Selasa, 09 Agustus 2016

Menapak Jejak



Oleh Ngainun Naim
 
Sambutan terhadap peserta
Hari masih cukup pagi saat kami bersiap berangkat menuju IAIN Sultan Maulana Hasanuddin (IAIN SMH) Banten. Tepat pukul 06.25 saat bus mulai bergerak tertatih meninggalkan halaman Diklat Teknis Pendidikan dan Keagamaan di Jalan Ir. Juanda Ciputat. Jalanan Jakarta yang padat merayap membuat bus besar yang mengantarkan kami tidak bisa bergerak bebas menapaki jalanan Jakarta yang semakin penuh sesak oleh kendaraan.
Perjalanan lumayan lancar saat bus masuk ke jalan tol. Saya tidak tahu pasti berapa jarak antara Ciputat menuju Serang. Ya, kampus IAIN SMH Banten memang berada di Serang. Tidak butuh waktu yang terlalu lama untuk sampai di kampus yang berada di pusat kota Serang tersebut. Sekitar pukul 08.00 kami sudah sampai di lokasi.
Bagi saya, ini merupakan kunjungan pertama. Kesan saya, kampus-kampus PTKI memiliki arsitektur yang nyaris tidak banyak berbeda, kecuali yang sudah mengalami transformasi menjadi UIN seperti UIN Yogyakarta, UIN Jakarta, UIN Surabaya, dan UIN Malang. Bangunan yang kusut, kurang terawat, serta kurang terencana dalam tata letaknya. Kampus IAIN SMH Banten saya kira tidak jauh dari gambaran semacam ini.
Setelah berkeliling ke beberapa tempat dan mengambil gambar di beberapa sudut tertentu, kami menuju lantai 3. Di auditorium, kami disambut oleh Wakil Rektor 1, Prof. Dr. Ilzamudin, MA. Sejenak saya berbasa-basi dengan beliau karena sudah beberapa kali bertemu.
Beberapa saat kemudian datang WR 2 dan Ketua LP2M, Mufti Ali, Ph.D dan Direktur Bantenologi, Dr. Ayatullah Humaeni, M.A. Acara dikendalikan oleh WR 2 untuk kemudian diserahkan kepada WR 1 untuk memaparkan hal-ikhwal IAIN SMH Banten. 
Perjalanan penuh kegembiraan

Prof. Ilzamuddin menjelaskan secara panjang lebar bahwa IAIN SMH Banten saat ini memiliki empat lokasi kampus. Total tanah yang mereka miliki adalah 528.417 M². Jumlah tanah sebanyak itu memungkinkan mereka untuk mengembangkan kampus dengan berbagai rancangan.
Ditinjau dari perspektif sejarah, IAIN SMH sudah cukup lama. Jejak sejarahnya dimulai sejak tahun 1961. Tentu, dalam usia yang sedemikian panjang, ada banyak hal yang telah menorehkan jejak sejarah bagi institusi dan masyarakat, khususnya masyarakat Banten. Ada banyak hal yang disampaikan oleh Prof. Ilzamuddin. Secara personal saya mendapatkan manfaat dan inspirasi bagi pengembangan lembaga di mana saya mengabdi.
Usai pemaparan dari para pejabat, kami kemudian masuk ke ruang-ruang berdasarkan pembagian kelompok. Ada 3 kelompok, yaitu kelompok satu yang membahas tentang kebijakan penelitian, kelompok dua membahas tentang peta penelitian keagamaan, dan kelompok tiga membahas tentang pengelolaan jurnal. Masing-masing kelompok berdiskusi untuk menggali data sebagai bahan untuk menyusun laporan.
Sekitar pukul 11.20 seluruh peserta berpamitan meninggalkan kampus IAIN SMH Banten. Bus bergerak ke arah barat lalu belok kanan menuju Masjid Agung Serang. Masjid tersebut berarsitektur sederhana dan menarik untuk dicermati. Menurut saya, masjid agung ini sangat khas dan berbeda dengan berbagai masjid agung yang pernah saya kunjungi.
Sambil menunggu waktu shalat dhuhur, saya minum kopi di pojok masjid bersama beberapa teman. Rasanya nikmat sekali. Ada diskusi, berbagi pengalaman, dan guyonan yang menghangatkan suasana.
Beberapa saat kemudian adzan dhuhur berkumandang. Kami pun bergegas untuk mengambil air wudhu. Masjid yang cukup besar tersebut terisi cukup banyak. Bagi saya, ini hal menarik karena di  tempat yang lainnya biasanya tidak sebanyak itu jumlah jamaahnya saat shalat dhuhur.
Usai menjalankan shalat dhuhur, kami bergegas menuju bus untuk kembali pulang. Perjalanan pulang sungguh penuh kesan karena saat pulang itulah saya menyaksikan wajah Jakarta yang sesungguhnya, yaitu macet. Bus bergerak lambat, bahkan sangat lambat. Butuh waktu sekian jam untuk sampai di Balai Diklat di Ciputat. Tetapi setidaknya, itulah jejak yang tertoreh selama sehari di hari rabo tanggal 3 Agustus 2016.

Ciputat, 4 Agustus 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar