalam menulis. Sebagai birokrat, menulis itu sebuah kelebihan. Lewat buku-buku yang ditulisnya, beliau menunjukkan sesuatu yang berbeda. Jejak langkah seorang Adrinal Tanjung semestinya menjadi teladan bagi kita semua. Jika seorang birokrat yang sedemikian sibuk saja masih bisa menyempatkan menulis, mengapa yang lain tidak?
Menulis sesungguhnya berkaitan dengan komitmen. Jika memang seseorang memiliki komitmen yang sangat kuat, hambatan bukan sebuah persoalan. Justru hambatan dijadikan sebagai tantangan. Persoalan waktu yang sedikit, misalnya, akan dijawab dengan memanfaatkannya seefektif mungkin untuk menulis.
Banyak orang berpikir untuk serius menulis saat waktu senggang atau waktu kosong. Tentu, pemikiran semacam ini penting untuk diapresiasi. Persoalannya, apakah saat senggang bisa menghasilkan tulisan? Tidak selalu begitu. Bahkan banyak yang justru tidak berhasil menghasilkan tulisan karena saat senggang digunakan untuk aktivitas yang lainnya. Pada Pak Adrinal Tanjung, saya belajar banyak tentang bagaimana terus merawat spirit menulis di tengah berbagai hambatan dan tantangan yang ada.

Buku kedua yang saya terima karya Purwantiningsih. Judulnya juga sangat menarik, Ubah Masalah Menjadi Berkah. Buku ini diterbitkan oleh Tinta Medina Solo edisi November 2018. Hampir sama dengan buku Pak Adrinal Tanjung, buku karya Purwantiningsih ini benar-benar masih baru. Beruntung sekali saya mendapatkan buku ini secara gratis.
Secara personal saya belum pernah bertemu sekalipun dengan Purwantiningsih. Tetapi saya pernah memberikan kata pengantar untuk sebuah buku yang ditulisnya. Purwantiningsih adalah seorang guru di Bantul Yogyakarta. Sebagai guru, saya mengapresiasi kreativitasnya dalam menulis. Menulis penting artinya bagi pengembangan profesinya sebagai guru. Juga bermanfaat dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat secara luas. Karena itu dengan senang hati saya menyanggupi ketika beliau meminta saya memberikan kata pengantar untuk bukunya.
Sungguh sebuah kebahagiaan yang tidak terkira karena minggu ini saya mendapatkan dua buah buku bermutu. Buku karya Bapak Adrinal Tanjung dan Purwantiningsih. Jika buku Pak Adrinal Tanjung sudah tuntas saya baca, buku Purwantiningsih masih harus menunggu giliran untuk saya tuntaskan.

Tulungagung, 10-1-2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar