Senin, 11 Juli 2016

Potret Kreativitas Intelektual Islam Indonesia



Judul Buku: Tradisi-tradisi Kreatif Pemikiran Islam Indonesia
Penulis: Prof. Dr. Mujamil, M.Ag.
Peerbit: IAIN Tulungagung Press
Edisi: November 2015
Tebal: x+426 halaman
 
Buku Prof. Dr. Mujamil, M.Ag.
Buku karya Guru Besar IAIN Tulungagung ini bagi saya sangat penting. Bukan karena saya sebagai murid beliau dan nyaris setiap hari berinteraksi dengan beliau, melainkan karena kandungan isinya yang menurut saya memang sangat bagus. Selain itu, buku ini juga merupakan hasil kerja keras dan kerja serius penulisnya karena naskah buku ini pada awalnya adalah naskah penelitian beliau.
Saya katakan kerja keras karena aktivitas beliau yang sungguh penuh perjuangan. Perjalanan dari rumah beliau di Kepanjen Malang menuju IAIN Tulungagung lebih dari tiga jam. Itu berarti dalam setiap harinya beliau menghabiskan waktu perjalanan antara 6-7 jam. Belum lagi jadwal mengajar, seminar, dan menghadiri berbagai undangan kegiatan ilmiah yang padat merayap. Namun demikian, beliau masih memiliki kesempatan untuk menghasilkan karya penelitian yang cukup berbobot.
Beberapa kali saya bertanya tentang strategi beliau dalam menghasilkan karya. Jawabannya ternyata pada strategi memanfaatkan waktu. Setiap waktu luang beliau gunakan untuk membaca, meresum bacaan, menulis, dan memikirkan berbagai hal yang berkaitan dengan tulisan yang akan dihasilkan. Maka di tengah padatnya kegiatan, makalah dan buku beliau terus saja bermunculan terbit. Dan buku ini adalah buku beliau keempat di tahun 2015.
* * *
Bagian awal buku Tradisi-Tradisi Kreatif Pemikiran Islam Indonesia merupakan bagian pendahuluan. Di bagian pendahuluan, Prof. Mujamil menjelaskan bahwa pemikiran Islam Indonesia memiliki karakteristik khas. Karakteristiknya tidak sama dengan pemikiran Islam di tempat lain di dunia. Hal ini disebabkan karena—salah satunya—hasil dialog interaktif antara ajaran Islam dengan budaya lokal. Dialog interaktif ini dinilai Prof. Mujamil sebagai kreativitas kultural yang sangat berharga. Kreativitas inilah yang menjadikan ajaran agama yang universal senantiasa relevan dengan dinamika kehidupan yang kompleks.
Seiring perkembangan sejarah, pemikiran Islam Indonesia semakin menunjukkan keunikannya. Penanda waktu yang bisa dirujuk adalah pada tahun 1980. Azyumardi Azra, Zuly Qodir, dan Kuntowijoyo menegaskan bahwa pada tahun 1980 terdapat fenomena penting dalam pemikiran Islam Indonesia. Azra menyebut dekade 1980 sebagai ’masa panen kaum Muslimin Indonesia; Zuly Qodir menyebutnya sebagai era persemaian ’embrio’ kemunculan gerakan pembaharuan Islam; dan Kuntowijoyo menegaskan era 1980 sebagai era lahirnya tradisi baru, yakni kecenderungan gerakan lintas-disiplin, termasuk disiplin agama.
Berdasarkan latar belakang itulah Prof. Mujamil kemudian menyusun penelitian yang kemudian diterbitkan menjadi buku menarik ini. Rentang waktu obyek yang diteliti adalah antara tahun 1980 sampai tahun 2014. Adapun pertanyaan penelitiannya adalah: (1) Bagaimanakah tradisi kreatif pemikir-pemikir Islam Indonesia dalam merumuskan konsep ijtihad yang berlangsung mulai tahun 1980 hingga 2014? (2) Bagaimanakah tradisi kreatif pemikir-pemikir Islam Indonesia dalam mengembangkan disiplin ilmu keislaman (kalam/teologi, fikih, dan tasawuf) yang berlangsung mulai tahun 1980 hingga 2014? (3) Bagaimanakah tradisi kreatif pemikir-pemikir Islam Indonesia dalam memadukan Islam dengan ilmu pengetahuan yang berlangsung mulai tahun 1980 hingga 2014?
Setelah mengajukan pertanyaan penelitian, bab berikutnya—yaitu Bab I—berjudul TRADISI PEMIKIRAN ISLAM. Pada bab ini ada lima subjudul, yaitu substansi tradisi pemikiran Islam; akar-akar tradisi pemikiran Islam; fungsi tradisi pemikiran Islam; ragam tradisi pemikiran Islam; dan respons umat terhadap tradisi pemikiran Islam.
Penjelasan Prof. Mujamil terhadap substansi tradisi pemikiran Islam pada bab I ini cukup detail. Berbagai argumentasi dengan dukungan referensi yang kokoh menjadikan bab ini menarik untuk didalami. Elaborasi Prof. Mujamil terhadap tradisi pemikiran Islam memberikan deskripsi yang jelas tentang apa yang dimaksudkan dengan pemikiran Islam.
”....tradisi pemikiran Islam adalah seluruh pemikiran yang dihasilkan ulama dan umat Islam setelah mereka mendialogkan Islam dengan tuntutan tempat dan zamannya. Konsekuensinya, tradisi pemikiran Islam tersebut menempati posisi hanya sebagai budaya karena ia merupakan hasil cipta, rasa, karya dan karsa ulama serta umat Islam meskipun disandarkan pada wahyu. Konsekuensi berikutnya menyangkut bobot kebenaran tradisi pemikiran Islam itu, yakni sekadar sebagai kebenaran nisbi (relatif), yang terbuka untuk dipertanyakan dan dikritisi kembali oleh siapapun yang menemukan kejanggalan maupun kelemahan tertentu pada tradisi pemikiran Islam tersebut” (hlm. 19).

Produk pemikiran Islam bukan sesuatu yang sakral. Ia memiliki kebenaran relatif. Perspektif ini sesungguhnya secara implisit menunjukkan bahwa pemikiran Islam bisa tumbuh dan berkembang secara produktif melalui diskusi, kritik, dan perbaikan yang dilakukan secara terus-menerus. Tradisi semacam inilah yang seharusnya dikembangkan, bukan tradisi sakralisasi teks.
Ada banyak hal menarik yang diulas oleh Prof. Dr. Mujamil, M.Ag ini. Jawaban atas pertanyaan penelitian ke (2) dan ke (3) bisa Anda baca sendiri di buku yang cukup tebal ini. Selamat membaca.

2 komentar:

  1. Sangat menginspiratif. Kreatifitas siapapun menginspirasi untuk menimbulkan kreatifitas baru. Termasuk gambaran sekilas dari Mas Ngainun Naim tentang buku ini. Menulis tidak perlu menunggu jadi orang pintar. Tetapi berani untuk dan agar pintar. Semoga saya makin berani untuk menulis apa yang saya lihat dan saya alami semoga juga yang saya kuasai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak Pak Budi Harsono. Betul Pak, saya sepakat. Walaupun sederhana, saya berusaha menghadirkan tulisan-tulisan agar bisa dibaca oleh banyak orang. Melalui cara semacam ini saya berharap semakin banyak orang mau, berani, dan mencoba menulis dan menerbitkan karya. Salam sukses untuk Pak Budi Harsono.

      Hapus