Senin, 09 Januari 2017

Mari Terus Belajar

Oleh Ngainun Naim
Buku Quantum Belajar


Orang yang merasa pintar sesungguhnya masih bodoh. Rasa pintar membuatnya tidak mau belajar lagi. Sementara orang yang merasa bodoh akan terus belajar karena pengetahuan yang dimilikinya dirasa masih kurang. Ia akan terus belajar tanpa merasa cukup.

Belajar sesungguhnya berlangsung sepanjang hayat. Tidak ada batas formalnya. Secara formal, sekolah adalah tempat belajar. Tetapi belajar sendirinya sesungguhnya tidak hanya dibatasi oleh bangku sekolah saja.

Belajar itu mencakup seluruh hal dalam kehidupan. Ada bidang ilmu tertentu, ada kehidupan itu sendiri, dan ada aspek-aspek lainnya yang sangat luas.

Buku Quantum Belajar (Malang: Genius Media dan Sahabat Pena Nusantara, 2016) adalah buku yang memberikan eksemplar tentang belajar dalam maknanya yang luas. Buku ini memuat pemikiran banyak penulis dengan latar belakang yang berbeda-beda yang terhimpun dalam Sahabat Pena Nusantara (SPN).

Saya menemukan banyak sekali ilmu dari tulisan warga SPN di buku Quantum Belajar. Berikut saya kutipkan bagian-bagian penting yang saya resum. Semoga ada manfaatnya.
1. Bahrus Surur-Iyunk: pembeda satu orang dengan orang yang lain adalah pemaknaan dan mengambil hikmah dari setiap kejadian (3).
2. Syaiful Rahman: peradaban yang dibangun di atas fondasi ilmu akan tetap dikenang. Contohnya Athena. Peradaban yang dibangun dengan kekuatan fisik akan hancur seiring perkembangan waktu. Contoh Sparta (10).
3. Abd Azis Tata Pangarsa: segala masalah dalam diri kita bermuara pada pikiran kita (16).
4. Aditya Akbar Akbar: proses belajar dari sebuah kegagalan menjadikan hidup manusia lebih bermakna. Lebih berbobot lagi beretika. Spirit mati satu tumbuh seribu perlu kita tanamkan dalam diri. Gagal sekali setelah itu sukses berkali-kali (25).
5. Muhammad Ridha Basri: "Kesempatan emas seringkali dilewatkan banyak orang karena selintas terlihat seperti hal yang biasa dan sepele saja"--Thomas Alfa Edison (30).
6. Abdul Halim Fathani: untuk menjadi penulis, tidak perlu berlama-lama dan berulang kali belajar teori menulis melalui seminar atau workshop. Tetapi, untuk menjadi penulis, langsung saja praktik untuk menulis (46).
"Setiap orang setidaknya harus menanam sebatang pohon, memiliki anak, atau menulis sebuah buku. Ketiga hal tersebut akan melampaui batas usia kita, memastikan bahwa kita tetap dikenang"--Jose Marti (49).
7. M Husnaini: setiap satu kekurangan terasa, segera kita temukan puluhan kelebihan. Ketika secuil kesedihan menimpa, tiba-tiba ratusan kegembiraan kita jumpai. Jadilah hidup ini benar-benar berparas bunga 55).
Banyak orang dapat membeli ranjang berkelas, tetapi tidak mampu membeli tidur pulas. Banyak orang bisa membeli obat mujarab, tetapi tidak sanggup membeli badan sehat. Banyak orang kuasa membeli rumah megah, tetapi tidak berdaya membeli keluarga sakinah. Banyak orang berhasil membeli karier terpandang, tetapi tidak kuat membeli hidup tenang (55).
8. Adzi JW: kesalahan yang mereka lakukan merupakan ujian yang Allah kirimkan kepada kita, supaya kita lebih kuat, lebih sabar, dan lebih pandai mengatasi masalah (71).
9. Nunung Nurrohmatul Ummah: hemat penting artinya bagi kesejahteraan hidup.
10. Rika Budi Antawati: menjaga kebersihan dan kerapian merupakan salah satu kunci sukses hidup (109).
"Satu menit yang kita gunakan untuk membersihkan rumah atau tempat kerja (unclutter)  memberikan dampak positif yang sangat signifikab bagi kebahagiaan kita"--Donna Smallin Kuper (110).

Tulisanku

Bagian demi bagian buku Quantum Belajar saya nikmati. Saya berusaha mendapatkan makna dari tulisan para sahabat saya yang tergabung dalam Sahabat Pena Nusantara (SPN). Sungguh, saya mendapatkan banyak ilmu dan inspirasi.

Saya sendiri menyumbangkan sebuah tulisan sederhana dengan judul, "Belajar dari Facebook". Sebagaimana judulnya, tulisan saya mengulas dan menganalisis nilai-nilai positif dan negatif facebook.

Sebagian besar penulis buku ini belum saya kenal secara langsung. Tetapi komunikasi dengan mereka berlangsung intensif di Grup WA.

Tulisan demi tulisan sudah saya tuntaskan hingga akhir buku. Banyak hal yang harus saya perbaiki dari hidup saya. Coba Anda simak tulisan di halaman 141:

Belajar jadi single parent hebat itu juga perlu ketakwaan. Tanpa itu akan sulit menghadapi berbagai cobaan-Nya. Untuk meraih ketakwaan, saya membiasakan menjaga wudhu, salat wajib tepat waktu, puasa senin-kamis, salat dhuha, salat tahajud, tilawah, menghafal al-Quran dan bersedekah (141).

Buku Quantum Belajar sungguh kaya ilmu. Terima kasih SPN.

Trenggalek, 29/12/2016

4 komentar:

  1. Terima Kasih ustadz...
    semoga saya terus bisa belajar dari orang - orang seperti antum...

    BalasHapus
  2. Benar banget, pak. Secara formal, sekolah memang tempatnya belajar. Tapi pelajaran itu sendiri bisa didapat dari mana saja dan kapan saja.
    Semoga saya bisa mendapatkan pelajaran dari tulisan² bapak.

    BalasHapus