Jumat, 09 Juni 2017

Memotret Realitas Secara Cerdas



Judul Buku: Seribu Senyum dan Setetes Air Mata
Penulis: Myra Sidharta
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Edisi: Maret 2015
Halaman: xvi+328 halaman
Peresensi: Ngainun Naim



Apakah teman-teman sekalian mengenal penulis Myra Sidharta? Jika belum silahkan mencarinya di Google. Anda akan memperoleh informasi yang memadai tentang beliau.
Myra Sidharta adalah seorang psikolog, pakar sastra Tionghoa Melayu, dan juga kolomnis. Karyanya tersebar di berbagai media. Buku-bukunya bertebaran di berbagai toko buku, termasuk buku yang sedang saya ulas ini.
Jujur ini merupakan buku pertama yang saya miliki dari karya perempuan yang menguasai beberapa bahasa ini (Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Mandarin, dan Indonesia). Awalnya saya melihat cover buku yang diposting oleh Ngadiyo, pemilik toko buku Diomedia Solo, di facebook. Kebetulan dia sedang membikin diskon; beli 1 buku gratis 1. Saya memilih buku Myra Sidharta dengan bonus novel Arafat Nur, Tempat Paling Sunyi. Setelah saya melakukan pembayaran, buku kemudian dikirim.
Buku ini merupakan kumpulan artikel beliau di berbagai media massa sepanjang tahun 1983-2011. Penerbitan buku ini pada tahun 2015 sekaligus sebagai perayaan ulang tahunnya yang ke-88. Tentu ini merupakan buku luar biasa dari seorang ahli yang menekuni bidang keilmuan sampai usia senja. Sampai usia yang mendekati 90 tahun, beliau masih terus membaca, meneliti, dan menulis.
Buku yang sedang saya ulas ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian pertama bertajuk “Handai Tolan”. Bagian kedua judulnya cukup unik, yaitu “Perantau Merantau”. Bagian ketiga berjudul “Sisi Lain Renungan”. Dan bagian keempat judulnya “Menjelang Senja”. Pembagian ini saya kira untuk mengumpulkan tulisan yang memiliki tema berdekatan. Sebagai kumpulan artikel, tentu tidak mudah berada dalam alur tema tertentu. Tema bersifat umum dan disesuaikan dengan konteks ketika pembuatan.
Perspektif psikologi dan kisah tentang orang Tionghoa cukup mewarnai isi tulisan demi tulisan di buku ini. Saya kira wajar karena konteks eksistensi pemikiran seseorang dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan, pendidikan, lingkungan, dan hal-hal yang menarik minat perhatiannya. Hal tersebut tampaknya berlaku pada Myra Sidharta. Ia merupakan seorang ilmuwan yang berlatarbelakang psikologi dan menekuni kajian kebudayaan Tionghoa, khususnya sastra.
Apa yang ditulis tidak semuanya baru, tetapi ia mampu menyajikannya secara menarik dan memberikan perspektif berbeda. Bahasanya sederhana, mudah dipahami, dan menyelipkan humor di bagian-bagian tertentu. Bukan berarti semuanya bercerita tentang hal yang membahagiakan. Ada juga tulisan penuh kesedihan. Namun demikian Myra Sidharta berusaha menghapus kesedihan yang ada dan mengubahnya menjadi kebahagiaan. Saya kira spirit itu terbaca dari judul buku ini, Seribu Senyum dan Setetes Air Mata.
Kita bisa menyimak hal semacam ini pada artikel yang berjudul “Mencari Rumah Nenek Moyang di Tiongkok”. Myra adalah generasi ketiga yang menempati bumi Indonesia. Kakeknya berasal dari Tiongkok. Irama kehidupan yang dinamis memaksa kakeknya merantau ke Indonesia. Dan yang menyedihkan, demi perjalanan itu kakeknya harus ‘menggadaikan’ adiknya.
Myra menulis dengan dinamika naik-turun. Terlihat sekali ia menulis dengan keterlibatan emosi yang tinggi. Saya kira itu wajar karena melihatkan kehidupan kakeknya. Justru karena itulah ia ingin melacak jejak nenek moyangnya.
Perjalanan menuju Meixian, kota kelahiran almarhum kakeknya diuraikan secara panjang lebar. Paparan Myra Sidharta mengalir lancar. Terlihat bagaimana karakter keilmuan dalam tulisannya. Selain mempersiapkan aspek teknis, ia juga melakukan dua hal. Pertama, mencari buku tentang silsilah keluarga. Dan kedua, belajar tentang sejarah orang Hakka. Modal tersebut berperan sangat penting dalam memperlancar kegiatannya mengunjungi tanah leluhur. Ada bagian dari tulisan tentang berkunjung ke tempat leluhurnya tersebut yang menunjukkan karakter kuat tulisan Myra Sidharta. “Kapal terbang yang saya tumpangi tidak besar dan hanya dapat mengangkut 48 penumpang. Keadaannya sudah jelek, seperti opelet tua dan baling-balingnya sudah karatan. Tentu saja saya sangat cemas ketika terombang-ambing di udara. Tetapi perasaan ini hilang, waktu saya mengingat cerita kakek almarhum mengenai perjalanannya ke Indonesia.
Waktu itu ia juga mengalami cuaca buruk dan ia selalu menceritakan dengan penuh semangat, bagaimana kapal layarnya diombang-ambingkan ombak setinggi rumah dan bagaimana ia hampir tenggelam karena sudah tidak kuat lagi memegang tali layar (h. 16). Begitulah cara Myra membalik kesedihan dengan optimisme. Sebuah cara yang saya kira sejalan dengan posisinya sebagai seorang psikolog.
Perspektif psikologi juga menarik saat Myra menganalisis tentang perjudian. Hal ini bisa kita kita simak pada artikel dengan judul “Judi dalam Cahaya Ilmu Jiwa”. Saya mendapatkan perspektif yang mencerahkan dari artikel ini. Judi, menurut Myra, merupakan aktivitas sangat kompleks dan tidak dapat dipahami secara rasional. Pendekatan psikoanalisis dengan menelisik jiwa tak sadar yang digunakan dalam tulisan ini bisa sedikit mengurai tentang fenomena judi. Salah satu perspektif menarik menyebutkan bahwa judi diibaratkan oleh Myra seperti buang hajat. Menghabiskan uang dapat dilihat sebagai buang hajat dan rasa lega yang ditimbulkannya setelah itu.
Tulisan dengan judul “Apa Salahnya Bekerja Keras?” menggelitik untuk disimak. Pada paragraf ketiga Myra menulis, “Mereka telah mengorbankan beberapa tahun kehidupan mereka dengan belajar, kemudian mereka mengorbankan sisa kehidupan mereka dengan bekerja tanpa pamrih. Namun, mereka tidak menyesal dengan pekerjaan mereka. Mereka mungkin bisa mengumpulkan sedikit uang, tetapi jelas tidak akan bisa masuk dalam daftar nama orang terkaya di Asia yang disusun oleh majalah Fortune (h. 40-41).
Myra juga berbagi kiat sukses bekerja, yakni menemukan pekerjaan yang menyenangkan dan pekerjaan tersebut dihormati oleh orang lain. Bagian penutup tulisan sungguh mengesankan. “Bekerja giat dengan penuh kecintaan, percayalah, akan membuat hidup lebih bahagia” (h. 47).
Banyak istilah unik yang digunakan Myra Sidharta di buku ini. Tentu, membacanya membuat tersenyum. Misalnya saat menceritakan lelaki tua yang mencintai wanita muda, ia menulis membuat metafor “seekor kambing tua masih doyan kambing muda”. Di saat lain ia menulis dengan istilah yang tidak kalah lucu, yaitu “manusia musim semi” dan “manusia musim rontok” (h. 73).
Pada esai yang berjudul “Hobi Istri Gerutu Suami” diuraikan banyak kasus. Salah satunya seorang suami yang mengadukan hobi belanja istrinya yang berlebihan kepada Prof. Valentino dalam suatu seminar. Jawaban Prof. Valentino cukup menghentak kesadaran. “Menurut saya, yang tidak dapat cukup kasih sayang dari manusia, akan mencurahkan kekurangan itu kepada benda-benda. Maka, cobalah memberikan kasih sayang kepadanya. Sedikit perhatian saja sudah cukup” (h. 84).
Aspek penting yang saya kira sekarang ini semakin jarang dilakukan orang adalah menulis surat. Era sekarang saya kira memang sudah berkembang pesat dibanding era ketika artikel berjudul “Pos Sampah” dibuat, yaitu tahun 1993. Saat itu saja Myra sudah membuat tulisan yang saya kira cukup kritis, yaitu tentang menulis surat.
Myra secara intrinsik mengajak kita semua untuk rajin menulis surat. Ia mengambil contoh RA Kartini yang dinilainya sebagai fenomenal. Tokoh lain yang juga rajin menulis surat adalah Psikolog Sigmund Freud. Meskipun memiliki kesibukan yang sangat tinggi, Freud ternyata mampu menyisihkan waktunya untuk menulis ribuan surat kepada para pasiennya dan para rekannya. Surat yang ditulis dapat menjadi media untuk melacak jejak perkembangan pemikiran dan aktivitas Freud dari waktu ke waktu.
Pada bagian akhir tulisannya Myra Sidharta menulis dengan nada galau. Menurutnya, generasi sekarang bukan generasi yang gemar menulis. Mereka gemar mengangkat telepon dan gemar berbicara selama berjam-jam. “..entah bagaimana generasi mendatang memperoleh data, bila mereka mau menulis biografi atau sejarah” (h. 122). Jika ditarik ke konteks sekarang, generasi muda lebih suka bermain gadget daripada menulis.
Banyak hal unik yang mewarnai isi buku ini. Saat dalam perjalanan menuju Amsterdam, misalnya, Myra Sidharta duduk satu kursi dengan orang Belanda. Terjadilah perbincangan antara mereka berdua. Persoalan pertama yang dibincangkan tentu hal yang bersifat pribadi, sekitar nama, tempat tinggal, dan sebagainya. Saat Myra menyatakan bahwa ia tinggal di Jakarta, teman sebangku tersebut berkata dengan seru:
“Jakarta!” ia berseru, “mana mungkin? Jakarta begitu kotor dan begitu banyak pengemis, saya tidak mengerti bahwa ada orang yang bisa hidup di kota itu.”
Tentu bukan rahasia lagi bahwa siapa pun tidak suka bila negara atau kotanya dikritik, meskipun sebetulnya setuju dengan pendapat pengkritik. Jadi saya juga siap mempertahankan Jakarta tercinta. Saya mengatakan bahwa pasti banyak yang tidak setuju dengan pendapatnya sebab jutaan orang yang tinggal di Jakarta sepakat bahwa kota itu nyaman. Bukankah Jakarta merupakan kota dengan cahaya cemerlang dan berkembang pesat? Begitulah, Myra kemudian menyerang balik si Belanda (h. 135).
Kartu undangan pernikahan yang sederhana pun di tangan Myra Sidharta menjadi fenomena yang menarik untuk diamati. Salah satu yang ia cermati adalah tulisan di kartu undangan yang berbunyi, “Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, kami akan lebih berbahagia bila tanda kasih sayang yang diberikan tidak berupa cenderamata atau karangan bunga” (h. 165). Tulisan ini menarik karena meneropong tentang banyak hal secara kritik dan eksentrik.
Saya suka tulisan Myra Sidharta yang berjudul “Di Balik Kecanggihan Barang Elektronik”. Di tulisan ini diceritakan tentang wawancara Myra dengan penulis buku silat fenomenal Kho Ping Hoo yang pernah menulis 200 judul cerita dalam hidupnya. “Saya tidak pernah menggunakan komputer. Saya mempunyai mesin tik yang sedang, yang bisa dibawa ke mana-mana dan saya membawanya kalau saya ke tempat peristirahatan saya di Tawangmangu. Semua buah karya saya diciptakan dengan alat ini. Saya menyukai irama dan bunyinya yang memberikan inspirasi kepada saya, maka saya bisa bekerja cepat. Di depan komputer saya merasa sepi dan blonesome. Pikiran saya menjadi blank” (h. 172-173).
Begitulah, hal-hal sederhana dan biasa diteropong secara cerdas oleh Myra Sidharta. Kita layak belajar banyak kepada perempuan energik yang terus berkarya hingga usia senja. Menurut pengakuannya, ia puas dengan menulis. “Saya bukan kolomnis besar, tidak kaya, tetapi saya puas karena nama saya “masuk” surat kabar atau majalah tertentu dan “masuk”-nya bukan sekadar di iklan duka cita, melainkan sebagai penulis artikel” (h. xi-xii).


Tulungagung, 9 Juni 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar