Rabu, 11 Mei 2016

Menulis Tetapi Tidak Belajar



Oleh Ngainun Naim

Buku yang saya edit. Isinya bercerita bagaimana para penulisnya belajar membaca dan menulis

Salah satu kegiatan perkuliahan yang harus dilakukan oleh mahasiswa adalah membuat makalah. Topik yang harus ditulis dan referensi yang bisa diacu biasanya sudah dibagikan oleh dosen. Tugas mahasiswa adalah mencari referensi, membaca secara cermat, membuat kerangka, lalu menyusun makalah.

Tahapan demi tahapan dalam menyusun makalah memiliki beberapa tujuan. Pertama, kemandirian mahasiswa. Kuliah berbeda dengan sekolah. Mahasiswa berbeda dengan siswa. Kemandirian menjadi salah satu titik pembedanya.

Kedua, membangun tradisi membaca. Saya ingat persis pernyataan dosen waktu orientasi menjelang kuliah S-1 sekitar 22 tahun lalu. Saat itu dinyatakan bahwa kuliah di kelas hanya bisa memberi kontribusi sekitar 15%. Sisanya yang 85% diperoleh dari belajar sendiri. Dan itu berarti seorang mahasiswa harus rajin membaca.

Ketiga, berpikir sistematis. Menulis berbeda dengan berbicara. Anda boleh berbicara apa saja, bahkan dengan mudah bisa berganti topik. Tetapi menulis makalah harus mengikuti logika berpikir ilmiah. Ada alur sistematis yang harus diikuti.

Keempat, membangun budaya menulis. Menulis makalah--dan tulisan jenis lainnya--merupakan upaya sistematis membudayakan menulis. Jika mahasiswa serius, empat tahun kuliah sudah cukup untuk membangun kemampuan menulis yang memadai.

Empat tujuan pembuatan makalah--sebagaimana catatan sebelumnya--hanyalah menurut pendapat saya. Tentu ada pendapat-pendapat lain yang berbeda. Jika mahasiswa membuat makalah secara sungguh-sungguh, saya kira masa studi sekitar 4 tahun jenjang S1 sangat memadai untuk belajar dan mengasah keterampilan menulis. Tetapi ternyata realitas tidak selalu semacam itu. Bahkan tidak jarang sebaliknya.

Berkaitan dengan hal ini, saya menemukan beberapa tipe mahasiswa. Pertama, mahasiswa yang menjadikan tugas membuat makalah sebagai sarana belajar. Mereka melakukannya secara sungguh-sungguh. Buku-buku dan data-data dicari, dibaca, dan dipahami. Makalah pun dibuat dengan penuh kesungguhan. Waktu kuliah benar-benar membuat kualitas dan keterampilan menulis mahasiswa semacam ini meningkat tajam.

Kedua, mahasiswa yang intensitas belajarnya tidak stabil. Kadang serius, kadang malas. Jika sedang serius, makalah yang dihasilkan pun bagus. Tetapi saat malas menyapa, makalah yang dihasilkan pun tidak jelas arah dan mutunya.

Ketiga, mahasiswa bermental instan. Tipe ini tidak menjadikan tugas makalah sebagai sarana belajar menulis, tetapi sebagai kewajiban. Yang penting makalah selesai. Soal cara tidak penting. Internet menjadi sumber penting mahasiswa tipe ini. Maka, tugas makalah tidak ada kontribusinya terhadap peningkatan keterampilan menulis.

Keempat, mahasiswa angka ikut. Tipe ini sangat mungkin tidak pernah membuat karya tulis sekalipun. Tugas makalah dikerjakan orang lain. Tipe ini sesungguhnya hanya menjadikan kuliah sebagai sarana meraih gelar. Tentu saja, tidak perlu diperbincangkan kontribusinya pada keterampilan menulis.
Mahasiswa tipe pertama adalah mahasiswa yang sukses. Mereka menulis dengan belajar. Sebelum menulis, buku-buku referensi dibaca dengan penuh minat, Aspek inilah yang menjadikan kualitas diri bisa terus tumbuh dan berkembang sepanjang waktu.

Menulis itu bukan proses sekali jadi. Dibutuhkan usaha dan praktik secara terus-menerus. Kesabaran, ketekunan, dan kegigihan dalam menjalani aktivitas menulis akan membawa dampak nyata berupa keterampilan menulis yang canggih. Mahasiswa tipe 2, 3, dan 4 tampaknya menulis tetapi tidak belajar. Implikasinya, tidak ada kemajuan berarti pada keyerampilan menulis mereka. Bertahun-tahun kuliah dam membuat makalah tidak juga membuat mereka semakin terasah keterampilan menulisnya.

Tidak ada teori ampuh yang berfungsi tanpa dipraktikkan. Demikian juga dengan menulis. Berlatih dengan menulis secara rutin adalah formula ampuh menghasilkan tulisan bermutu. Banyak orang yang menguasai teori menulis tetapi tidak memiliki karya. Ada juga yang tidak memiliki banyak teori tetapi karyanya terus bermunculan. Jika mahasiswa ingin bisa menulis dengan baik maka tugas membuat makalah dan tugas menulis lainnya seyogyanya betul-betul dipahami, dihayati, dinikmati dan dikerjakan dengan penuh kesungguhan. Itulah yang saya sebut menulis dengan belajar.

Tulungagung, 3-5 Mei 2016.

2 komentar: