Selasa, 20 Juni 2017

Resensi Atas Resensi



Judul Buku: Book Reviews, Cara Menikmati Buku dan Mengikat Makna
Penulis: Satria Dharma
Penerbit: Pustaka Media Guru, Surabaya
Edisi: Mei 2017
Tebal: vi+226 halaman
ISBN: 9786026166562
Peresensi: Ngainun Naim



Salah satu jenis tulisan di media massa yang pernah saya tekuni adalah resensi buku. Resensi buku merupakan ulasan atas sebuah buku yang dilakukan secara objektif. Setiap media massa memiliki karakteristik resensi khusus. Jika tulisan kita ingin dimuat maka harus mengikuti gaya yang dimiliki oleh media yang dimaksud.
Seorang yang ingin resensinya dimuat sebuah media massa sebaiknya melakukan pengamatan terhadap rubrik media massa yang dituju. Segala sesuatunya diteliti, mulai jumlah kata, jenis buku, hingga model penulisannya. Setelah memahami karakteristik tersebut, segera tulis resensi dan kirim. Gagal satu atau dua kali itu biasa. Terus saja kirim sampai redaksinya memuat.
Resensi di media terikat dengan aturan media yang dituju. Seorang penulis resensi tidak bisa menulis secara bebas. Padahal, sangat mungkin ada banyak hal yang mungkin saja ingin diulas.
Resensi buku yang ditulis secara bebas sesungguhnya sangat menarik. Si peresensi bebas menulis apapun terkait dengan buku yang dibaca. Ia juga tidak terikat dengan jumlah halaman. Perasaan saat menulis pun bisa diungkapkan secara bebas mengalir.
Tentu, media yang memuatnya adalah media sosial semacam facebook atau blog. Justru di media semacam inilah seorang peresensi bebas menulis apapun terkait dengan buku. Dan salah seorang yang melakukannya adalah Satria Dharma.
Pejuang literasi garda depan Indonesia ini rutin menulis apa saja yang diperolehnya usai membaca. Kumpulan resensinya kemudian diterbitkan menjadi buku bergizi ini.
Nah, tulisan yang saya buat ini sesungguhnya mengandung dilema tersendiri. Saya menulis resensi atas buku yang merupakan kumpulan resensi. Jadi ya semacam resensi terhadap resensi. Maka saya pun menjuduli resensi ini dengan judul “Resensi Atas Resensi”.
Buku Satria Dharma ini memiliki struktur sederhana, bukan struktur rumit laiknya buku ilmiah. Setelah “Kata Pengantar” dan “Daftar Isi”, ada 38 judul tulisan. Judul-judul tersebut berisi catatan demi catatan setelah membaca buku. Meskipun berisi 38 judul bukan berarti ada 38 buku yang diresensi. Ada beberapa buku yang resensinya dibuat secara bersambung. Tulisan ke-22,23 dan 24 yang berjudul HOT, FLAT, and CROWDED merupakan apresiasi setelah membaca buku dengan judul itu.
Hal yang sama juga terjadi pada tulisan ke-33, 34, dan 35 dengan judul “Muhammad Yunus dan Grameen Bank” dan tulisan ke-37 dan 38 dengan judul “Aku Beriman Maka Aku bertanya”.
Membaca halaman demi halaman buku ini sungguh menyenangkan. Ada begitu banyak informasi berlimpah yang dihadirkan oleh Satria Dharma. Tulisan ketiga yang berjudul “29 Gifts: Keajaiban Memberi 29 Hari” sungguh mengesankan. Buku yang ditulis oleh Cami Walker tersebut bercerita bagaimana Cami yang menderita Multiple Sklerosis—penyakit autoimun yang menyebabkan kerusakan saraf tulang belakang, mengalami transformasi hidup dari keterpurukan menuju kebangkitan.
Transformasi tersebut berasal dari nasihat guru spiritualnya, Mbali Creazzo. Menurut gurunya, Cami Walker diminta untuk melakukan pemberian selama 29 hari tanpa putus. Meski awalnya ragu, Cami pun menuruti nasihat tersebut. Satria Dharma menulis:

Cami Walker menceritakan bahwa pada akhirnya 29 Gifts lebih dari sekadar pemberian. Ini juga sebuah pembelajaran untuk menerima hidup, pembelajaran untuk bersyukur, pembelajaran untuk berfokus kepada orang lain dan membantunya menyembuhkan diri dari penyakitnya yang parah tersebut (h. 13-14).

Tulisan ketujuh, “Connect”, menghadirkan semangat untuk meraih sukses. Tulisan yang merupakan resensi atas buku karya Keith Harrell dan Hattie Hill tersebut menarik karena menghadirkan perspektif baru tentang sukses. Satria Dharma menulis bahwa sukses ditentukan oleh seberapa terhubung kita dengan kehidupan orang-orang lain di sekitar kita (h. 32).
Perspektif ini menarik karena menghadirkan wawasan agar sukses tidak mengabaikan peran orang lain. Semakin bagus relasi dengan orang lain maka peluang sukses akan semakin besar. Manusia yang mengasingkan diri kecil kemungkinannya untuk bisa sukses.
Tulisan lain yang menarik adalah tulisan kesebelas yang berjudul “Staying Sane in a Crazy World”. Ada bagian tertentu dari ulasan Satria Dharma yang saya kira penting untik dikutip adalah:

Meski demikian saya menganjurkan untuk melatih otak kita dengan membaca buku dan menulis. Menulis itu benar-benar merupakan sebuah latihan yang akan dapat membuat otak kita bukan hanya lentur dan berkembang tapi juga membuat kita semakin kreatif. Tentu saja buku yang kita baca haruslah buku yang benar-benar menantang kita secara intelektual (h. 47).

Cara membaca yang dilakukan Satria Dharma sungguh unik. Jika menemukan bacaan yang menarik maka ia tidak mau segera menyelesaikannya. Ia menganjurkan untuk membaca slow and enjoyful. Hal itu penting dilakukan agar saat membaca kita bisa menikmati setiap ‘gigitan’ kalimat dan paragraf yang kita baca (h. 54).
Karena begitu menikmati terhadap bacaan, Satria Dharma tidak jarang ikut tertawa, merasa sedih, bahkan menangis (h. 75). Buku yang sudah habis dibaca pun kadang tidak terasa karena begitu asyiknya membaca (h. 137). Tapi pada saat lain ia tidak mampu menyelesaikan bacaan sekali duduk. Emosinya sudah teraduk oleh penangkapannya terhadap teks yang dibaca. Ia merasakan marah, terguncang, bahkan sesak nafas (h. 164).
Buku karya Satria Dharma ini saya selesaikan dalam beberapa hari. Saya menikmati betul catatan demi catatan pendiri Ikatan Guru Indonesia ini.
Jika boleh memberikan catatan, ada beberapa hal yang saya kira bisa dilengkapi untuk edisi cetak ulang buku ini. Pertama, data buku yang diresensi penting dihadirkan di bawah judul. Data tersebut mencakup judul buku, nama penulis, penerbit, tebal halaman, edisi. Adanya data (dan juga foto cover buku) memudahkan pembaca untuk melacak buku yang diulas.
Kedua, biodata penulis saya kira juga penting untuk dilampirkan di halaman akhir buku agar mengetahui secara baik tentang penulis buku. Saya kira tidak semua pembaca mengenal Pak Satria Dharma he he he. Dan ketiga, perlu editing karena ada beberapa yang salah ketik.
Terlepas dari beberapa catatan tersebut, buku ini sangat penting dibaca karena isinya yang penuh energi. Setelah membaca buku ini Anda akan menemukan energi baru untuk membaca dan mengikat makna dari bacaan Anda.

Tulungagung, 20 Juni 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar