Minggu, 06 Agustus 2017

Pendidikan Islam Berbasis Seni Musik



Oleh Ngainun Naim

Judul Buku: Pendidikan Islam Bernuansa Seni Musik: Menciptakan Suasana Belajar yang Menyenangkan
Penulis: Dr. H. Hasan Basri Tanjung, M.A.
Penerbit: AMP Press
Edisi: Mei 2017
Tebal: xxvi+248 halaman



Salah satu aspek yang menjadi bahan perdebatan sepanjang sejarah Islam adalah tentang musik. Secara diametral terdapat dua kelompok yang berhadapan, yaitu yang membolehkan dan yang melarang. Di antara dua kutub diametral ini terdapat varian unik yang cukup beragam.
Di tengah perdebatan abadi ini sesungguhnya tersimpan potensi akademik untuk ditelusuri secara lebih mendalam. Ya, seni musik sebaiknya tidak ditinjau dari perspektif hukum, tetapi dari perspektif lain yang konstruktif-fungsional. Perspektif semacam ini lebih produktif karena bisa memberikan kontribusi positif bagi kehidupan.
Pada perspektif yang semacam inilah posisi buku karya Dr. H. Hasan Basri Tanjung, MA. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap mereka yang tidak sepakat terhadap seni musik, buku ini berbicara dimensi yang optimis. Telaah akademis dalam balutan teori ilmiah dan dukungan praktis-empiris menjadikan buku ini layak untuk menjadi referensi--bahkan "role model"--bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Buku yang disarikan dari disertasi penulisnya di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor ini terdiri dari tiga bab. Namanya "sari", tentu ada bagian-bagian tertentu yang tidak termuat di buku ini.
Bab pertama bertajuk " Menyiapkan Pendidikan Unggul dengan Seni". Ada empat subbab di dalamnya, yaitu: (1) Pendidikan, Investasi Masa Depan, (2) Dunia Pendidikan di Persimpangan Jalan, (3) Kurikulum Berkeadaban, dan (4) Apresiasi terhadap Seni Musik.
Setelah membaca bab satu dan empat subbab, saya menyimpulkan bahwa keempat subbab memiliki rangkaian dan keterkaitan yang erat. Peran pendidikan saya kira sudah jelas. Semua setuju jika pendidikan itu penting. Semakin banyak warga terdidik berarti investasi kemajuan semakin besar.
Persoalannya, peran penting pendidikan belum terbukti di lapangan. Dunia pendidikan kita masih terlilit persoalan demi persoalan yang cukup rumit.
Pada kondisi semacam ini, dibutuhkan usaha kreatif-dinamis agar bisa keluar dari rumitnya persoalan. Kurikulum berkeadaban menjadi salah satu solusi yang penting dipikirkan. Pada tataran aplikasi, seni musik juga berkontribusi penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Bab dua bertajuk "Seni Musik dalam Perspektif Pendidikan Islam". Bab ini merupakan kerangka teori yang dipakai untuk membedah objek riset. Hasan Basri Tanjung menjelajahi teori demi teori, pendapat yang berada dalam kubu yang berseberangan, dan referensi demi referensi. Secara tekun doktor ahli pendidikan ini menganyam jalinan teori, pemikiran, dan referensi dalam perspektif baru.
Saya cukup menikmati cara dosen dan mubaligh ini menyajikan dalam bahasan. Ringan, mengalir, dan menawan. Cara mengambil posisi di tengah perdebatan abadi hukum seni musik di kalangan ulama saya kira cukup arif. Pada perspektif inilah saya kira buku ini mengisi ruang kosong kajian seni musik perspektif pendidikan Islam.
Bab tiga bertajuk "Model Pembelajaran Bernuansa Musik". Bab ini merupakan aplikasi dari seni musik dalam pembelajaran. Membaca bab ini layaknya membaca buku manual praktis. Tidak rumit. Aplikatif. Dan bisa dicoba.
Pembelajaran yang memanfaatkan seni musik, sebagaimana dilakukan Hasan Basri Tanjung, memiliki peluang yang lebih besar untuk optimalisasi berbagai potensi siswa. Belajar yang dilakukan secara tenang, rileks, dan nyaman sungguh menyenangkan. Lewat buku inilah kita bisa belajar tentang pembelajaran berbasis seni musik.
Sebagai olahan disertasi, Hasan Basri Tanjung, menurut saya, berhasil mengolah menjadi buku yang mengalir. Tidak lagi menonjol bahasa ilmiah yang cenderung kaku.
Jika boleh memberi catatan, aspek editing yang perlu dioptimalkan. Beberapa salah ketik perlu diminimalkan agar lebih nyaman dibaca.
Terlepas dari itu semua, buku ini sangat bermanfaat secara teoretis dan praktis. Jika tidak percayas Anda bisa menghubungi penulisnya untuk membeli buku ini. Salam literasi.

Trenggalek, 24-7-2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar