Jumat, 05 Mei 2017

Beragama di Era Internet



Judul Buku: Agama Generasi Elektronik
Penulis: Mujiburrahman
Penerbit: Pustaka Pelajar
Cetakan: 1, Februari 2017
Tebal: vi+329 halaman
ISBN: 978-602-229-694-2
Peresensi: Ngainun Naim

Internet telah mengubah wajah dunia. Ia tidak hanya menghadirkan informasi, mendekatkan yang jauh, dan mempermudah komunikasi melainkan juga mendekonstruksi nyaris semua aspek kehidupan.
Posisi agama juga mengalami perubahan seiring hadirnya internet. Pemaknaan, apresiasi, dan potret kehidupan umat beragama mengalami perubahan yang sangat mendasar. Otoritas keagamaan yang dulu monopoli ulama secara perlahan mengalami pergeseran. Sekarang muncul berbagai sumber otoritas baru dari situs-situs yang bertebaran luas di internet.
Beragama di era internet sekarang ini berbeda dengan beragama di era sebelumnya. Sekarang ini muncul begitu banyak model, karakter, tipologi, dan ekspresi beragama. Informasi tentang aspek-aspek agama secara cepat tersebar luas. Realitas semacam ini berimplikasi terhadap kehidupan sehari-hari umat beragama.
Salah satu bentuk ekspresi keberagamaan yang semakin semarak adalah radikalisme. Radikalisme seolah menemukan momentum untuk berkembang berkat jasa internet. Mereka menjadikan internet untuk berbagai kepentingan, termasuk eksistensi kelompok.
Radikalisme merupakan salah satu fenomena keberagamaan yang diulas secara kritis dan mendalam oleh Mujiburrahman. Guru Besar Sosiologi IAIN Antasari Banjarmasin ini menilai bahwa orang-orang yang radikal itu mengidap penyakit sombong. Kesombongan yang teraktualisasi secara intelektual melahirkan absolutisme yang memutlakkan pendapat sendiri. Secara sosial, kesombongan itu melahirkan eksklusivisme. Sementara secara emosional kesombongan itu mewujud dalam bentuk fanatisme (h. 7).
Fenomena radikalisme yang semakin hari semakin semarak membutuhkan penanganan secara serius. Ia tidak bisa dibiarkan. Langkah-langkah strategis perlu disusun secara baik agar ekses negatifnya tidak semakin menyebar ke berbagai sendi kehidupan.
Salah satu eksesnya adalah kerentanan terjadinya konflik. Kelompok radikal tidak memiliki paradigma toleran. Kebenaran hanya ada dalam konsep mereka. Perbedaan tidak untuk diapresiasi, tetapi untuk diseragamkan agar selaras dengan mereka.
Implikasinya, konflik begitu mudah tersulut. Rentetan konflik demi konflik yang di berbagai wilayah Indonesia terjadi karena—salah satunya—pemahaman keagamaan formalistik-simbolis sebagaimana yang dianut kaum radikal.
Mengembangan pemahaman keagamaan yang menghargai keragaman merupakan kebutuhan mendasar dalam menciptakan kehidupan yang harmonis. Pemahaman keagamaan semacam ini harus terus dikembangkan dan disosialisasikan secara luas agar muncul sikap toleran.
Toleransi, menurut Mujiburrahman, merupakan sikap minimal yang diperlukan untuk terbangunnya kerukunan di masyarakat Indonesia yang majemuk. Sebagai syarat minimal, tentu saja sekadar toleransi tidak cukup. Karena itu diperlukan syarat lain untuk melengkapi toleransi. Identifikasi Mujiburrahman menemukan dua sikap pendukung untuk memperkukuh kehidupan yang harmonis. Pertama, sikap saling memahami dan menerima. Dan kedua, bekerja sama mewujudkan cita-cita bersama (h. 212).
Buku ini memotret secara baik eksistensi agama di era internet. Ada persoalan, tetapi juga ditawarkan solusi. Melalui perspektif yang kaya, pembaca diajak membaca berbagai fenomena sosial keagamaan secara kritis dan berupaya menemukan berbagai kemungkinan solusi atas persoalan yang ada.  
Meskipun buku ini merupakan kompilasi makalah, naskah pidato, dan artikel di berbagai media massa, namun buku ini tetap menemukan relevansi kontekstualnya. Kasus-kasus aktual yang menghiasi setiap bagian tulisan menjadikan buku ini tidak hanya berkutat pada perdebatan teoretis semata. Justru karena itulah buku ini penting untuk dibaca dan diapresiasi.

4 komentar:

  1. Memang akhir - akhir ini kelompok radikal seolah mendapatkan angin segar dalam mengembangkan sayapnya. menurut saya selain kemunculan internet yang menyebarkan informasi seputar pemahaman keagamaan secara bebas, faktor kebijakan juga sangat berpengaruh, terutama kebijakan pendidikan. saat ini diberbagai lemabga pendidikan formal sangat marak sekali kegiatan yang diselenggarakan sehingga menyita banyak waktu bagi para siswa. seolah - olah waktu mereka habis disekolah, sehingga tidak ada kesempatan bagi mereka belajar agama di pesantren. saat pemahaman agama mereka belum kuat, mereka lari ke internet untuk mendapatkan pengatahuan agama. disinilah pemahaman keagamaan mereka seringkali mudah dipengarui oleh kelompok - kelompok radikal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Ustad. Terima kasih banyak telah membaca dan memberikan komentar atas tulisan sederhana ini.

      Hapus
  2. Saya yang musti terima kasih ustadz... banyak ilmu yang antum berikan ke saya lewat postingan - postingan antum. hehehe.. besok mampir ustadz ke kantor ma'had kalau pas lagi ngisi di aula lantai lima. sekali - kali heheghe...

    BalasHapus