Rabu, 14 Juni 2017

Mengolah Diri untuk Merengkuh Bahagia



Penulis: M. Nurroziqi
Judul Buku: Jalan Kebahagiaan: Menikmati Kebaikan, Meraup Keberkahan, Penerbit: Quanta, Jakarta
Edisi: 2017
Tebal: xvi+172 halaman
Peresensi: Ngainun Naim




Saya mengenal M. Nurroziqi—penulis buku ini—sekitar tahun 2015. Saat itu saya sedang mengisi acara kepenulisan di Tuban. Beberapa hari sebelum acara dia inbox di facebook dan berkomunikasi tentang berbagai hal. Saat acara, dia menemui saya sekitar setengah jam.
Tidak banyak yang saya perbincangkan dengan pria sederhana tersebut. Rupanya pertemuan di Tuban itu hanyalah sebuah pertemuan pembukaan. Beberapa waktu kemudian saat ada Kopdar Sahabat Pena Nusantara (SPN) Pertama yang digelar di Pesantren An-Nur Bululawang Malang, kami bertemu kembali.
Saya kira setiap Kopdar SPN dia selalu datang. Empat kali Kopdar dia selalu datang. Dan berarti selalu bertemu dengan saya, kecuali pada Kopdar ketiga di Bondowoso karena saya tidak bisa datang.
Kopdar SPN keempat yang digelar di Rektorat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada 18 Mei 2017 mempertemukan kami kembali. Pada kesempatan tersebut M. Nurroziqi memberikan hadiah buku ini. Terima kasih untuk M. Nurroziqi atas hadiah buku mencerahkan ini.
& & &
Bahasan utama buku ini adalah aspek yang sangat mendasar kehidupan manusia yaitu bahagia. Ya, bahagia menjadi tujuan hidup semua manusia. Segala aktivitas hidup manusia sesungguhnya dilakukan dalam kerangka mencapai bahagia. Namun demikian tidak semua manusia bisa mendapatkan bahagia. Banyak orang yang gagal menemukan bahagia yang hakiki.
Bahagia sesungguhnya menjadi objek kajian banyak bidang ilmu. Psikologi, sosiologi, ekonomi, dan agama menempatkan bahagia sebagai salah satu bidang kajian secara serius. Masing-masing ilmu memiliki definisi, tolok ukur, kriteria, dan juga strategi untuk mencapai bahagia.
Buku yang ditulis oleh M. Nurroziqi ini tidak mengikuti kerangka berpikir ilmiah yang ketat. Namun jangan salah. Buku ini justru secara intrinsik mengulas—ada yang langsung dan ada yang tidak—bahagia dari berbagai perspektif. Ditulis secara ringan dan mengalir menjadikan buku ini sarat dengan hikmah dan manfaat.
M. Nurroziqi menawarkan perspektif positif dalam menghadapi setiap fenomena, baik positif maupun negatif. Bisa dikatakan bahwa buku ini merupakan ikhtiar mengolah diri yang penting bagi manusia yang tumbuh dan berkembang. Nurroziqi mengajak kita untuk terus mengasah diri agar menjadi manusia yang semakin hari semakin baik.
Contoh cara pandang positif adalah perspektif terhadap persoalan. Jika umumnya orang menghadapi masalah dengan menyalahkan orang lain, maka Nurroziqi mengajak kita bersikap bijak. Saat masalah datang seharusnya yang pertama-tama dilakukan adalah instropeksi terhadap kesalahan yang kita lakukan, bukan mencari kesalahan orang lain. Masalah seharusnya dimaknai sebagai media agar kita selalu istiqamah dalam kebajikan. Aspek yang justru sangat fundamental adalah masalah sesungguhnya merupakan media bagi kita untuk selalu dekat kepada Allah. “...di dalam setiap permasalahan itu terkandung sarana untuk meningkatkan kualitas diri manusia” (h. 7).
Saya suka pada cara berpikir M. Nurroziqi. Ia bersikap kritis terhadap pemahaman yang selama ini telah mapan. Hal ini bisa dilihat dilihat pada caranya memahami “ujian” dan “anugerah”. Ia menulis, “Segala apa yang diinginkan dan dibutuhkan serba terpenuhi. Hal semacam ini, lebih seringnya disebut sebagai wujud anugerah. Pembatasan definisi yang sulit sebagai ujian, yang mudah sebagai anugerah. Jika yang membahagiakan disebut anugerah, dan yang menyedihkan dinamakan ujian, adalah sesungguhnya batas paling dangkal kepahaman manusia di dalam menyikapi atas apa yang telah menimpa diri manusia itu sendiri” (h. 19).
Model pemahaman Nurroziqi ini menarik, bahkan bisa dikatakan dekonstruksionis, meminjam terminologi pemikir Muslim Prancis, Mohammaed Arkoun. Hal ini terlihat pada kesimpulannya. “Jika sudah demikian, maka sesungguhnya sudah tidak ada beda antara anugerah dan ujian, bagi yang memahami akan maksud dan tujuan dari segala apa yang ditimpakan Allah Swt., kepada manusia untuk dijalankan. Pada ujian, terdapat sebuah anugerah yang luar biasa” (h. 20-21).
Bab 2 buku ini, “Meneguhkan Kebaikan”, memberikan banyak manfaat bagi saya, khususnya dalam ilmu parenting. Di buku ini dijelaskan bahwa anak penting diposisikan secara tepat di keluarga. Ada beberapa alasan mengenai posisi penting anak. Pertama, anak adalah amanah Allah Swt. Salah sedikit saja dalam menjaga amanah, akibatnya tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Karena itu manusia harus sepenuh hati menjaga diri dan seluruh keluarga. Kedua, anak merupakan bibit amal jariah keluarga. Ketiga, anak sebagai hamba Allah dan umat Muhammad. Dan keempat, siklus hidup yang saling merawat (h. 57-59).
Pada bagian yang lain Nurroziqi menegaskan tentang peran penting orang tua. Menurut Roziqi, ibu bisa diibaratkan sebagai madrasah bagi anak-anaknya, sedangkan ayah adalah kepala sekolah. Peran ini menunjukkan bahwa dalam pendidikan seorang anak, ayah dan ibu harus menjadi baik agar bisa diteladani oleh anak-anaknya (h. 64).
M. Nurroziqi juga menyoroti hadirnya internet. Selain sisi positif, ia juga mengkritik eksploitasi berlebihan sisi kehidupan sehari-hari. Akibatnya, aspek alami dalam kehidupan menjadi hilang. Karena itu dalam era modern ini Nurroziqi menawarkan tiga langkah penting dalam menghadapi era modern. Pertama, mengenal diri sendiri secara baik. Kedua, memahami dengan benar segala sesuatu yang ada di luar diri. Dan ketiga, memiliki benteng yang kuat, termasuk kecermatan dalam mengukur dan mempertimbangkan setiap hal (h. 95).
Membaca keseluruhan isi buku ini akan memberikan perspektif yang lebih arif dalam memahami setiap persoalan. Kearifan ini hanya mungkin bisa diraih dengan mengolah diri secara terus-menerus. Muaranya adalah terwujudnya bahagia.
Buku karya anak muda kreatif asal Tuban ini penting untuk dibaca, ditelaah, dan dikontekstualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Saya yakin Anda sekalian akan menemukan banyak ilmu dan hikmah dari buku bergizi ini. Buku ini tersedia di jaringan Toko Buku Gramedia dan toko-toko buku besar di Indonesia. Selamat berburu buku dan membaca.

Trenggalek, 13 Juni 2017.

2 komentar:

  1. Wow..ternyata mas M. Nurroziqi ini seorang penulis asal Tuban ya, pak?
    Wah... Tulisan dalam bukunya sangat menginspirasi sekali mengenai posisi anak dalam keluarga. Dan juga soal menghadapi era internet seperti saat ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mas. Beliau asli Tuban. Aktif menulis buku.

      Hapus