Rabu, 13 Juli 2016

Meneguhkan IAIN Tulungagung Sebagai Kampus Dakwah dan Peradaban



Oleh Ngainun Naim
Suasana Halal bi Halal di Aula Utama IAIN Tulungagung


Acara Halal bi Halal keluarga besar IAIN Tulungagung dilaksanakan pada hari Selasa 12 Juli 2016. Hadir pada acara tersebut seluruh warga IAIN Tulungagung. Hadirin tampak memenuhi Aula Utama yang berada persis di samping masjid kampus tersebut.
Sebagai penceramah adalah Kajur IPS, Sutopo, M.Pd. Pada ceramahnya Sutopo menjelaskan tentang berbagai aspek ajaran Islam. Beberapa hal yang disampaikan adalah: pertama, puasa ramadhan yang baru saja usai kita jalankan merupakan momentum untuk refleksi dan transformasi. Apakah puasa yang telah kita jalankan sudah memberikan manfaat secara nyata dalam kehidupan kita? Jika sudah, tentu itu yang diharapkan. Jika belum, itu menjadi agenda penting bagi kita untuk memperbaikinya.
Penceramah: Sutopo, M.Pd.

Kedua, Sutopo menyoroti tentang peningkatan kualitas keberagamaan di IAIN Tulungagung selama bulan ramadhan. Ada khotmil Qur’an di masing-masing unit. Ada juga kultum di masjid setiap usai shalat dhuhur. Juga beberapa kegiatan lainnya. Semua kegiatan yang positif tersebut seyogyanya dipertahankan pada waktu-waktu setelah ramadhan usai.
Secara umum, Sutopo berhasil menarik perhatian para hadirin. Sebagai dosen yang bukan berlatarbelakang agama, Sutopo berhasil menampilkan perspektif yang cukup mencerahkan. Menurut Rektor IAIN Tulungagung, Dr. Maftukhin, M.Ag., perspektif integrasi sebagaimana disampaikan oleh Sutopo, M.Pd sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan IAIN Tulungagung.
Pada sambutan usai ceramah, Rektor menjelaskan beberapa hal penting. Pertama, bersyukur bahwa IAIN Tulungagung sudah berkembang sedemikian pesat. Jumlah mahasiswa sudah 8.000 lebih, jumlah dosen lebih dari 300 orang, jumlah jurusan 31 buah, gedung perkuliahan juga sudah memadai. Tentu ini merupakan sesuatu yang harus disyukuri. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika IAIN Tulungagung mengalami perkembangan yang sedemikian pesat. Kemajuan ini harus dijaga, dikelola, dan terus dikembangkan secara optimal.
Kedua, IAIN Tulungagung bersyukur memiliki guru besar baru dalam bidang Filsafat Pendidikan Islam, yaitu Prof. Dr. H. Akhyak, M.Ag. Gelar guru besar yang diraih oleh Dr. Akhyak ini merupakan hasil perjuangan yang panjang dan melelahkan. Di tengah sulitnya meraih gelar guru besar, prestasi Dr. Akhyak penting untuk disyukuri. Apalagi selama 8 tahun terakhir, tidak ada guru besar yang lahir.
Ketiga,  menegaskan bahwa IAIN Tulungagung adalah kampus dakwah. Rektor menegaskan hal ini berkali-kali karena menurut beliau, jangan sampai perubahan dan perkembangan IAIN melupakan tugasnya yang pokok. Dakwah adalah tugas pokok yang harus diemban dan dikembangkan oleh IAIN sampai kapan pun. ”Dakwah harus tetap menjadi karakter IAIN”, tegas Rektor.
Keempat, menegaskan bahwa selain sebagai kampus dakwah, IAIN Tulungagung juga sebagai kampus peradaban. Peradaban sifatnya dinamis. Ia terus tumbuh dan berkembang. Dalam kerangka ini, IAIN harus memotori perkembangan kemajuan peradaban. Berbagai pertanyaan yang ada di masyarakat membutuhkan jawaban secara ilmiah. Jika semuanya mampu direspon secara aktif-kreatif maka peradaban yang maju akan terwujud.
Dari kiri ke kanan: Dr. Abd. Aziz (Dekan FTIK), Prof. Dr. Imam Fu'adi (WR 1), Dr. Maftukhin, M.Ag. (Rektor), Prof. Dr. Achmad Patoni (Direktur Pascasarjana), dan Dr. M. Saifuddin Zuhri (WR 2).

Ada banyak hal lain yang disampaikan oleh Rektor. Secara mendasar Rektor mengajak seluruh civitas akademika IAIN Tulungagung untuk bekerja keras agar kemajuan bisa diperoleh. Jika semuanya bekerja maksimal, dari Tulungagung akan lahir peradaban yang bermutu. ”Pusat destinasi peradaban Nusantara sangat mungkin akan muncul di Tulungagung”, papar Rektor penuh optimis.

Tulungagung—Trenggalek, 12 Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar