Jumat, 07 Juli 2017

Mengenal Pemikiran Politik K.H. Sirajuddin Abbas



Judul Buku: Buya KH. Sirajuddin Abbas (Profil dan Pemikiran Politiknya tentang Indonesia)
Penulis: Alaiddin Koto
Penerbit: Rajawali Press Jakarta
Edisi: 2016
Tebal: x+99 halaman
ISBN: 9789797698805
Peresensi: Ngainun Naim



Nama K.H. Sirajuddin Abbas relatif kurang dikenal dalam panggung keislaman kontemporer. Bisa jadi karena beliau telah lama wafat. Selain itu tidak banyak karya tulis beliau yang tersebar luas sampai sekarang.
Bukan berarti K.H. Sirajuddin Abbas tidak berkarya. Karyanya cukup melimpah. Ada cukup banyak buku yang beliau tulis. Salah satunya yang cukup monumental berjudul I’toqad Ahlis Sunnah Wal Jamaah. Buku ini sejak pertama terbit sampai sekarang masih terus dibaca dan dikaji, meskipun tidak sangat terkenal.
Selain karya tulis, faktor lain yang melanggengkan nama seorang tokoh adalah peneliti. Ya, peneliti yang mengulas, mengeksplorasi dan mengembangkan pemikirannya agar diketahui masyarakat secara luas. Semakin banyak peneliti maka semakin seorang tokoh dikenal publik.
Buku karya Prof. Dr. Alaiddin Koto--Guru Besar UIN Sulthan Syarif Kasim Riau—ini menjadi sarana untuk mengenal lebih jauh K.H. Sirajuddin Abbas. Meskipun fokus buku ini adalah pemikiran politik beliau, kita bisa mengenal banyak hal tentang ulama besar dari Sumatera tersebut. Dengan ketebalan hanya sekitar 100 halaman, buku bisa menjadi pengantar ringkas untuk mengenal lebih jauh ulama yang sesungguhnya memiliki kontribusi penting dalam dunia politik di Indonesia sejak merdeka hingga tahun 1970 saat beliau wafat.
Ada lima bab di buku ini. Bab 1, “Pendahuluan”, menjelaskan kegelisahan akademik mengapa penelitian ini dilakukan. Prof. Alaiddin Koto menjelaskan bahwa KH. Sirajuddin Abbas adalah tokoh penting organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Dari tahun 1945-1970, beliau memegang tampuk pimpinan tertinggi saat organisasi ini menjadi salah satu partai politik Islam di Indonesia.
Selain dikenal sebagai ulama Sunni yang mumpuni, KH. Sirajuddin Abbas juga dikenal sebagai politisi kontroversial. Hal ini disebabkan karena kiprah beliau yang keluar dari arus mainstream. Banyak yang menilai bahwa beliau merupakan pribadi yang suka “bermain api” (h. 2). Penilaian ini didasarkan kepada sikap politik beliau yang sangat dekat dengan Presiden Soekarno. Padahal, menjelang tahun 1965, Soekarno sangat dekat dengan PKI. Implikasinya, beliau dituduh sebagai antek Soekarno.
Seiring waktu, tuduhan itu hilang dengan sendirinya. Realitas ini menunjukkan bahwa KH. Sirajuddin Abbas sesungguhnya tidak sebagaimana tuduhan yang diterima. Selain itu, tentu saja, kapasitas dan kualitas dirinya yang memang luar biasa menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan. Selain politisi, beliau juga penulis yang prolifik. Puluhan karya tulis dalam berbagai bidang ilmu telah disusun. Karya tulis yang dihasilkan tidak hanya berhenti sebatas sebagai teori semata melainkan juga menjadi basis aktivitas sehari-hari.
Bab 2 bertajuk “Riwayat Hidup KH. Sirajuddin Abbas”. Bab ini mengulas tentang hal-ikhwal kehidupan tokoh penting Perti ini, mulai kelahiran, pendidikan, perjuangan, dan pengalaman sebagai ulama dan politikus. Membaca bab ini, meskipun ringkas, bisa memberikan informasi bermanfaat tentang sosok Buya KH. Sirajuddin Abbas. Deretan aktivitas, daftar karya tulis, berbagai aktivitas yang melimpah, puluhan negara yang dikunjungi, dan berbagai prestasi yang diraih merupakan bukti nyata kapasitas beliau sebagai figur yang memiliki kiprah besar bagi Perti, umat Islam, dan juga bangsa Indonesia.
Bab 3 berbicara tentang “Teori Umum Politik Sunni”. Kerangka teori ini penting untuk memahami apa, mengapa, dan bagaimana yang dimaksud dengan politik Sunni. Penjelasan tentang teori politik Sunni memudahkan untuk memahami pemikiran politik KH. Sirajuddin Abbas. Hal ini disebabkan karena beliau adalah politisi yang memegang teguh ajaran Sunni. Selain itu, Perti sendiri juga merupakan organisasi secara eksplisit menyebut mengikuti aliran Sunni. Sunni dalam konteks Perti adalah Sunni mazhab Syafi’i. Hal itu menunjukkan bahwa, “...kalangan Perti begitu ketat dalam memelihara sikap kemazahabannya” (h. 39).
Substansi buku ini saya kira ada di Bab 4, “Konsep dan Perilaku Politik KH. Sirajuddin Abbas”. Konsep dan perilaku beliau berkaitan erat dengan konsep yang telah dirumuskan oleh Perti pada kongres VII dan VIII tahun 1953-1955. Sirajuddin berpendapat bahwa, “...kekuasaan yang sesungguhnya berada di tangan Tuhan, sedangkan pemerintah itu hanyalah pelaksana kekuasaan yang ditauliyahkan oleh rakyat” (h. 58). Menurut Alaiddin Koto, konsep Sirajuddin ini sejalan dengan konsep Al-Ghazali dan Al-Mawardhi. “Kata tauliyat yang digunakan oleh Al-Ghazali ternyata juga dipakai oleh Siraj. Agaknya, ini suatu bukti lagi betapa Sirajuddin dan orang-orang Perti betul-betul mempertahankan kesunnian dan kesyafi’iannya” (h. 58).
Namun demikian Sirajuddin juga membaca realitas sosial politik Indonesia. Menurut Sirajuddin, sistem politik yang cocok untuk Indonesia adalah demokrasi. Demokrasi liberal menghadapi tantangan dengan adanya Dekrit Presiden pada tahun 1959. Namun Sirajuddin justru mendukung terhadap kembali ke UUD 1945. Alasannya adalah untuk melaksanakan Demokrasi Terpimpin karena untuk menyelamatkan negara dan Perti (h. 79).
Buku karya Alaiddin Koto ini menjawab berbagai hal terkait dengan pemikiran politik Sirajuddin Abbas, lengkap dengan segala kontroversinya. Meskipun tipis, buku ini berkontribusi penting dalam khazanah keilmuan politik Islam di Indonesia.

Tulungagung, 7-7-2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar