Senin, 05 September 2016

Sugeng Rawuh, Pak Guru



Oleh Ngainun Naim

Hujan deras mengguyur bumi Trenggalek pasca subuh pada hari Minggu 4 September 2016. Mendung berwarna putih membuat hujan cukup awet. Rencana hadir di acara bedah buku karya Pak Guru J. Sumardianta yang digelar oleh Quantum Litera Center (QLC Trenggalek) harus tertunda karena hujan belum juga reda.
Hujan mulai reda menjelang jam 09.00. Saya pun bersiap meluncur ke Balai Benih Ikan Trenggalek yang menjadi tempat berlangsungnya acara. Saya berjalan agak cepat karena yakin acara sudah dimulai. Sesampai di lokasi, tempat parkir penuh sesak oleh kendaraan. Dari tempat saya meletakkan sepeda motor saya mendengarkan suara orang presentasi. Tampaknya acara baru saja berlangsung.
Saya segera menuju tempat pendaftaran. Di situ ada sastrawan Trenggalek St. Sri Emyani dan Bu Anny Qinana, pegiat literasi Trenggalek. Terlihat juga beberapa aktivis Quantum Litera Center Trenggalek. Setelah berbasa-basi dengan mereka, saya bergegas masuk ruangan yang sudah penuh sesak oleh peserta.
Kiri ke kanan: Saya, Yudi, Priyo Suroso, Nurani Soyomukti, J. Sumardianta, dan peserta sarasehan

Secara keseluruhan saya sangat menikmati acara. Paparan Saiful Mustofa, Nurani Soyomukti, dan Pak Guru J. Sumardianta sungguh mencerahkan. Aspek-aspek penting yang mereka sampaikan saya catat. Bagi saya, ini adalah cara mendapatkan ilmu yang baik. Caranya adalah dengan menuliskan hal-hal penting. Jika waktu memungkinkan, saya bisa mengembangkannya sebagai catatan ringan di blog dan facebook.
Acara berlangsung dengan produktif. Rencana penyelesaian acara mundur hingga hampir satu jam. Ini terjadi karena peserta sangat antusias. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir deras. Priyo Suroso, moderator yang juga Kepala Sekolah SMPN 2 Bendungan, mengendalikan acara dengan sangat baik.
Usai penutupan, saya segera maju ke depan menemui Pak J. Sumardianta sekadar untuk menyapa. Saya pernah bertemu beliau. Juga aktif berinteraksi di jejaring sosial. Beberapa saat kemudian kami foto bersama. Setelah itu Pak J. Sumardianta dikerumuni peserta yang meminta tanda tangan.
Cukup lama saya menunggu, tetapi belum ada tanda-tanda usai. Saya memutuskan pulang duluan untuk shalat dhuhur. Saat sedang santai dengan anak, tiba-tiba ada telepon masuk. Ternyata Pak J. Sumardianta sudah di teras rumah.
Saya sungguh tersanjung. Sungguh merupakan sebuah kehormatan bagi saya karena penulis besar seperti beliau berkenan singgah. Terima kasih banyak Pak. Mohon maaf tidak bisa memberikan penghormatan yang layak. Salam literasi.

Trenggalek—Tulungagung, 4-5 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar