Rabu, 31 Mei 2017

Jejak Orang Tua dalam Kehidupan



Judul Buku: Berkah Kehidupan, 32 Kisah Inspiratif tentang Orangtua
Editor: Baskara T. Wardaya
Penerbit: Gramedia Jakarta
Edisi: 2011
Tebal: xiii+394 halaman
Peresensi: Ngainun Naim



Buku ini sesungguhnya sudah cukup lama saya miliki. Di dalam buku tertulis bahwa saya membeli buku ini di Pameran yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Trenggalek pada 17-8-2015. Sudah cukup lama. Namun kesempatan membacanya baru sekarang ini.
Saya tidak perlu mencari alasan pembenar mengapa baru membaca sekarang. Sesungguhnya saya ingin segera menuntaskan membaca setiap buku yang saya miliki. Tetapi waktu dan kesempatan tampaknya kurang mendukung. Padahal, buku demi buku terus saja berdatangan tanpa jeda. Implikasinya, antara buku yang saya baca dengan jumlah buku yang saya miliki tidak seimbang.
Mungkin Anda bertanya mengapa saya mengulas buku yang terbit cukup lama ini? Ya, buku ini terbit enam tahun lalu. Jadi memang cukup lama. Ulasan buku biasanya memang memprioritaskan pada buku-buku baru.
Sengaja saya membuat ulasan sederhana ini sebagai bagian dari komitmen pribadi dalam mengikat makna. Setelah membaca buku, apapun temanya dan kapan edisinya, saya ingin mengikatnya dalam catatan sederhana semacam ini. Insyaallah catatan semacam ini memberikan manfaat, paling tidak buat saya sendiri.  Jadi saya lebih berpikir tentang kemanfaatan, bukan hanya berdasarkan pertimbangan edisi paling barunya.
Buku yang diedit oleh sejarawan kritis Indonesia ini, Baskara T. Wardaya, awalnya ditujukan sebagai apresiasi dan persembahan untuk peringatan 50 tahun pernikahan orang tuanya. Namun dengan berbagai pertimbangan, Baskara akhirnya mengundang para koleganya untuk ikut menulis. Maka jadilah buku yang sarat pengalaman, pemaknaan, dan penghayatan terhadap kehidupan ini.
Buku ini menarik karena memuat kisah relasi seorang anak dengan orang tuanya. Ada kisah yang mengharu-biru, penuh perjuangan, ketegangan, dan sarat inspirasi. Saya kira Baskara T. Wardaya benar saat di pengantar buku ini menulis bahwa unsur orang tua sangat banyak di dalam diri kita. Semua itu harus kita hargai sebagai bagian dari kehidupan. Baskara menegaskan bahwa orang tua telah menanamkan benih kehidupan. Tugas kita sebagai anak adalah menyemainya agar benih tersebut dapat menjadi pohon yang tumbuh subur.
Penjelasan Baskara ini menemukan pembenarannya pada kisah banyak penulis di buku ini. Buku ini terbagi menjadi lima bagian. Bagian pertama bertajuk, “Orangtuaku, Sahabatku”. Pada bagian ini ada enam tulisan, yakni Hendro Sangkoyo menulis “Teman di Saat-saat Sulit”, M. Imam Aziz menulis “Memberi Kebebasan pada Anak”, Ery Seda menulis “Hidup yang Bermakna”, Hilmar Farid menulis “Dua Manusia Merdeka”, Ita Fatia Nadia menulis “Bapak dan Ibu di Tengah Pusaran Politik”, dan Mathias Hammer menulis “Cain, Where is Your Brother?”.
Enam tulisan di bagian ini menarik semua. Tentu tidak mungkin saya uraikan satu persatu. Saya ambil contoh tulisan Hendro Sangkoyo, Ph.D., seorang kepala “Sekolah Terbuka” Ekonomika Demokratik. Hendro menulis bahwa ia banyak belajar dari kedua orang tuanya. Dari ibunya ia belajar bagaimana sangat tenang menghadapi situasi model apapun, sedangkan dari bapaknya ia belajar tentang ketegasan. Perpaduan dua karakter yang sangat menarik. Pada saat kecil, tidak mudah bagi Hendro memahami dua perbedaan karakter tersebut. Seiring perkembangan waktu, ia berusaha mensintesiskan kedua karakter, yakni berusaha meneladani ketenangan-ketegasan dan menerjemahkannya dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Para penulis lainnya, meskipun memiliki konteks cerita sendiri-sendiri, juga memiliki pengalaman interaksi model sahabat dengan kedua orang tuanya. Hilmar Farid bercerita panjang lebar tentang ayah ibunya. Hubungan dirinya dengan kedua orang tuanya mengalami fase yang disebutnya naik turun. Namun demikian secara luas ia menyebut bahwa ia belajar banyak kepada kedua orang tuanya. “Dari Ayah, saya belajar segala yang berurusan dengan pengetahuan, mulai dari bahasa sampai cara berpikir. Dari ibu, saya menyerap soal-soal yang berkaitan dengan pandangan dan sikap hidup” (h. 37).
Bagian kedua buku ini bertajuk “Orangtuaku, Guruku”. Pada bagian kedua ini ada tujuh tulisan, yakni Kamala Chandrakirana, “Berguru”, Franz Magnis-Suseno, “Orangtua yang Saya Ingat”, Mudji Sutrisno, “Ayahku Guru dan Ibuku Rahim Syukur”, B. Herry-Priyono, “Dalam Tegangan Dua Karakter”, Fadjar I. Thufail, “Belajar dari Perbedaan”, St. Sularto, “Kisah Itu Abadi”, dan Baskara T. Wardaya, “Membantu Tanpa Mengharap”.
Menurut saya, semua tulisan di bagian ini sama-sama menarik. Saya ambil contoh adalah kisah Mudji Sutrisno, budayawan yang menyukai etika dan estetika. Beliau menyebut bahwa hal mendasar yang sangat mengesankan dari ayahnya adalah kesederhanaan. Kesederhanan mewujud pada semua hal. Ia betul-betul mendalami makna kesederhanaan ini sehingga pasar yang menjadi transaksi ekonomi orang-orang sederhana menjadi tempat yang sangat mengesankan baginya.
“Pasar mengajarkan bahwa makanan yang dijual adalah hasil kerja berkeringat dan diolah dengan cucuran air mata. Sentuhan makanan para pedagang kecil perlu disadari, dihayati dan dimaknai saat mengkonsumsinya. Kesadaran seperti ini bisa menjadi awal mula dari simbolisasi untuk bergerak menuju ke pasar kehidupan dan tidak hanya berhenti untuk khusuk masuk-asyik di “altar” saja” (h. 104).

B. Herry-Priyono memiliki kisah yang sangat impresif. Ayah dan ibunya, sebagaimana kisah orang tua Hendro Sangkoyo, memiliki karakter yang bertolak belakang. Ayahnya adalah sosok yang sangat setia dan tekun dalam menjalankan tugas. Tidak pernah ia mendengar kata mengeluh dari mulut ayahnya. Sementara ibunya sangat cekatan, kata-katanya tajam dan ekspresif, simbol dan metafornya modern dan urban. Realitas ini bisa diposisikan sebagai perpaduan atau mungkin pertentangan.
Lama B. Herry-Priyono belajar tentang hal ini. Ia sejak kecil sering tersiksa menghadapi dua rentang karakter yang bertolak belakang tersebut. Seiring waktu, semua itu bisa teratasi. “Hanya lambat-laun saya memeluknya sebagai sesuatu yang mengesankan, saya tidak harus memilihnya salah satu, tetapi hanya menghidupi tegangan keduanya” (h. 113).
Kemampuan “menghidupi tegangan keduanya” tidak datang secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari interaksi dan proses belajar yang panjang. Justru pada titik itulah kehidupan menjadi sarat dengan makna.
Bagian ketiga berjudul “Orangtuaku, Inspirasiku”. Pada bagian ini ada enam tulisan, yaitu: Asvi Warman Adam, “Di Antara Dua Dunia”, Ayu Utami “Memberi Kepenuhan”, Celia Lowe, “So Far Away from Boston”, F. Budi Hardiman, “Tidak Berutang”, Colin Cahill, “In Black and White”, dan Yosef Djakababa, “Komitmen untuk Saling Mencintai”.
Sejarawan Asvi Warman Adam menulis tentang bagaimana sejak kecil ia telah hidup dalam lingkungan majemuk. Kehidupan masa kecil Asvi Warman Adam di Bukittinggi sudah terbiasa dengan hubungan antaragama. Ia sendiri dari SD—bersama adik-adiknya—sekolah di sekolah Katolik, meskipun beragama Islam. Pertimbangannya karena sekolah Katolik sangat disiplin, sedangkan sekolah negeri gurunya banyak yang terlibat politik (saat Orde Lama) sehingga mengabaikan tugas pokoknya. Lingkungan sehari-harinya juga dekat dengan gereja dan suku lain, termasuk etnis Cina. “Jadi kehidupan saya dipenuhi oleh dialektika antara adat dan Islam, antara Islam dan Katolik, antara pribumi dan Tionghoa, antara kampung dan rantau, serta ketimpangan antara Jawa dan luar Jawa. Dan juga dialektika antara orang asing dan sesama bangsa. Dialektika itu melahirkan sikap kritis” (h. 161).
Lingkungan majemuk semacam itu menemukan momentum pembentukan karakter Asvi Warman Adam yang semakin kokoh dari kedua orang tuanya. Diakuinya bahwa ibunya adalah orang yang penyabar, sementara ayahnya dinilai sebagai orang yang sangat disiplin dan kritis. Pengaruh kritis ayahnya terbawa dalam bidang sejarah ia tekuni. Namun pengaruh ibunya juga mempengaruhi dirinya. Dalam catatan penutup, catatan Asvi Wardaman Adam menulis, “Tapi setelah melakukan kritik, lalu mau apa? Ya bersabar seperti dicontohkan oleh Ibu saya” (h. 165).
Tentang bagaimana menjalani hidup dan mencintai diuraikan secara menarik oleh ahli filsafat Dr. F. Budi Hardiman. Pakar Habermas tersebut menyatakan bahwa orang tuanya yang menanamkan tentang keberanian untuk menjalani kehidupan yang penuh dinamika ini. Selain itu, orang tuanya juga mengajarkan tentang bagaimana mencintai dalam maknanya yang luas.
Ada aspek yang saya kira menarik dari paparan F. Budi Hardiman, yaitu tentang bagaimana memahami orang tua. Dunia, perspektif, dan paradigma orang tua yang berbeda dengan anak seringkali berujung pada ketegangan, bahkan konflik. Kondisi itu dapat diminimalisir atau bahkan dicegah jika orang tua dipahami dengan hati, bukan dengan kepala (h. 178).
Karakter orangtua F. Budi Hardiman yang saya kira penting untuk dihadirkan dalam konteks kehidupan sekarang ini adalah mereka berusaha keras dalam hidupnya untuk tidak berhutang. Ya, ayahnya sangat tegas tentang persoalan ini. Di tengah kehidupan masyarakat sekarang yang secara sistemik membuat seseorang begitu mudah terjerat hutang, ajaran orangtua F. Budi Hardiman seperti oase di tengah padang pasir.
Bagian empat buku ini bertajuk “Orangtuaku, Motivasiku”. Penulis bagian ini adalah Benedict Anderson “Djangan Pukul Orang Jang Lebih Lemah”, Djoko Pekik “Empat Puluh Hari Setelah Bung Karno”, George J. Aditjondro “Antisogok dan Cinta Budaya”, P. Wiryono Priyotamtama “Berani Hidup Melawan Segala Rintangan”, Stanley Adi Prasetya “Mereka Bagaikan Busur Kehidupan”, dan Degung Santikarma “Anak, Orang Tua dan Tragedi ‘65”.
Saya terpesona dengan cara bertutur Benedict Anderson. Tulisan Ben saya jadikan sampel untuk diulas. Ia menulis menggunakan ejaan lama. Coba lihat judul tulisannya, “Djangan Pukul Orang Jang Lebih Lemah”. Membaca seluruh isi tulisannya memaksa kita untuk beradaptasi dengan tulisan sebelum Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Tetapi membaca isinya Anda akan menemukan kata-kata dan istilah kontemporer. Ia menyebut Bapak dengan Bokap, Ibu dengan Njokap, cewek dengan doi, dan sebagainya.
Benedict Anderson adalah Indonesianis yang sangat kritis. Modal untuk menjadi ilmuwan tangguh berasal dari didikan orang tuanya. “Mereka mengandjurkan kami untuk batja, batja, dan batja, termasuk buku2 untuk orang dewasa, di perpustakaan mereka di rumah”. Anjuran orang tuanya untuk banyak membaca didukung oleh situasi zaman yang memang kondusif. “Untungnja ketika itu tak ada videogame, tak ada kompyuter, tak ada TV. Jang ada ja tjuman radio. Djadi kami beladjar terus-menerus” (h. 215-216).
Bagian lima bertajuk “Orangtuaku, Penopangku”. Penulis pada bagian ini adalah A. Syafii Maarif “Ayah-Bunda dan Aku”, G. Budi Subanar “Menciptakan Rumah dan Memberi Jiwa”, A. Sudiarja “Bapakku Pegawai Kecil, Ibuku Buruh”, Hersri Setiawan “Ibu Tetap Ada Sampai Kapan Pun”, P.M. Laksono “Ketegasan Bapak, Kesejukan Ibu”, Reni Patria Isa “Cintanya Pada Indonesia Tak Pernah Luntur”, dan Pipit Rochijat Kartawidjaja “Hormat Sama Orang Berpendirian”.
G. Budi Subanar menulis bahwa Bapaknya menekankan sikap hormat, bukan disiplin ala militer. Pada Bapaknya, G. Budi Subanar belajar tentang bagaimana teladan itu termanifestasi pada perilaku, bukan sebatas kata-kata. Sementara pada ibunya ia belajar tentang kesabaran. Ia mempertegas bahwa dalam kesabaran terdapat harmoni.
Sementara Dr. A. Sudiarja lebih banyak mengulas keteladanan dari Ibu Bapaknya. Namun terlihat pengaruh Bapaknya yang cukup kuat. Ia menulis bahwa ada tiga hal yang ia kenang dari Bapaknya, yaitu: (1) hidup sederhana apa adanya, berusaha sedapat mungkin tidak pamer kebaikan, tidak menutupi kekurangan; (2) tidak takut bersusah payah untuk kemajuan diri dan kebaikan kepada yang lain, menghargai nilai perjuangan; dan (3) kehidupan sosial yang baik, bertetangga dan berteman dengan siapa pun, tanpa membeda-bedakan (h. 300).
Orang tua para penulis di buku ini memang sangat mengesankan. Saya membaca secara cermat satu demi satu kisah di buku ini. Semuanya mengesankan dan memberikan inspirasi. Begitulah, meskipun dengan intensitas yang berbeda-beda, relasi dengan orang tua adalah bagian yang unik dalam kehidupan. Justru karena itulah buku ini telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada saya.

Tulungagung, 31 Mei 2017

6 komentar:

  1. jadi buku itu berisi pengalaman hidup dari beberapa orang ya pak

    ya buku lama dan buku baru bukan masalah yang penting isinya tidak kadaluarsa seperti makanan, bukan begitu pak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali. Buku itu yang penting bermanfaat. Terima kasih berkenan membaca. Salam.

      Hapus
  2. Satu buku dengan beberapa penulis yang memiliki beberapa perbedaan cerita namun memiliki kesamaan dalam hubungan dengan orang tua.
    Dan sepertinya aku juga tertarik dengan gaya tulisan dari Benedict Anderson. Menulis dengan menggunakan ejaan lama, tetapi tulisannya menggunakan bahasa gaul. Keren... Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah Mas. Ya, Anderson memang ilmuwan kelas dunia. Gaya bertuturnya mengalir lancar.

      Hapus
  3. sepertinya amat menarik buku ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Bu. Menarik sekali.

      Hapus