Minggu, 25 Desember 2016

Panduan Parenting

Oleh Ngainun Naim

Penulis buku "Aku Keren". Sumber gambar: FB penulis.


Saya suka belajar. Selain buku, saya banyak belajar melalui facebook dan blog. Beberapa nama rutin saya kunjungi berandanya. Mereka biasanya mengunggah status yang mencerahkan.

Salah satu dari mereka adalah Nurhayati Pujiastuti. Statusnya di facebook dan juga artikelnya di blog rutin saya baca. Catatannya selalu menarik. Menurut saya, ia menulis dari hati. Tulisannya merepresentasikan dirinya. Itu menurut saya.

Perempuan yang sudah puluhan tahun menulis ini memiliki keunikan di tulisannya. Sederhana, lembut, dan impresif. Persoalan apapun yang ia tulis selalu menarik.

Salah satu bukunya berjudul "Aku Keren" (Jakarta: BIP, 2016). Akhir Oktober lalu saya membeli buku yang cukup tebal tersebut dan butuh beberapa minggu untuk menyelesaikan membaca di tengah kesibukan yang cukup lumayan.

Mengapa buku ini saya beli?  Ada banyak alasannya. Pertama, belajar menulis. Tulisan Nurhayati Pujiastuti cukup menarik. Dia menulis di beberapa statusnya bahwa tulisan-tulisannya dibuat dengan penuh cinta. Nah, ini penting untuk ditiru, diserap dan dikembangkan.

Kedua, panduan. Buku ini ditujukan untuk remaja. Tapi bagi saya, buku ini juga panduan bagi orang tua yang anaknya beranjak remaja. Berbagai persoalan remaja diulas secara sederhana dengan bahasa menarik.

Anak pertama saya sedang beranjak remaja. Usianya sekarang 12 tahun. Saya membutuhkan buku karya Nurhayati Pujiastuti ini karena bisa memandu saya mendampingi anak saya. Bacaan saya selama ini didominasi bidang pemikiran, filsafat, Islam kontemporer, dan pendidikan. Buku parenting minim sekali. Jadi rasanya pas jika saya memiliki dan membaca buku "Aku Keren" besutan penulis yang berkali-kali menjadi juara berbagai lomba menulis ini.

Ketiga, perspektif. Ya, saya menemukan perspektif yang cocok di buku ini. Meskipun perspektif psikologi dan pendidikan mendominasi tetapi semuanya bertumpu pada ajaran Islam. Sungguh, saya harus banyak belajar. Islam saya tampaknya lebih kuat penalaran dan pemikiran dibandingkan pengamalan. Jujur, saya tergugah untuk lebih memperbaiki pengamalan ajaran Islam lewat buku ini, juga lewat catatan Nurhayati Pujiastuti di status facebook dan catatan di blog.

Alasan yang lainnya?  Ada. Tetapi saya lebih senang Anda menyerap sendiri ilmu dalam buku ini dengan membacanya.

Salam.

Yogyakarta, 24-12-2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar