Kamis, 08 Desember 2016

Belajar Kearifan dari Orang Besar


Oleh Ngainun Naim

Bersama Prof. Dr. Alaiddin Koto, M.A

Orangnya sederhana, santun dan sangat menghargai sesama. Hal itu sudah saya rasakan sejak saya diajak Dr. M. Rizal Akbar sowan ke rumah beliau di Pekanbaru. Beliau menyambut kami yang menjemput beliau untuk acara bedah buku di IAI Tafaqquh Fiddin Dumai.

Entah mengapa saya langsung merasa akrab dan nyambung dengan beliau. Guru besar UIN Susqa Pekanbaru banyak memberikan ilmu dan inspirasinya. Beruntung saya bisa satu mobil dengan beliau selama kurang lebih lima jam perjalanan dari Pekanbaru menuju Dumai. Beliau adalah Prof. Dr. Alaiddin Koto,  M.A.

Ada beberapa hal yang saya catat dari perbincangan dengan beliau. Pertama, pentingnya komitmen mengajar. Komitmen ini menandai keseriusan kita sebagai seorang pengajar. Beliau bercerita panjang lebar tentang ketekunan Prof. Dr. Harun Nasution dalam mengajar. "Beliau tekun sekali mengajar. Sangat tekun", papar Prof. Alaiddin. Nyaris seluruh jadwal mengajar beliau penuhi. Jika bukan dipanggil presiden, beliau hampir pasti selalu mengajar.

Kedua, pentingnya kesantunan. Sekarang ini kesantunan nyaris hilang dari kehidupan. Justru karena itulah diperlukan usaha secara terus-menerus untuk menghadirkan keteladan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu caranya adalah dengan menghadirkan kisah keteladanan dari para tokoh.
Orang disebut tokoh karena memiliki banyak nilai lebih dibandingkan dengan manusia pada umumnya.  Nilai lebih mereka selayaknya dijadikan sebagai teladan bagi kita agar kebajikan semakin tersebar secara luas.

Prof. Alaiddin menceritakan kepada kami tentang gurunya yang sangat santun, yaitu Prof. Dr. Nurcholish Madjid. Menurut Prof. Alaiddin, Cak Nur sungguh sangat santun. Bicaranya pelan, lembut dan sangat menghargai orang lain. Sungguh pada diri beliau terdapat teladan kesantunan yang luar biasa.

Sebagai murid, Prof. Alaiddin banyak bercerita tentang Cak Nur. Salah satu cerita yang membekas adalah tentang kebiasaan Cak Nur berzikir setiap ada kesempatan.

Ketiga,  pentingnya pemikiran.  Kata Prof. Alaiddin, sesederhana apapun pemikiran, ia aset buat generasi kita. Karena itu, pemikiran yang ditulis dan diterbitkan sangat penting artinya.

Keempat, mempersempit pikiran gampang sekali tetapi memperluas cara berpikir itu sangat sulit.

Dumai, Riau, 15 Nopember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar