Kamis, 14 Juli 2016

Literasi Sahur



Oleh Ngainun Naim

 
Dari Sahur ke Sahur
Sebuah status di facebook menggiring saya menuju beranda Muhammad Ishom. Beliau merupakan seorang kiai dari Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta. Itu saya ketahui setelah membaca status dan catatan-catatannya yang mencerahkan di facebook.
Catatan-catatan beliau yang mencerahkan mendorong saya untuk menelisik lebih jauh ke beranda beliau. Dari penelusuran yang saya lakukan, saya menemukan hal unik, yaitu catatan beliau tentang sahur selama bulan puasa pada tahun 2014. Selama sebulan penuh, beliau menulis pengalaman sahur keluarganya. Saya pun mengirimkan permintaan pertemanan ke beliau.
Bagi saya, catatan-catatan beliau saat sahur merupakan fenomena menarik. Hal-hal biasa dan keseharian yang direkam dalam bentuk tulisan memberikan manfaat, baik bagi penulis maupun bagi orang lain. Apalagi jika catatan tersebut kemudian dibagikan di jejaring sosial.
Sebagai orang yang menekuni dunia literasi, saya tertarik membaca kumpulan catatan Bapak Muhammad Ishom yang diberi judul Dari Sahur ke Sahur, Catatan Seorang Suami. Meskipun tidak dicetak menjadi buku, saya memesan via inbox facebook kepada beliau karena saya merasa kumpulan catatan harian tersebut bermanfaat untuk saya. Siapa tahu saya bisa meniru ketekunan beliau menulis selama sebulan utuh.
Saat masuk kantor pada hari pertama usai lebaran (11 Juli 2016), kiriman dari Bapak Muhammad Ishom telah sampai di kantor. Segera saya ambil dan saya baca secara ’ngemil’. Sedikit demi sedikit setiap ada kesempatan saya membacanya. Dan betul, saya mendapatkan banyak inspirasi dari kegiatan sahur yang beliau lakukan.
Ada banyak hal unik yang saya temukan di buku catatan harian tersebut. Misalnya bagaimana beliau memiliki relasi yang unik di rumah. Beliau memanggil istrinya dengan sebutan ”Jo”. Sebutan yang sama juga dilakukan oleh istri beliau. Jadi suami istri sama-sama memanggil ”Jo”, maksudnya ”Bojo”. Sebutan ini unik karena melambangkan egalitarianisme dalam keluarga.
Saya juga menemukan banyak hikmah dan pelajaran hidup dari catatan beliau. ”Setiap tulisan positif, sesederhana apapun, bisa memberikan manfaat kepada kita”, kata Dr. Marwah Daud Ibrahim. Dan itu saya temukan di buku Pak Muhammad Ishom.

Tulungagung, 13 Juli 2016

2 komentar:

  1. Saya senang membaca ini, Terima masih.

    BalasHapus
  2. Terima kasih kembali Pak Kiai atas inspirasinya.

    BalasHapus