Senin, 27 Juni 2016

Merasakan “Flow” Saat Puasa



Oleh Ngainun Naim


Kuliah mahasiswa sudah selesai. Tetapi bukan berarti di kampus tidak ada kegiatan sama sekali. Justru saya merasakan kegiatan demi kegiatan terus datang. Pada awalnya saya membayangkan jika bulan puasa ini saya bisa lebih konsentrasi membaca dan menulis. Tetapi bayangan saya tidak tepat. Saya hanya berusaha menjalani dan menikmati apa yang ada.
Salah satu kegiatan yang harus saya lakukan di bulan puasa ini adalah menjadi penceramah di Masjid Kampus IAIN Tulungagung usai shalat dhuhur. Saya mendapatkan jadwal pada hari Selasa tanggal 21 Juni 2016. Beberapa buku yang berkaitan dengan bulan puasa saya baca sebagai persiapan ceramah. Harapannya adalah agar apa yang saya sampaikan bisa memberikan sudut pandang baru kepada jamaah.
Saya sadar bahwa kemampuan berbicara saya di hadapan jamaah tidak seenak para penceramah yang sudah memiliki jam terbang tinggi. Model saya berceramah mungkin lebih mirip kuliah karena memang itu yang mampu saya lakukan. Namun demikian, saya berusaha menjalankan tugas yang diamanahkan semampu saya.
Setelah membaca beberapa buku, saya memutuskan untuk tidak mengambil topik yang berkaitan dengan aspek syariat puasa. Topik sejenis ini sudah dibahas oleh para pembicara sebelumnya. Saya mencoba mengaitkannya sesuai dengan bidang yang saya mampu, yaitu puasa perspektif riset.
Saya teringat buku yang menarik karya Hisanori Kato. Judulnya Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang (Jakarta: Gramedia, 2012). Buku tersebut menurut saya sangat menarik karena menceritakan bagaimana Indonesia dilihat dengan segala keunikannya. Pada awalnya, Hisanori Kato merasakan keanehan saat datang ke Indonesia. Menghadapi berbagai persoalan, orang Indonesia menganggap sebagai ”tidak apa-apa”. Listrik mati, kereta terlambat, pencopetan, tidak disiplin, dan berbagai ketidakberesan lainnya dianggap oleh orang Indonesia sebagai ”tidak apa-apa”. Padahal, semuanya itu dinilai Kato sebagai ”apa-apa”.
Pada awalnya Kato tidak mudah untuk beradaptasi dengan Indonesia. Seiring perjalanan waktu, Kato menemukan momentum untuk mencintai Indonesia. Ia menemukan banyak hal berkesan. Karena itu, ia selalu merasa kangen setiap meninggalkan Indonesia. Ia selalu ingin kembali.
Saya mengawali paparan saya dengan mengutip buku Kato. Perspektif yang ia gunakan saya pakai untuk memaknai puasa. Puasa, sebagaimana ibadah yang lainnya, tidak mudah menjalankannya. Ada begitu banyak hambatan dan tantangan yang harus dihadapi saat menjalankannya. Namun jika puasa sudah sering dilakukan, akan tumbuh pemahaman, pengetahuan, dan kesadaran terhadap puasa. Rasanya akan rindu bagaimana menjalankan ibadah puasa.
Tentu, tidak semua orang bisa merasakannya. Dibutuhkan proses dan usaha secara terus-menerus. Puasa yang dilakukan dengan sepenuh hati ini bisa menghadirkan momentum ”flow”, yakni puasa yang penuh kenikmatan. 
Semoga catatan sederhana ini ada manfaatnya.

Tulungagung, 27 Juni 2016

2 komentar:

  1. wah sama kayak saya di tempat baru nih. air susah. bagi orang sini tidak apa2 tapi bagi saya äpa2"hhehe

    BalasHapus
  2. Iya Bang Day, buat "tidak apa-apa", biar santai he he he.

    BalasHapus