Jumat, 03 Juni 2016

Membangun Literasi Intelektual NU



Oleh Ngainun Naim
 
Cover buku
Rasanya bahagia sekali buku kumpulan intelektual NU yang tergabung dalam Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) bisa terbit. Sungguh ini merupakan anugerah tak terkira. Awalnya hanya perbincangan santai pengurus ISNU Cabang Tulungagung. Tetapi akhirnya ditindaklanjuti dengan serius. Tentu tidak perlu saya ceritakan perjuangan mengumpulkan naskah dan mengeditnya. Semua itu telah tertutupi dengan terbitnya buku ini.
Buku ini semoga menjadi tradisi baru di lingkungan NU Tulungagung, yaitu tradisi tulis. Jika berbicara dan berdiskusi itu sudah biasa di kalangan nahdliyin, tetapi untuk menulis masih belum. Memang ada beberapa warga NU yang rajin menulis, tetapi jumlahnya tidak berbanding dengan jumlah warga NU.
Buku kumpulan tulisan para intelektual NU yang kebetulan saya edit sungguh kaya warna. Ya, kaya warna dan menggugah. Pertama, topik yang ditulis mencakup tema yang sangat luas. Ada yang menulis masalah ideologi, politik, ekonomi, manajemen, pendidikan, budaya, sampai soal hadis. Topik yang melintas batas tersebut sungguh merupakan kekayaan warna dalam dimensi intelektual.
Kedua, latar belakang penulis. Ada yang berlatarbelakang guru, dosen, mahasiswa, santri, hingga enterpreneur. Latar belakang mereka memengaruhi terhadap tulisan yang mereka buat. Ketiga, keragaman geografis. Betul buku ini yang menerbitkan ISNU Tulungagung. Tetapi penulisnya tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dr. Eko Siswanto adalah dosen STAIN Alfatah Jayapura, tetapi beliau dulu adalah Pengurus IPNU Tulungagung. Ada juga penulis dari Jambi, Ponorogo, Malang, Surabaya, dan dari beberapa kota lain. Tetapi sebagian besar diisi pengurus ISNU Tulungagung.
Sejak sampai buku tersebut ke kantor saya sekitar sebulan lalu, buku ini telah terdistribusi sampai 100 eksemplar lebih. Beberapa pemesan juga sudah minta dikirim buku ini. Semoga buku ini bermanfaat untuk umat.
Kiriman untuk para pemesan

Buku yang kebetulan saya edit ini menghadirkan data, informasi, dan pemikiran-pemikiran cerdas para intelektual NU Tulungagung dan sekitarnya. Saat mengedit dan membaca tulisan-tulisan mereka, tiba-tiba optimisme saya meningkat. Saya merasa bahwa mereka adalah pemikir-pemikir besar. Hanya butuh waktu dan kesempatan untuk menunjukkan kebesaran mereka. Dan buku yang saya edit semoga menjadi salah satu media untuk itu.
Tulisan Sekretaris Umum ISNU Tulungagung sungguh unik. Saya menemukan pernik-pernik ideologis ke-NU-an dan kecerdasan argumentatif di dalam ulasannya. Anda mungkin akan terkejut--jika tidak juga tidak apa-apa--saat Dr. Agus Zaenul Fitri yang juga Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Tulungagung merangkai narasi Gus Dur. Juga bagaimana secara elok ia bertutur tentang pluralisme Gus Dur lewat tangan Kiai Marzuki Mustamar. Sungguh, Anda perlu menikmati paparan dosen muda energik nan produktif ini.
Bagaimana NU di Papua? Mungkin Anda terkejut dengan pertanyaan ini. NU cukup eksis di Papua. Gerak dan aktivitas NU cukup produktif, khususnya dalam konteks kerukunan umat beragama. Secara detail Ketua Tanfidziyah NU Jayapura periode 2009-2014, Dr. Eko Siswanto bertutur kompleksnya kehidupan sosial keagamaan di Jayapura. Pelan tapi pasti NU menancapkan kiprahnya di bumi Indonesia ujung timur tersebut. Baca dan simak uraian Dr. Eko dan Anda akan menemukan spirit transformasi yang kuat.
Tulisan intelektual muda yang juga mahasiswa Pascasarjana Ilmu Al-Quran dan Tafsir IAIN Tulungagung, Rizal Mubit, menarik dibaca untuk memahami dinamika politik di tubuh NU. Rizal memiliki cara bertutur unik di tulisannya. Argumentasinya jernih. Penulis muda yang telah menerbitkan beberapa novel ini menyatakan bahwa ada tiga kunci untuk memahami politik NU; kebijaksanaan, keluwesan, dan moderatisme. Tiga hal inilah yang menjadikan NU selalu eksis di setiap perkembangan sosial politik. Walaupun ada yang nyinyir menyebutnya sebagai "plin-plan".
Kiriman untuk penulis

Salah satu bidang yang sepi peminat adalah ilmu falak. Di IAIN Tulungagung, dosen bidang ini adalah Ahmad Musonnif. Kader NU yang juga aktivis Lajnah Falakiah NU Cabang Tulungagung ini merupakan orang yang konsisten di bidang ilmu yang ditekuninya. Buku, artikel, dan penelitian yang dilakukannya tidak pernah bergerak jauh dari bidang falak. Di buku yang saya edit, Musonnif--namanya saja sudah berarti pengarang--menulis tentang madzhab falak NU. Ia menuturkan secara runtut topik ini. Saya baru "ngeh" setelah membaca tulisan anak muda pendiam ini bahwa madzhab falak NU itu setengah rukyat setengah hisab. Kok bisa? Jelas bisa. Silahkan baca tulisan ciamik Musonnif di buku ini.
Muhammad Nawawi yang merupakan aktivis IPNU Tulungagung menulis sebuah tema unik, yaitu "Memahami Makna Jamaah dalam Memahami Islam Otentik". Kajian yang dilakukan Nawawi cukup serius. Ia memiliki modal cukup mengkaji Al-Quran dan Hadis karena ia sarjana di bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT) dari IAIN Tulungagung. Kata Jamaah memiliki konotasi makna yang tidak tunggal. Beberapa kelompok menyebut dirinya Ahlussunnah waljamaah, tetapi karakteristiknya berbeda dengan Aswaja model NU. Pada titik inilah, tulisan Nawawi penting dibaca.
Artikel berikutnya ditulis Fathurrohman Nur Awalin. Topiknya menarik dan aktual untuk saat sekarang menjelang ramadhan ini, yaitu slametan. Tradisi slametan telah membudaya di kalangan NU. Dan Awalin berhasil menelisik hingga aspek filosofis slametan. Saya menikmati ulasan simbolik apem, tumpeng, ingkung, kembang telon, gedang rojo, sego gurih, ambengan, jajan pasar, dan sejenisnya. Baca tulisan Awalin dan temukan esensi slametan tanpa perlu takut dibid'ahkan kelompok radikalis.
Salah satu perkembangan menarik dari Islam Indonesia adalah fenomena Islam transnasional. Kelompok Islam bercorak keras dan mudah mengafirkan mereka yang berbeda paham ini menemukan ruang tumbuh dan berkembang pasca tumbangnya Orde Baru. Nur Aziz Muslim--intelektual NU yang dibesarkan dalam tradisi pesantren--menulis artikel yang menarik tentang persoalan ini. Judulnya "NU, Islam Nusantara, dan Islam Tradisional". Aziz mengulas bahwa Islam Nusantara merupakan jenis Islam yang berhasil berdialektika dengan budaya lokal. Karena itu Islam Nusantara fleksibel dan dinamis menghadapi perkembangan dan perubahan zaman. Islam transnasional yang literalis membabat habis segala hal yang dinilai mengganggu kemurnian ajaran Islam (versi mereka). Mereka tidak kenal kompromi. Kekerasan pun bisa ditempuh. Pada titik inilah tulisan Nur Aziz Muslim menarik untuk diapresiasi. Memang tulisannya tidak terlalu panjang, tetapi isinya cukup bermutu. Dan saya kira itu merupakan tipikal tulisan seorang intelektual.
Tahun 1960-an listrik belum tersebar merata. Di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, di sebuah malam yang gulita, sepotong api rokok terlihat berada di halaman asrama. Seorang santri senior yang melihat ada orang merokok segera mendekat dan menyapa.
”Kang, gabung satu dua hisapan,” katanya dengan santai.
Di pesantren, merokok gabung sudah biasa. Satu rokok dihisap bergantian oleh beberapa santri.
”Monggo,” kata sang pemilik rokok sambil memberikan rokoknya.
Tanpa pikir panjang, rokok segera dihisap kuat-kuat. Api yang membakar tembakau membuat temaram cahaya di kegelapan. Betapa terkejutnya si santri karena samar terlihat wajah Kiai Wahab Hasbullah ada di depannya. Rupanya pemilik rokok adalah kiai pengasuh pesantren. Tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dan ketakutannya, si santri berlari dengan membawa rokok kiai. Sang Kiai segera meneriaki si santri.
”Kang, mau ke mana. Katanya gabung satu dua hisap, kok rokokku malah dibawa lari.”
Begitulah, cerita humor adalah wajah lain dunia pesantren. Jika kreatif mengumpulkan menuliskannya, bisa lahir berpuluh-puluh buku kumpulan humor dari dunia pesantren. Humor, sebagaimana ditulis Armin Marwing, adalah dimensi penting kehidupan pesantren. Arman melakukan telaah psikologi terhadap humor ini dan menyimpulkan bahwa salah satu kekuatan NU dan pesantren ada di aspek humor ini. Kok bisa? Ya bisa. Silahkan baca sendiri ulasannya di buku terbitan ISNU Tulungagung yang saya edit.

Tulungagung, 3 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar