Senin, 07 November 2016

Mengekspor Islam, bukan Mengimpor Islam



Oleh Ngainun Naim


Prof. Sumanto (bertopi) saat mengunjungi stand IAIN Tulungagung di Arena AICIS Lampung


Judul tulisan ini mungkin terlihat provokatif. Sangat mungkin Anda tidak setuju dengan judul dan isinya. Saya kira itu wajar dan saya terbuka terhadap perbedaan pendapat, sepanjang dilakukan dengan baik yang bertujuan untuk menebarkan kebaikan dan berbagi pengetahuan. Bukan mencerca, apalagi menjatuhkan.

Baiklah, saya harus jelaskan dulu darimana gagasan untuk judul ini muncul. Jujur, ide untuk membuat judul ini muncul setelah saya mendengarkan ceramah intelektual muda Indonesia yang sekarang cukup dikenal karena aktivitasnya di dunia keilmuan internasional, Prof. Dr. Sumanto Al-Qurtuby. Guru besar sebuah universitas di Arab Saudi ini semakin dikenal luas karena status facebooknya yang sangat inspiratif. Beruntung sekali saya bisa mendengarkan ceramahnya saat ia menjadi pembicara di AICIS ke-16 di IAIN Raden Intan Bandar Lampung.
Bersama Dr. Abad Badruzaman


Sebagaimana statusnya yang ‘provokatif’, ceramahnya ternyata setali tiga uang. Suaranya besar menggelegar. Pidatonya sangat menarik sehingga memukau ratusan peserta yang memenuhi Aula Utama IAIN Raden Intan Lampung.

Pada pembuka pidatonya, Sumanto Al-Qurtuby menyatakan pendapat yang telah banyak diketahui oleh kita semua, yakni tentang Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia. Namun demikian ia menegaskan bahwa yang besar itu belum tentu jadi pemenang. Realitas semacam ini yang terjadi dengan Islam Indonesia. Di dunia ternyata tidak banyak yang mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia. Ini merupakan fenomena yang meresahkan. Karena itulah Sumanto Al-Qurtuby mempertanyakan: “Ini karena orang Barat yang kuper atau karena orang Indonesia yang gagal dalam memarketkan Islam Indonesia?”.

Prof. Sumanto Al-Qurtuby menyatakan bahwa reputasi Indonesia kalah jauh dengan negara-negara lain di dunia dalam kerangka pengembangan diskursus keislaman. Posisi Indonesia tidak banyak mewarnai, tetapi diwarnai. Bahkan secara ‘provokatif’ dinyatakan bahwa, “Indonesia lebih sebagai importir Islam, termasuk Islam yang rongsokan”. Disebut demikian karena Islam yang di negara asalnya ditolak, justru mendapatkan pengikut yang cukup banyak di Indonesia. Muslim Indonesia diibaratkan oleh Prof. Sumanto Al-Qurtuby sebagai lebih bangga menjadi cheerleader organisasi dari luar.

Posisi yang pasif dalam diskursus keislaman ini menjadikan kita tidak kreatif. Kita hanya menerima Islam dari luar, bukan justru menawarkan Islam kita kepada pihak luar. “Kita hanya menjadi pengimpor Islam, bukan pengekspor Islam”, paparnya secara berapi-api.

Kondisi ini didukung oleh watak masyarakat kita yang begitu mudah untuk terpecah belah. Masyarakat kita begitu bersemangat dalam permusuhan, sejak dulu sampai sekarang. Energi yang semestinya dipakai untuk melakukan berbagai usaha kreatif, dalam realitasnya justru dicurahkan untuk hal-hal yang tidak produktif.

Prof. Sumanto juga mengajak para peserta untuk berpikir kritis. Ada kecenderungan sekarang ini di mana banyak kampus di Indonesia yang dengan bangganya memanggil ilmuwan dari luar negeri ke Indonesia. Dalam kerangka pengembangan keilmuan, hal semacam ini memang baik. Tetapi penting juga untuk berpikir jauh ke depan, yakni kapan para ilmuwan kita dipanggil di banyak universitas di dunia? Memang sekarang ini sudah ada ilmuwan kita yang berkelas internasional. Mereka mengajar di berbagai universitas di dunia. Tetapi jumlah mereka sangat sedikit. Karena itulah Prof. Sumanto berharap agar AICIS menjadi media untuk mengembalikan Islam Indonesian, khususnya para ilmuwannya, agar diperhitungkan di kancah internasional. “Indonesia di masa mendatang harus menjadi eksportir Islam, bukan importir Islam”, tegas Prof. Sumanto Al Qurtuby.


Lampung—Tulungagung, 4-7 Nopember 2016.

6 komentar:

  1. Semoga menjadi pelajaran dan mendapat kebaikan yang banyak aamiin

    BalasHapus
  2. Bagus sekali tulisannya mas. Izin kushare ya.....

    BalasHapus
  3. Sepintas dari judulnya memang terasa provokatif. Hehehe
    Tapi jika sudah mengetahui isinya, sungguh di luar dugaan.

    Semangat, pak...

    BalasHapus