Kamis, 20 April 2017

Gender, Kolonialisme dan Pascakolonial



Judul: Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial
Penulis: Katrin Bandel
Penerbit: Sanata Dharma University Press
Edisi: November 2016
Halaman: xiv+138 halaman
Peresensi: Ngainun Naim, pembaca buku



Penjajahan secara fisik di Indonesia telah usai, tetapi pengaruhnya masih sangat kuat. Kolonialisme dalam bentuk baru masih berlangsung dan justru mengakar kian kuat dalam pengalaman dan kesadaran masyarakat Indonesia. Ketergantungan, pemujaan, dan pengakuan terhadap superioritas Barat merupakan salah satu manifestasi dari kolonialisme.
Kolonialisme model baru ini tidak kalah berbahayanya dibandingkan dengan kolonialsime secara fisik di masa lalu. Implikasi kolonialisme model baru ini adalah munculnya ketimpangan terhadap banyak hal, termasuk ketimpangan gender. Berbagai bentuk ketimpangan relasi gender menjadikan perempuan tidak memiliki kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki untuk mengekspresikan potensi dirinya. Kaum perempuan menjadi tersisih pada berbagai wilayah kehidupan. Ketimpangan inilah yang dalam perkembangannya kemudian memunculkan gerakan feminisme.
Tujuan gerakan feminisme adalah lahirnya kesederajatan dan kesetaraan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Berbagai bentuk ketimpangan mereka kritisi dan dekonstruksi. Kalangan feminis bergerak nyaris pada semua level, mulai dari level filosofis hingga aksi-aksi praktis.
Namun demikian tampaknya ada kesalahpahaman dan jurang teoretis-empiris antara apa yang diperjuangkan oleh para aktivis kesetaraan gender dengan realitas masyarakat. Perjuangan kesetaraan gender pada ujungnya bukan membangun kesetaraan, alih-alih justru mengokohkan kolonialisme. Hal disebabkan karena gerakan kesetaraan gender bias kolonialisme.
Realitas kolonialisme sesungguhnya riil tetapi sulit diidentifikasi, apalagi dihilangkan. Hal ini disebabkan karena eksistensinya yang telah tertananam kuat dan menancapkan pengaruhnya secara mendalam. Ia memang tidak hadir secara fisik, tetapi hadir dan menguasai wilayah batin. Justru karena itulah wacana kolonialisme sulit untuk dihilangkan.
Wacana kolonialisme tidak bisa dibiarkan. Harus dilakukan berbagai upaya untuk membongkarnya dan menggantinya dengan wacana baru yang lebih humanis. Jika menginginkan kehidupan yang lebih menghargai nilai-nilai kemanusiaan maka membongkar kolonialisme model baru merupakan sebuah keharusan. Kajian pascakolonial dapat berperan sebagai alat bantu untuk mewujudkan hal tersebut.
Gender, kolonialisme dan pascakolonial menjadi kata kunci yang mewakili isi buku yang ditulis oleh Katrin Bandel ini. Buku karya dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta asal Jerman ini menarik karena ditulis dalam bahasa sederhana. Gaya bahasa bertutur santai dan tidak kaku menjadikan buku ini menarik untuk dibaca. Padahal, buku sesungguhnya merupakan karya ilmiah yang sarat referensi dari berbagai buku berbobot. Selain itu, buku ini tidak berangkat dari teori, tetapi berangkat dari contoh-contoh konkrit untuk kemudian dianalisis secara kritis dengan kerangka teori tertentu.
Sebagai contoh adalah ulasannya pada halaman 21-23. Katrin menulis bahwa tahun 2016 ia meluncurkan buku kumpulan esai dengan judul "Sastra Perempuan Seks". Buku itu suatu waktu di bedah di Toko Buku Toga Mas Gejayan, Yogyakarta. Acara berjalan lancar. Beberapa hari kemudian ia menerima email dari seseorang tanpa identitas. Orang tersebut hadir dalam diskusi. Isinya dinilai Katrin sangat memuakkan. Ia menyebut bahwa dirinya menjadi korban pelecehan seksual secara verbal. Secara emosional Katrin menulis, "Pelecehan terjadi bukan di ruang publik, tapi memasuki sebuah acara diskusi--atau dengan kata lain, memasuki dunia pemikiran dan tulis-menulis".
Katrin juga mengulas sosok Kartini secara kritis. Kartini sekarang ini ‘dipaksa’ masuk dalam identitas tertentu. Menurut Katrin, upaya semacam ini tidak bijaksana. Justru hibriditas adalah kekhasan hidup Kartini, sebagai manusia Jawa di zaman kolonial. Karena itu Katrin menyimpulkan bahwa, "Kartini bukan salah satu dari versi itu, dia adalah semuanya. Jawa, Eropa, Hindia, Islam, sinkretis, kolonial, feminis, anti-kolonial—Kartini memiliki semua itu dalam dirinya, dengan segala pertentangannya. Kartini manusia hibrid yang gelisah dan terombang-ambing" (h. 57).

Kritis namun santun.
Buku karya Katrin Bandel ini menarik karena berbeda dengan tulisan para aktivis gender pada umumnya yang cenderung tanpa kompromi. Tulisan para aktivis gender tidak jarang terkesan emosional dan kehilangan empatik.
Bisa dikatakan bahwa Katrin juga kritis. Tetapi ia mengkritik dengan bahasa halus. Kritiknya sesungguhnya cukup tajam, tetapi dibungkus dengan bahasa yang penuh kelembutan.
Buku yang terdiri dari sepuluh bab ini menemukan relevansi kontekstualnya dengan realitas empiris. Topik yang diangkat merupakan topik aktual. Bidikannya dibungkus dalam catatan kritis namun santun. Justru karena itulah membaca buku ini secara mendengarkan Katrin bercerita.

Selain itu, kutipan dari bahasa Inggris juga diterjemahkan. Tentu, hal ini memudahkan pembaca yang kurang menguasai bahasa Inggris untuk memahami isi buku ini. 



4 komentar: