Jumat, 23 September 2016

Pak Amrullah, Buku, dan Menulis



Ngainun Naim
Buku karya Pak Muhammad Amrullah


Koleksi buku di rumahnya cukup spektakuler, di atas 15 ribu judul. Saya yakin itu jumlah koleksi pribadi terbanyak di Tulungagung. Sampai sekarang saya belum menemukan orang yang memiliki buku sebanyak beliau di kota marmer Tulungagung. Ada beberapa sahabat penggila buku, tetapi koleksinya tidak sampai sebanyak itu.
Buku demi buku beliau kumpulkan terus sejak beliau masih siswa PGAN Tulungagung pada akhir tahun 70-an. Banyaknya buku yang beliau miliki diimbangi dengan nafsu membaca yang tinggi. Sejauh yang saya tahu, ke mana pun beliau pergi, buku selalu menemani. Beberapa kali bertemu dengan saya, topik yang nyaris selalu dibicarakan juga selalu buku. “Kalau ada pameran buku, Aku di SMS ya”, pesannya.
Ya, beli buku dan terus membeli telah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan beliau. Saya menyaksikan sendiri puluhan puluhan rak buku tersusun rapi memenuhi rumahnya yang besar, sejak dari ruang tamu sampai dapur. Di usianya yang sekarang 56 tahun, beliau tetap gigih membaca. Penglihatannya memang tidak lagi seawas dulu, tetapi semangat membacanya nyaris tidak surut.
Aktivitas membacanya yang tinggi mengantarkan beliau menjadi seorang penulis. Artikel demi artikel terus diproduksi sejak tahun 1984 sampai sekarang. Jumlahnya mungkin sudah ribuan. Sebagian ditulis dalam bahasa Indonesia dan sebagian ditulis dalam bahasa Jawa.
Sebagian dari artikelnya yang temanya berdekatan beliau olah dan terbitkan menjadi buku. Ya, buku berbahasa Jawa. Judulnya "Bantahan Tuntas Tumrap Da'waan Bidah". Buku ini sungguh menarik. Ada banyak wawasan dan pengetahuan di dalamnya.
Sebagai murid, saya berbahagia karena bisa membantu penerbitan buku karya beliau. Melalui penerbit Akademia Pustaka Tulungagung, buku ini terbit pada minggu pertama bulan September ini. Dan sampai sekarang ini, buku ini telah terdistribusi ke banyak pembaca. Beberapa yang saya bantu mengirimnya adalah ke: Grobogan Jawa Tengah, Kediri, dan Tulungagung.
Pasar buku berbahasa Jawa memang tidak mudah. Tetapi melihat semangat besar Pak Amrullah yang mau bersusah payah untuk menerbitkan dan membiayai sendiri penerbitan bukunya, saya sungguh terharu. “Hasil penjualan buku ini nanti untuk membiayai buku saya selanjutnya”, kata beliau.
Semoga buku ini laris dan dananya bisa dipakai untuk menerbitkan buku-buku beliau berikutnya. Saya yakin jika diolah akan ada lebih dari 20 judul buku lagi untuk mendokumentasikan karya-karya beliau. Semoga.

Tulungagung, 23-9-2016.

2 komentar:

  1. Menarik, Pak Naim. Orang-orang seperti beliau di Tulungagung dan Trenggalek tidak banyak. Teladan sangat dibutuhkan bagi mahasiswa,terutama mahaiswa yang calon guru. Suwun, bisa menikmati tulisan penjenengan pagi ini sebagai kudapan pagi hari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Pak Widi berkunjung ke blog sederhana ini. Betul sekali, orang seperti beliau sangat jarang. Teladan semacam ini penting untuk disosialisasikan agar memotivasi yang lainnya.

      Hapus