Rabu, 29 Maret 2017

MENULIS, KOMUNITAS DAN KOMITMEN



Judul Buku: Yang Berkesan dari Kopdar Sahabat Pena Nusantara di PP Darul Istiqomah Bondowoso
Penulis: Abb Aziz Tata Pangarsa, dkk.
Penyunting: Athiful Khoiri
Penerbit: Sahabat Pena Nusantara dan Diandra
Edisi: Maret 2017
Tebal: xv+192 halaman
ISBN: 9786023363520
Peresensi: Ngainun Naim
Buku hasil Kopdar Bondowoso


Gerakan literasi semakin tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia. Komunitas-komunitas kepenulisan bermunculan di mana-mana. Pelatihan tulis menulis semakin sering digelar. Dan buku demi buku pun terbit.
Salah satu komunitas kepenulisan yang penting untuk disebut adalah Sahabat Pena Nusantara (SPN). Organisasi ini unik karena anggotanya cukup beragam. Ada profesor, doktor, kiai, ustadz, santri, mahasiswa, dan berbagai latar belakang yang lainnya. Keragaman latar belakang ini tidak menjadikan diskusi grup WA SPN berkutat pada hal-hal remeh-temeh yang tidak bermanfaat. Grup WA SPN memiliki aturan yang cukup ketat dalam topik diskusi, yaitu hanya hal-hal yang berkaitan dengan dunia tulis menulis. Topik politik, perbedaan paham keagamaan, dan topik yang tidak sesuai dengan visi misi SPN dilarang masuk dalam bahasan diskusi.
SPN secara resmi berdiri pada hari Minggu, 29 Maret 2015. Usianya memang baru dua tahun. Tetapi produktivitas grup ini penting untuk diapresiasi. Setiap anggota yang masuk grup SPN wajib menulis satu artikel sebulan sekali berdasarkan tema yang telah ditentukan. Batas toleransi tidak menulis adalah tiga artikel. Jika tetap tidak menulis maka dengan hormat terpaksa dikeluarkan dari grup. Jika ingin masuk lagi maka harus kembali menulis sesuai aturan.
Menurut M. Husnaini, Ketua Umum, SPN merupakan grup keren. Di grup ini, anggota tidak perlu untuk membayar. Kita bisa belajar menulis dari para tokoh literasi nasional. Ada Pak Hernowo yang terkenal dengan konsep “Mengikat Makna”, Pak Much. Khori atau akrab disapa Pak Emcho yang terkenal dengan konsep SOS (Sopo Ora Sibuk), ada Mr. Vicky Bravo yang bukunya Mega Best Seller, ada Prof. Dr. Muhammad Chirzin yang telah menulis lebih dari 40 judul buku, ada Didi Junaidi yang terus melaju bersama buku, dan puluhan pegiat literasi lainnya. Memang, SPP untuk anggota SPN adalah setor tulisan sebulan sekali itu. Karena itu M. Husnaini menegaskan:

SPP-nya hanya komitmen menulis setiap bulan. Bukan setiap minggu, apalagi setiap hari. Ringan banget, bukan? Orang yang dikasih waktu sebulan lalu tidak menghasilkan tulisan 1,5 lembar, saya kira, bukan tidak bisa. Itu malas namanya. Dan cirinya adalah banyak alasan. Sok sibuk (h. 133).

Grup SPN juga rutin melaksanakan Kopdar. Kopdar pertama dilaksanakan di rumah Dr. H. Taufiqi, S.P., M.Pd., di Ponpes An-Nur 1 Bululawang Malang, sekaligus peluncuran buku Quantum Ramadhan. Kopdar kedua dilaksanakan di Wisma Sargede Yogyakarta. Pada Kopdar tersebut sekaligus launching buku Quantum Cinta. Kopdar ketiga dilaksanakan di Ponpes Darul Istiqomah Pakuniran Bondowoso sekaligus launching buku Quantum Belajar.
Komunitas menulis ini sungguh luar biasa. Semangat menulis para anggotanya sangat besar. Buku ini adalah buktinya. Setiap kopdar selalu diikuti dengan peluncuran buku. Dan istimewanya, dari Kopdar ketiga di PP Darul Istiqomah Bondowoso bisa melahirkan buku ini. Tentu ini merupakan sebuah usaha kreatif yang harus diapresiasi. Bentuk apresiasi saya adalah dengan membaca secara tuntas seluruh isi buku dan membuat “semacam” resensi ini.
Membaca buku ini akan membuat adrenalin menulis Anda melonjak tajam. Baca saja tulisan Rita Audriyanti, “Antara Bus Patas dan Aku”, “Ah, Dangdut Ini”, dan “Catatan Dibuang Sayang dari Kopdar Bondowoso”. Ibu energik ini datang dari tempat yang sangat jauh, bahkan paling jauh dari seluruh peserta kopdar, yaitu Kuala Lumpur. Sungguh suatu perjuangan yang tidak biasa. Tiga catatannya mendedahkan spirit hidup yang penting untuk dihayati.
Pada catatan, “Ah, Dangdut Ini”, ada spirit berdamai dengan keadaan yang ada. Rita yang menurut pengakuannya kurang nyaman mendengarkan musik dangdut koplo sepanjang perjalanan Surabaya Jember dan Jember Surabaya, akhirnya menulis: 

Ah, sudahlah. Musik itu mewakili kaumnya. Boleh jadi hidup ini harus dipacu dengan lebih kuat dan heboh lagi agar semangat yang ada pada lirik dan hentakan perkusi itu, mampu menjauhkan keputusasaan melawan kehidupan yang keras ini. Izinkanlah mereka yang memulai harinya, dengan memompa jiwa yang tertekan oleh berbagai kepincangan, ketidakadilan, dan ketidakberpihakan, agar menemukan jiwanya pada ruh musik yang mewakili semuanya. Izinkanlah telinga, kaki, goyangan kepala bergerak ritmis bersama suara merdu sang biduan (h. 90-91).

Buku ini terbagi menjadi tiga bagian dan satu lampiran. Bagian pertama bertajuk, “Menjelang Kopdar SPN”. Ada empat tulisan pada bagian ini yang bercerita hal-ikhwal perjalanan menuju lokasi Kopdar di PP Darul Istiqomah Bondowoso. Ada semangat, dinamika perjalanan, perjuangan, dan juga harapan. “Semua aku lakukan karena cinta dan demi cinta”, tulis Didi Junaidi (h. 4) yang harus menempuh perjalanan sekitar 18 jam menuju lokasi.
Inti buku ini ada pada bagian kedua yang bertajuk “Kesan Kopdar SPN”. Pada bagian ini pembaca sekalian bisa menemukan kesan yang nyaris sama: “Sangat bersyukur” ) Abdul Aziz Tata Pangarsa, “Indahnya jalinan ukhuwah islamiyah”, “Cara SPN dalam mendisiplinkan anggotanya menyakitkan tetapi sesungguhnya itulah cara yang efektif untuk sebuah komitmen” (Abdisita Sandhyasosi), “Iklim menulislah yang sesungguhnya saya cari” (Agus Hariono), “Bukan grup biasa”, “Pengalaman luar biasa”, “Saya merasa sangat bersyukur” (Eka Sutarmi), “SPN adalah sebuah gerbang kata di mana para anggotanya mengolah kata yang akan diproduksi menjadi sebuah tulisan”, “Saya sangat beruntung”, “Bertabur ilmu dan pengalaman luar biasa” (Joyo Juwoto), “Kalau bukan karena cinta, perjalanan sehari penuh, tidak akan pernah ada”, “Banyak ilmu dan pencerahan yang saya dapatkan”, “Pemantik semangat saya untuk menulis” (Masruhin Bagus), “Saya sangat antusias” (M. Arfan Mu’ammar), “SPN” Sumpah Pengen Nangis”, “SPN: Semua Pengen Nyambut”, “SPN: Semangat Pengen Nulis” (Fathi Abdul Fida’).
Bagian ketiga bertajuk “Perjalanan Jauh Bersama SPN”. Bagian ini berisi kesan, pesan, pengalaman, harapan, dan pelajaran bergabung dengan SPN. Syaful Rahman, mahasiswa UNESA asal Sumenep menemukan bahwa SPN merupakan grup menulis yang disebutnya sebagai super duper hebat. Lewat SPN ia berkesimpulan bahwa, “Menulis itu tidak terlalu sulit. Membiasakan menulis itu yang sulit” (h. 117).
Eni Setyowati, Doktor Pendidikan Biologi dan Dosen IAIN Tulungagung menyatakan bahwa ia aktif menyelinap  di balik para tokoh SPN. Meskipun belum pernah ikut kopdar, Eni sesungguhnya cukup aktif menyimak seluruh diskusi. Bahkan tulisan-tulisan yang penting ia kopi untuk kemudian dipindah ke komputer. Tidak hanya itu, ia juga aktif membeli karya tulis para anggota SPN.
Helmi Yani, anggota SPN asal Pekanbaru Riau menyatakan bahwa semangatnya menulis meningkat setelah masuk grup SPN. Pengamatan Helmi Yani menunjukkan bagaimana para penulis senior terus bergairah dalam berkarya. Padahal, mereka adalah orang-orang yang sibuk. Karena itulah Helmi Yani menulis, “Membaca komentar dan diskusi mereka memberikan suntikan semangat setiap hari” (h. 125).
Semangat senada juga dirasakan oleh Hidayatun Mahmudah. Ia yang pernah menekuni dunia menulis tetapi terbentur rasa percaya diri justru menemukan kembali gairah menulis setelah bergabung dengan SPN. “SPN menjadi media mewujudkan mimpi”, papar anggota SPN asal Wonosari tersebut.
SPN, terlepas dari kekurangan yang ada, adalah grup menulis yang cukup bermanfaat. “80% anggota terbakar semangat menulisnya”, papar Aditya Akbat Hakim. Dan itu terbukti dari tingkat setoran naskah rutin sebulan sekali.
Meskipun buku ini berbicara hal-ikhwal kopdar namun kandungan maknanya sangat mendalam. Membaca buku ini seperti memperoleh asupan gizi menulis. Membacanya dapat menjadi energi hidup dalam menghasilkan karya yang lebih bagus.


Trenggalek, 24-3-2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar