Kamis, 30 Juni 2016

Menghargai Keragaman



Oleh Ngainun Naim
Buku Al Makin di tangan Prof. Noorhaidi Hasan, Ph.D.

Sebuah buku bertajuk Keragaman dan Perbedaan, Budaya dan Agama dalam Lintasan Sejarah Manusia sudah memikat hati saya sejak mulai diunggah di facebook. Apalagi informasi yang saya temukan menyebutkan bahwa buku tersebut dibedah di beberapa tempat, antara lain di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Salatiga, dan UIN Sunan Ampel Surabaya. Hal ini menjadikan hasrat untuk memiliki buku itu kian kuat.
Hasrat memiliki buku tersebut disebabkan karena ada beberapa alasan. Pertama, topik yang diangkat aktual. Perbedaan menjadi fakta yang tidak bisa dipungkiri. Tidak jarang kita terlibat dalam konflik berkepanjangan gara-gara gagal memposisikan perbedaan secara konstruktif. Akibatnya, perbedaan tidak menjadi kekayaan hidup, tetapi justru menjadi sumber bencana.
Kedua, perspektif yang digunakan. Saya kira perspektif keilmuan yang diterapkan untuk membaca fenomena keragaman akan menentukan hasil pembacaannya. Perspektif sejarah menjadi menarik karena saya kira belum banyak digunakan untuk membaca fenomena keragaman dan perbedaan.
Ketiga, faktor penulis. Secara personal saya baru beberapa kali bertemu Al Makin. Itu pun tanpa diskusi dan dialog intensif. Mungkin karena momentumnya yang kurang memungkinkan. Al Makin dosen di UIN Sunan Kalijaga, saya di IAIN Tulungagung. Saya memang pernah studi di UIN Sunan Kalijaga, tapi saat itu Al Makin sedang studi di Jerman. Jadi ada banyak hal yang membuat saya tidak bisa bertemu.
Nama Al Makin sudah saya ketahui sejak lama. Suatu saat, sekitar tahun 2003, saya membeli sebuah buku yang berjudul Nabi Palsu, Membuka Kembali Pintu Kenabian. Buku ini diterbitkan oleh Ar-Ruzz Yogyakarta. Cover buku ini--mohon maaf--kurang begitu menarik. Tapi judulnya memantik keingintahuan saya. Saya baca buku yang seperti novel itu sampai tuntas. Saya menemukan perspektif berbeda yang memperkaya wawasan. Bahasa yang mengalir dan renyah membuat buku tersebut menarik ditelusuri halaman demi halaman.
Saat buku karya Al Makin yang berjudul Antara Barat dan Timur: Batasan, Dominasi, Relasi dan Globalisasi terbitan Serambi Jakarta diulas di berbagai media, saya pun berburu. Saya mendapatkannya di sebuah toko buku di Ponorogo. Buku ini juga sangat menarik. Karena itu ketika buku Keragaman dan Perbedaan terbit, saya juga berusaha mencarinya. Beruntung sekali, saya mendapatkan buku ini langsung dari penulisnya. Tentu saya harus mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada beliau.
Saat saya masuk kantor pada senin 25 April 2016, sebuah paket datang. Isinya buku bersampul hitam dengan tulisan judul buku warna merah menyala dan putih. Sebuah paduan warna yang menurut saya mengesankan keseriusan.
Saya mulai membuka-buka buku tersebut. Di halaman awal, saya menemukan kumpulan endorsement dari para pakar. Mereka adalah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Prof. Dr. M. Amin Abdullah, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. Gerrit Singgih, Dr. St. Sunardi, Prof. Noorhaidi Hasan, Ph.D, Prof. Arskal Salim, Ph.D, Dr. Moch. Nur Ichwan, Prof. Nadirsyah Hosen, Ph.D, Dr. Budhy Munawwar-Rachman, Bramanto Prijosusilo, dan Dr. Budi Subanar, SJ. Banyaknya endorsement tersebut menunjukkan bahwa buku ini bukan buku biasa.
Saya akan kutipkan contoh endorsement yang dibuat oleh Prof. Dr. M. Azyumardi Azra: Buku Al Makin, Ph.D ini adalah karya penting tentang sejarah keragaman dan perbedaan pemahaman praksis agama-agama dalam perjalanan sejarah umat manusia. Dengan cakupannya yang luas dan mendalam, buku ini pastilah memperkaya perspektif dan wawasan pembaca untuk menyikapi perbedaan dan keragaman agama dan budaya secara arif dan bijak.

Buku karya Dr. Phil. Al Makin, MA saya baca sedikit demi sedikit. Selain kesempatan yang terbatas, saya juga ingin menikmati bagian demi bagian. Lewat cara semacam ini saya berharap bisa meraih makna yang ada.
Struktur buku ini menarik dicermati. Bagian pertama diberi tajuk "Pembuka". Ada empat sub-bagian di dalamnya, yaitu "Pertanyaan mendasar", "Argumen bukan kronologi", "Keragaman", dan "Terima kasih".
Saat mulai masuk, kalimat pertamanya tentang tujuan penulisan buku ini sudah nendang banget. "..agar Anda menyelami keragaman dan perbedaan dalam sejarah, pengetahuan dan tradisi keagamaan". Ini tentu tujuan yang luar biasa. Dan Anda akan diajak menelusurinya lewat jejak sejarah yang sangat panjang dan jarang tersentuh.
Apa contohnya? Banyak. Nanti saya tunjukkan bagaimana Al Makin mengajak menelusuri dan mengkritisi banyak hal yang selama (di/ter)baku(kan). Sebelum menjelaskan, saya ingin mengutip kalimat menarik di halaman 4:
Buku ini arahnya sejarah ke belakang, masa kuno, klasik, dan klasik akhir. Tetapi diharapkan pandangan sejarah berguna untuk refleksi masa kini. Masa lalu adalah awal dari masa kini; masa lalu menjadi fondasi masa kini, namun juga sekaligus dicipta pada masa kini. Coba simak. Sebuah kalimat reflektif dan filosofis.

Setelah menjelaskan tentang mengapa buku ini ditulis, Al Makin di bab selanjutnya mengulas tentang "Awal Dunia dari Warisan Narasi Kuno". Pada bab ini terlihat jelas betapa buku ini menghadirkan perspektif baru yang mencerahkan. Saya ingin memberikan contoh bagaimana perspektif tersebut dihadirkan. Al Makin menjelaskan bahwa pertanyaan bagaimana dunia ini dimulai sangat penting buat manusia. Begitu pentingnya sehingga pertanyaan ini menjadi khazanah semua peradaban. Untuk membuktikan argumennya, Al Makin menelusuri berbagai literatur dari banyak peradaban.
Bab satu sungguh kaya informasi. Dari seluruh uraian di bab satu, Al Makin menyimpulkan bahwa, ”pemahaman tentang adanya dunia lain selain dunia ini adalah warisan Mesir”. Kesimpulan ini dibuat setelah uraian panjang lebar dengan referensi yang sangat kaya. Saya menyukai cara Al Makin bertutur. "Gaya bahasanya unik dan menarik. Sungguh menginspirasi", kata seorang teman dosen usai mencicipi bab satu buku ini.
Tentu ada banyak lagi aspek menarik yang bisa dijelajahi dari buku Dr. Al Makin. Tulisan sederhana ini jelas tidak mampu mengapresiasi dan mengungkapkan panjang lebar isi buku tersebut. Karena itu dilahkan baca dan jelajahi sendiri buku tersebut. Selamat membaca.

Tulungagung, 30 Juni 2016.

2 komentar: