Kamis, 13 April 2017

Merebut Kedaulatan yang Terampas



Data Buku
Kitab Kedaulatan, Dari Republik Sampah ke Peradaban Rempah
M. Yudhi Haryono
Kalam Nusantara
Desember 2016
Vii+231 halaman


Kondisi bangsa Indonesia sesungguhnya sedang tercabik-cabik. Persoalan demi  persoalan saling sengkarut dan berkait kelindan seolah tanpa ujung. Sungguh tidak mudah untuk mengurai dan mencari solusi. Semuanya seolah buntu seperti masuk ruang labirin tak bertepi.
Persoalannya, banyak yang tidak tahu dan tidak sadar terhadap kondisi yang sesungguhnya. Semuanya seolah berjalan wajar tanpa persoalan. Padahal, kondisinya sudah sedemikian parah.
Mentalitas serakah mereka yang berkuasa menjadikan bangsa ini paria. Kekayaan alam yang jumlahnya tak terkira tidak membuat rakyat sejahtera. Kesejahteraan hanya dirasakan mereka yang berkuasa dan kawan-kawannya.
Maka, bangsa Indonesia kini semakin merana. Kartelis, oligarkis, kleptokratis dan predatoris semakin menjadi aksiologi dalam bidang ekonomi. Perilaku haram bahkan sudah dianggap halal (h. 78).
Keadaan ini diperparah oleh perilaku politisi yang tidak pernah memperjuangkan kepentingan rakyat. Orientasi mereka adalah kepentingan diri sendiri dan kelompok. Politisi semacam ini disebut oleh M. Yudhi Haryono sebagai politisi yang mengidap penyakit autis. Mereka itu menjauhi realitas dan hidup dalam dunia abnormal (h. 35). Maka jangan berharap banyak kepada politisi jenis ini. Mereka tidak akan memberikan solusi karena sesungguhnya mereka bagian dari masalah.
Kondisi semakin miris dengan peredaran narkoba yang semakin merajalela. Realitas ini sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Semua agama dan negara mengharamkannya, tetapi pertumbuhan dan persebaran narkoba yang luar biasa menunjukkan adanya kekuatan yang melindunginya. Menurut Yudhi, dukungan dan permainan merekalah yang membuat bisnis penghancur generasi muda tersebut terus saja berjaya.
Masalah demi masalah dipotret dengan kritis dan tajam oleh M. Yudhi Haryono dalam buku ini. Selain ekonomi dan politik, Yudhi juga memotret banyak bidang, termasuk sosial, budaya, pendidikan hingga agama. Semuanya bermuara pada bagaimana agar Indonesia tidak tergadai kedaulatannya.
Kedaulatan Indonesia harus dipertahankan. Jika dulu penjajahan berlangsung secara fisik, kini penjajahan modern bermetamorfosis dalam bentuk penciptaan ketergantungan dan hegemoni. Muaranya sama, yaitu eksploitasi kekayaan alam Indonesia ke tangan kaum kapitalis.
Perilaku para penjual kedaulatan tidak terlepas dari mentalitas yang mereka idap. Identifikasi Yudhi Haryono menyebut ada lima jenis mental yang merusak, yaitu inlander, instan, miopik, melupa, dan mendendam (h. 21).
Buku ini secara kritis menggambarkan kegelisahan, kecemasan, dan--dalam batas-batas tertentu--kemarahan penulisnya terhadap kedaulatan negara yang terinjak-injak. Penulis buku ini mengajak agar kedaulatan negara dipertahankan. Jangan sampai kedaulatan digadaikan hanya demi kepentingan sesaat.

Solusi
Pemikiran yang terekam di buku menarik ini tidak hanya karena berisi kritik yang tajam, tetapi juga menawarkan solusi. Ada banyak langkah dan strategi yang ditawarkan di buku ini agar Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat.
Pertama, pendidikan yang didesain untuk menciptakan manusia mandiri dan berkepribadian. Pendidikan dalam bayangan Yudhi adalah yang mampu mendesain masa depan dan mencipta peradaban.
Kedua, memperbarui mental masyarakat menjadi mental positif. Ada lima jenis mental yang ditawarkan Yudhi, yaitu periketuhanan, perikeadilan, perikemanusiaan, perikesatuan dan peridemokrasi (h. 21).
Ketiga, membangun masyarakat multikultural. Aspek ini penting karena bangsa yang multikultural seperti Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Jika salah dalam mengelolanya akan berakibat fatal bagi masa depan bangsa.
Keempat, kesadaran semua pihak untuk memahami realitas bangsa ini dengan objektif. Tanpa kesadaran ini, bukan mustahil di masa depan Indonesia akan tinggal kenangan.

Ngainun Naim, pembaca buku.

2 komentar: