Rabu, 19 Oktober 2016

Menguak Misteri Iqra’



Oleh Ngainun Naim


Tradisi literasi harus terus digelorakan. Semangat literasi yang kemudian menjadi budaya merupakan penanda kemajuan. Pada perspektif pentingnya membangun tradisi literasi, kehadiran Pahlawan Literasi, Bapak Satria Dharma dari Surabaya ke IAIN Tulungagung sangat penting artinya.

 
Pak Satria Dharma menerima buku karya mahasiswa Bidik Misi IAIN Tulungagung
Pak Satria Dharma hadir dalam rangka bedah buku karya beliau, Iqra’, Misteri di Balik Perintah Membaca 14 Abad yang Lalu (Surabaya: Eureka Akademia, 2015). Sebagai pembanding adalah Prof. Dr. H. Akhyak, M.Ag., Guru Besar Filsafat Pendidikan Islam IAIN Tulungagung. Acara yang berlangsung pada hari Selasa 18 Oktober 2016 ini dihadiri lebih dari 200 mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Tulungagung dan para dosen.

Satria Dharma sedang presentasi

Presentasi Pak Satria Dharma sangat atraktif. Gaya beliau yang interaktif dan juga mengiming-imingi para peserta akan memberikan buku karya beliau membuat para peserta bedah buku sangat antusias. Secara substansial presentasi Pak Satria Dharma berusaha mengajak para peserta untuk memahami pentingnya membaca (dan menulis), khususnya dalam kerangka membangun kemajuan hidup bagi mahasiswa yang sedang studi.

Pak Satria Dharma dalam paparannya menjelaskan bahwa pendidikan itu bisa mengubah semuanya. Pendidikan yang dijalani bisa memberikan kontribusi penting dalam kehidupan, baik kehidupan secara personal maupun secara sosial. Negara-negara maju memiliki lembaga pendidikan yang bermutu. Selain itu, anggaran pendidikan juga menjadi prioritas sehingga pendidikan mendapatkan perhatian secara memadai. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan bisa mengubah keadaan menuju kepada kondisi yang lebih baik. 
Peran membaca dalam pendidikan


Dalam paparannya Pak Satria Dharma mengutip pendapat beberapa ahli. Nelson Mandela mengatakan bahwa, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”. Tokoh lain yang dikutip pendapatnya adalah Lyndon B. Johnson, Presiden AS ke-36 yang menyatakan bahwa, “Jawaban dari semua masalah bangsa kita—bahkan jawaban dari semua masalah dunia—ada pada satu kata. Kata itu adalah “PENDIDIKAN”. Mempertegas tentang pentingnya pendidikan adalah pendapat Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris. Blair menyatakan bahwa, “Saya punya tiga prioritas kerja sebagai Perdana Menteri, yaitu PENDIDIKAN, PENDIDIKAN, dan PENDIDIKAN”.

Jika diperpanjang, daftar pendapat tentang pentingnya pendidikan akan sangat panjang. Intinya tidak diragukan lagi bahwa pendidikan sangat penting. Dan komponen paling penting dalam pendidikan adalah guru.

Paparan penting yang menarik dari Pak Satria Dharma adalah tentang membaca. “Jantungnya pendidikan adalah membaca”, tegas pegiat literasi tersebut. Menurut pendiri Ikatan Guru Indonesia (IGI) tersebut, membaca sangat penting artinya. Ia merupakan batu loncatan bagi keberhasilan di sekolah dan dalam kehidupan kelak di masyarakat. Tanpa kemampuan membaca yang layak, mustahil sekolah hingga kuliah akan berhasil. Semakin tinggi jenjang pendidikan maka tuntutan membaca (dan juga menulis) semakin tinggi. Mempertegas pendapatnya, Satria Dharma mengutip pendapat Glenn Doman, “Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca”.

Tragedi nol buku

Pada paparan berikutnya Satria Dharma masuk ke topik pokok, yaitu tentang Iqra’. Menurut Satria Dharma, ada misteri tentang perintah membaca ini. Perintah membaca menjadi perintah pertama bertujuan agar kita sebagai umat Islam mudah ingat. Tidak hanya itu, Satria Dharma juga menegaskan bahwa, “Membaca itu khas Islam. Perintah membaca hanya ada di dalam Al-Qur’an. Di kitab-kitab agama lain tidak ada”. Ibadah-ibadah yang lain juga ada di agama lain, meskipun berbeda dalam banyak hal. Puasa misalnya, di agama lain juga ada.

Tetapi mengapa kita tidak memiliki budaya membaca? Tentu ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Faktanya memang budaya membaca bangsa Indonesia masih jauh dari harapan. Sastrawan Taufik Ismail pada bulan Juli sampai Oktober 1997 mengadakan penelitian ke SMA di 13 negara mengenai 4 hal; (1) kewajiban membaca buku; (2) tersedianya buku wajib di perpustakaan; (3) bimbingan menulis; dan (4) pengajaran sastra di sekolah. Hasilnya sungguh mengejutkan. Kita kondisinya sangat jauh. Taufik menyebutnya sebagai Tragedi Nol Buku.

Disebut demikian karena dari 13 negara yang diteliti, Indonesia berada pada posisi terbawah. Kewajiban membaca buku sastra siswa SMA di Thailand Selatan sebanyak 5 judul buku, SMA di Malaysia dan Singapore sebanyak 6 judul buku, SMA Brunei Darussalam sebanyak 7 judul, SMA Rusia 12 judul, SMA di Kanada dan Jepang sebanyak 15 judul, SMA di Jerman Barat sebanyak 22 judul, SMA di Prancis sebanyak 30 judul, SMA di Amerika Serikat sebanyak 32 judul, dan SMA di Indonesia nol.

Rendahnya budaya membaca membuat masyarakat Indonesia kalah bersaing dengan banyak negara. Banyaknya bacaan menunjukkan kualitas seseorang. “Bagaimana kita bisa bersaing dengan banyak negara yang masyarakat telah memiliki tradisi membaca banyak buku,  sementara kita membaca saja tidak?”, keluh Satria Dharma. Maka wajar jika kita terus teringgal dalam kompetisi global.

Foto bersama usai acara

Ada penegasan menarik dari Satria Dharma yang penting untuk kita renungkan, yaitu, “Jika Anda Islam tapi tidak membaca maka diragukan keislamannya”. Mungkin Anda kurang setuju dengan pernyataan ini, tetapi jika direnungkan, pernyataan Satria Dharma ini sesungguhnya memiliki banyak landasan dan argumen yang kokoh.
 
Terkait dengan menulis, Satria Dharma menganjurkan agar kita semua menulis setiap hari. Menulis di blog atau facebook sesungguhnya merupakan sarana menulis yang cukup efektif. Pengalaman Satria Dharma menunjukkan bahwa buku-bukunya rutin terbit dari metode menulis semacam ini. Katanya, “Setiap ulang tahun saya menerbitkan buku”.

Sementara Prof. Dr. Akhyak, M. Ag. Yang menjadi pembanding mempertegas pernyataan Satria Dharma. Menurut Prof. Dr. Akhyak, gerakan literasi pertama dalam Islam ya dalam perintah iqra. Karena itu, umat Islam semestinya tumbuh kesadaran dan pemahamannya akan pentingnya membaca.

Di kampus, aktivitas membaca menjadi aspek yang tidak terpisahkan. Kuliah itu kegiatan yang dominan adalah membaca dan menulis. Dosen tak henti-hentinya mengajak membaca. Semuanya itu dilakukan agar mahasiswa rajin membaca. “Orang yang banyak membaca otaknya sehat dan hafalannya kuat”, papar Prof. Dr. Akhyak.

Pada bagian lain, Guru Besar yang juga aktivis di berbagai organisasi tersebut menjelaskan bahwa membaca merupakan kunci sukses. Semakin banyak membaca maka peluang mencapai kesuksesan semakin terbuka lebar. Karena itulah beliau sangat mengapresiasi kehadiran Pak Satria Dharma di IAIN Tulungagung yang menyuntikkan spirit literasi. “Saya menjuluki Pak Satria Dharma sebagai Sang Inovator Generasi Gemar Membaca”, tegas Prof. Akhyak dalam mengakhiri paparannya.

Usai pemaparan dilanjutkan dengan diskusi. Acara berlangsung sangat meriah. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan. Antusiasme yang tinggi tersebut menjadi titik harapan agar literasi benar-benar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari IAIN Tulungagung. Jika ini mampu terwujud maka harapan perubahan ke arah kemajuan secara optimal terbuka lebar. Semoga.

Tulungagung, 18-19 Oktober 2016.

4 komentar:

  1. Sangat menginspirasi sekali, pak.
    Memang, dalam pendidikan itu kegiatan membaca dan menulis sangat penting sekali.
    Bahkan dalam ajaran islam pun, kita diharuskan membaca.

    Salam santun dan dalam literasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih berkenan berkunjung ke blog sederhana ini. Ayo terus gelorakan semangat membaca dan menulis.

      Hapus
  2. Siap, pak..
    Terima kasih bapak sudah memberi semangat pada kami. Dan terima kasih juga bapak sudah bersedia mem-follow blog saya.

    BalasHapus