Rabu, 29 Juni 2016

Evaluasi terhadap Keberagamaan Kita



Oleh Ngainun Naim
Buku M. Husnaini

Saya sangat bersyukur memiliki banyak teman penulis. Beberapa di antaranya belum pernah bertemu muka. Dialog dan diskusi berlangsung di jejaring sosial, khususnya facebook.
Beberapa penulis pada akhirnya berhasil ”kopdar” (kopi darat). Ada yang kopdar karena kebetulan dan ada yang karena direncanakan. Bertemu mereka, rasanya sungguh menggembirakan. Ilmu dan semangat saya dalam menulis seolah mendapatkan suntikan energi dan asupan gizi.
Setiap karya para sahabat penulis terbit, ada kebahagiaan yang membuncah. Sesama penulis harus saling mendukung. Ada banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya dengan membeli karyanya atau mengulas karya mereka di berbagai jejaring sosial. Namun ada juga teman penulis yang berbaik hati menghadiahi buku karyanya secara gratis sebagai wahana untuk mempererta persahabatan. Kepada mereka yang berbaik hati saya sampaikan terima kasih yang tak terkira.
Beberapa waktu lalu saya menghadiri Musyawarah Besar komunitas Sahabat Pena Nusantara (SPN) ke-2 di Wisma Sargede Yogyakarta. Acara Mubes sungguh mengesankan. Saya membuat catatan cukup panjang yang kemudian saya unggah di blog saya. Ternyata, catatan sederhana yang saya buat mendapatkan apresiasi dari Ketua Umum SPN, M. Husnaini, M.Pd.I. Saya mendapatkan kiriman gratis buku terbaru beliau yang berjudul Allah Pun ”Tertawa” Melihat Kita (Jakarta: Quanta, 2016).
Saya baca buku bercover dasar putih itu dengan penuh minat. Tentu, saya membacanya sedikit demi sedikit di sela-sela aktivitas harian yang lumayan padat. Susunan kalimatnya yang lancar dan bahasanya yang mengalir membuat saya menikmati bagian demi bagian dari buku besutan penulis asal Lamongan tersebut. Butuh beberapa hari untuk menuntaskannya.
Menurut saya, buku M. Husnaini bertemakan tentang keberagamaan kita. Di dalamnya ada bahasan tentang teologi, fikih, sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Tetapi semua aspek yang dibahas tidak sekadar menggunakan metode deskriptif-normatif. Meskipun tidak diuraikan dan disebutkan secara eksplisit, Husnaini sesungguhnya menggunakan beberapa pendekatan di tulisan-tulisannya.
Pendekatan historis cukup dominan digunakan. Di bagian awal, Husnaini bercerita tentang bagaimana pemimpin itu seyogyanya adil dan hidup sederhana. Secara impresif Husnaini mengajak kita semua untuk belajar kepada Said Ibn Amir al-Jumahi, Gubernur Homs Syuriah, yang hidupnya sangat sederhana. Said memiliki tiga karakteristik yang hampir pasti tidak dimiliki oleh seorang gubernur di era sekarang. Pertama, Said tidak akan keluar rumah kecuali hari sudah siang. Bukan karena ia malas, melainkan karena pagi hari ia harus menyiapkan adonan untuk roti sampai masak. Sebagai gubernur yang sederhana, ia melakukannya sendirian. Ia tidak memiliki pembantu.
Kedua, Said hanya mau menerima tamu pada siang hari. Bukannya ia sombong sehingga tidak mau menerima tamu di malam hari. Bagi Said, malam hari adalah waktu yang khusus ia gunakan untuk beribadah kepada Allah.
Ketiga, Said memiliki satu yang khusus dalam setiap bulannya untuk tidak keluar rumah. Bukan karena malam atau karena istirahat melainkan karena ia menggunakan satu hari itu untuk mencuci pakaiannya yang jumlahnya terbatas.
Pendekatan lain yang digunakan adalah pendekatan filosofis. Saya akan mengutip bagaimana pendekatan ini digunakan secara menarik. Pada halaman 43 bukunya ia menulis:

Penggila hormat ingin selalu lekas terkenal. Tidak peduli meski harus dengan cara-cara instan. Karena itu, mereka umumnya membaca sedikit berbicara banyak, mengkaji sedikit berkomentar banyak, menulis sedikit mencela banyak, mengamati sedikit mengkritik banyak, memahami sedikit menyalahkan banyak, menginsyafi sedikit mengeluh banyak, berkeringat sedikit berharap banyak, belajar sedikit menuntut banyak, beribadah sedikit meminta banyak.

Tentu ada juga beberapa pendekatan lain yang digunakan. Secara substansial buku ini bermuara pada, ”...upaya mencerahkan semangat keimanan yang barangkali sempat meranggas dalam dada. Penulis berusaha memilih bahasa sederhana supaya mudah dicerna” (h. xix).
Buku ini sungguh menarik. Ada begitu banyak aspek yang bisa Anda peroleh jika membaca buku ini. Syaratnya adalah Anda mau membuka hati dan kesadaran Anda.
Sengaja saya tidak menggunakan pendekatan kritis buku ini. Jika mencari kelemahan, tentu setiap buku memiliki kelemahan. Tetapi menulis dan menerbitkan buku itu sendiri sudah sebuah perjuangan yang tidak mudah. Jadi penting untuk diapresiasi. Selamat membaca.

Tulungagung, 29 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar