Senin, 18 Juli 2016

Hidup Adalah Proses



Oleh Ngainun Naim


Dikutip dari Bulu Self Development, halaman 37-41.
”Untuk perubahan perilaku, hidup sendiri merupakan ”ruang kelas” sejati untuk mempelajarinya, dan ini menuntut latihan berulang-ulang dalam jangka waktu yang panjang”—Daniel Goleman

Salah seorang filosof yang banyak membahas tentang ”proses” adalah Alfred North Whitehead. Pandangan filsafatnya adalah dunia aktual itu merupakan sebuah proses. Dunia aktual yang dia maksudkan ialah seperti: ’kemarin’, ’besok’, ’yang telah lalu’, ’yang akan datang’, atau ’akan terjadi’.[1]
Pandangan Whitehead ini dapat dijadikan sebagai salah satu landasan filosofis tentang hidup. Hidup manusia berada di dunia aktual. Sebagai proses, segala hal mengalami perjalanan, dialektika, persentuhan, dan perubahan. Perubahan harus dibaca, dipahami, dan dikritisi. Melalui cara semacam ini diharapkan proses hidup dapat bergerak ke arah yang lebih baik.
Salah satu persoalan yang menjadikan bangsa ini terpuruk adalah karena semakin tumbuh dan berkembangnya mentalitas instan. Mentalitas instan merupakan mentalitas ingin mencapai dan memperoleh segala hal secara cepat, meskipun jalan yang ditempuh melanggar aturan. Sebenarnya mentalitas instan tidak berkembang begitu saja. Ada banyak aspek yang saling memengaruhi. Salah satunya adalah globalisasi.
Kunci globalisasi adalah kompetisi. Ini meliputi kompetisi dalam menghadapi hukum rimba ketika satu nilai budaya atau agama berbenturan dan bersaing dengan nilai budaya atau agama yang lain. Yang satu akan terkalahkan oleh yang lain; atau akan muncul nilai baru sebagai antitesa atau sintesa dari nilai-nilai yang berbenturan atau berkompetisi tersebut. Ketika kompetisi itu berkaitan dengan nilai budaya atau agama, maka persiapan mentalitas umat menjadi sangat penting.[2] Tanpa persiapan mentalitas yang baik, umat akan mudah terbawa arus. Nilai agama yang dianut dapat luntur dan tergantikan oleh nilai-nilai asing yang liar. Mentalitas instan merupakan manifestasi melemahnya nilai agama dan budaya dari kehidupan umat.
Selain globalisasi, mentalitas instan bisa ”mewabah” secara akut karena sistem memang memungkinkan setiap orang untuk melakukannya. Praktik jalan pintas dalam realitasnya telah menjadi bagian yang sulit dilepaskan dari sistem birokrasi, perusahaan, maupun sistem yang lainnya. Bukti paling fenomenalnya adalah korupsi. Maraknya korupsi menunjukkan bahwa orang ingin menikmati kekayaan melalui jalan pintas. Semakin mewabahnya kejahatan juga menjadi indikasi mental instan.
Koentjaraningrat lewat buku klasiknya, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan,[3] jauh hari sebelum korupsi sedemikian membudaya, sudah mengingatkan apa yang disebutnya ”Mentalitas Menerabas”, yaitu bentuk mentalitas yang menyukai jalan-jalan pintas yang keluar dari prosedur. Hal yang sama juga dilakukan oleh Bung Hatta di awal tahun 1970-an. Waktu itu beliau membuat karangan yang isinya memperingatkan mengenai bahaya korupsi yang mulai tumbuh dan berkembang. Tetapi peringatan para tokoh bangsa ini tampaknya tidak memperoleh sambutan. Para pemimpin bangsa dari segala level justru memberikan teladan terhadap mental instan.
Pada titik inilah diperlukan usaha serius untuk kembali menawarkan perspektif proses. Saya tidak tahu namanya. Mungkin saja bisa disebut ”Mental Proses”, yaitu mental yang memahami dan menyadari bahwa untuk meraih sesuatu itu membutuhkan proses yang wajar dan masuk akal. Mentalitas semacam ini harus diperkenalkan, diperjuangkan, dan dibudayakan. Implementasi mentalitas ini menunjukkan bahwa hidup itu membutuhkan proses yang normal agar tidak terjebak dalam kehancuran.
Pengembangan diri dilakukan berdasarkan konsep bahwa hidup ini adalah proses. Ya, segala sesuatunya harus diletakkan dalam kerangka proses. Hasil itu penting, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana hasil itu diperoleh.
Menjalani proses itu ibarat menjalani pertarungan. Ini sejalan dengan filosofi hidup manusia yang selalu berproses dan berjuang dalam pertarungan antara akal sehat dengan hawa nafsu. Pertarungan ini terjadi sepanjang hidup manusia. Agar selalu terjaga maka manusia harus mewaspadai terhadap hawa nafsunya sepanjang hidup. Perlu ada perbaikan terus-menerus terhadap hati dan pikiran kita, sehingga setiap saat bisa selalu waspada terhadap godaan nafsu yang ada di sekeliling kita.[4]
Proses hidup memang membutuhkan kewaspadaan secara terus-menerus. Kewaspadaan ini secara implisit mengimplikasikan perlunya untuk pengembangan diri. Pengembangan diri memungkinkan manusia untuk selalu belajar, memperbaiki diri, dan siap menghadapi berbagai dinamika hidup yang ada.
Berkaitan dengan mentalitas proses ini, ada berita menarik yang penting untuk direfleksikan di Harian Jawa Pos edisi 2 Mei 2013. Berita tersebut berkaitan dengan usaha ”menggampar” mental instan. Berita ini saya temukan di sebuah kolom Close Up With...... Beritanya tentang novelis Iwan Setyawan.
Di berita tersebut ditulis bahwa sukses tidak bisa diraih secara instan. Terdapat proses perjuangan untuk mencapai hal tersebut. Melalui buku 9 Summers 10 Autumns,[5] Iwan Setyawan mengingatkan generasi muda yang kerap berpikir instan. Kisah Iwan adalah kisah nyata mengenai perjuangannya untuk meraih kesuksesan. Ia merupakan anak sopir angkot di Kota Batu Jawa Timur. Namun karena mimpi besarnya, ia mampu melanjutkan studi di New York.
Berkaitan dengan novelnya, Iwan menyatakan, ”Saya pengen nulis itu buat gamparin ponakan saya, pengen gamparin anak-anak muda. Sukses itu ada perjuangan hidup di dalamnya”.
Kata-kata Iwan Setyawan ini menarik dalam konteks mentalitas instan yang kian praktis. Buku Iwan merupakan sebuah contoh bagaimana kesuksesan yang diraihnya tidak datang dalam sekejap. Semuanya diraih melalui perjuangan dan kerja keras.
Iwan menegaskan bahwa sukses akan lebih bermakna jika diraih dengan perjuangan. Jika sesuatu diraih dengan berdarah-darah maka kebahagiaan lebih dapat terasa. ”Sukses kerasa manis kalau diraih dengan sepenuh hati. Kita harus berani hidup susah untuk hidup bahagia,” kata Iwan Setyawan.
Lebih jauh Iwan menegaskan bahwa sukses tidak dapat sendirian. Networking merupakan bagian penting dalam kesuksesan. Selain itu, setiap kesuksesan itu dapat memberikan kebahagiaan pula bagi orang lain.
Pengembangan diri berarti usaha yang dilakukan secara sadar untuk berubah, yakni berubah menjadi diri yang lebih berkualitas. Perubahan sendiri sesungguhnya merupakan bagian tidak terpisah dari kehidupan ini. Menghadapi perubahan, pilihan terbaik adalah mewarnainya. Larut dalam perubahan akan membuat kehilangan identitas diri. Sementara bertahan dan mengabaikan perubahan, justru akan menjadikan diri kita ”makhluk aneh”.
Mewarnai perubahan ternyata bukan hal mudah. Realitas kehidupan sekarang ini justru menunjukkan betapa banyak yang larut dalam perubahan. Gaya hidup, misalnya, menjadi bukti konkrit betapa banyak orang yang ikut arus terhadap model-model baru yang tidak selaras dengan budaya bangsa dan ajaran agama. Fashion juga bisa dijadikan contoh lain untuk hal ini.
Salah satu aspek penting yang dapat menjadi modal untuk mewarnai perubahan adalah pendidikan. Pendidikan memberikan modal besar—pengetahuan, sikap, dan keterampilan—sehingga memungkinkan seseorang dapat menjadi manusia yang selalu eksis menghadapi setiap perubahan. Bahkan, sangat mungkin ia mampu menjadi pionir perubahan itu sendiri.
Perubahan memang menjadi realitas yang harus disikapi secara bijak. Harus disiapkan berbagai perangkat untuk melakukan transformasi dalam era ini. Pilihan menghadapi perubahan secara ekstrim hanya dua, ”Change or Die!”, ”Berubah atau Mati”.


[1]Damardjati Supadjar, Filsafat Ketuhanan Menurut Alfred North Whitehead (Yogyakarta: Fajar Pustaka, 2000), hlm. 21.
[2]A. Qodri Azizy, Melawan Globalisasi: Reinterpretasi Ajaran Islam, Persiapan SDM dan Terciptanya Masyarakat Madani (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 26.
[3]Lihat Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan (Jakarta: Gramedia, 1986).
[4]Akbar Zainuddin, Man Jadda Wajada, The Art of Excellent Life (Jakarta: Gramedia, 2010), hlm. 11.
[5]Lihat novel Iwan Setyawan, 9 Summers 10 Autumns (Jakarta: Gramedia, 2012).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar