Kamis, 26 Mei 2016

Menulis Tanpa Siksaan



Oleh Ngainun Naim

Buku Sidik Nugroho


Buku-buku tentang menulis selalu menarik perhatian saya. Saya selalu menemukan spirit, informasi, dan pengetahuan tentang menulis dari buku-buku semacam itu. Setelah membacanya, saya bisa memperbaiki keterampilan saya dalam menulis.

Memang tidak semua buku tentang menulis saya beli. Ada yang saya baca di toko buku, perpustakaan, diberi penulisnya, atau saya pinjam dari teman. Hanya buku-buku tertentu yang saya beli setelah mempertimbangkan berbagai hal.

Beberapa waktu lalu saya membeli via online sebuah buku karya Sidik Nugroho. Buku tersebut berjudul "Menulis untuk Kegembiraan" (Pontianak: Penerbit Buana Karya, 2016). Karena diterbitkan secara mandiri, membelinya harus langsung ke penulisnya. 

Buku karya Sidik Nugroho sudah tamat saya baca di sela-sela kesibukan beraktivitas sehari-hari. Saya menemukan beberapa hal penting dari buku tersebut.

Pertama, pentingnya proses. Pada halaman 11 Sidik Nugroho menulis bahwa sebuah karya besar itu tidak ada yang lahir secara instan. Sebuah karya besar lahir melalui proses panjang yang berkesinambungan. ”Karya yang besar lahir karena sebuah ilmu benar-benar digeluti dengan intensitas dan pengorbanan tidak setengah-setengah, pula disertai meditasi,” tulis Sidik Nugroho.

Kedua, inti dari spirit di buku karya Sidik Nugroho adalah menulis untuk kegembiraan; menulis tanpa siksaan. Bisa menulis itu harus disyukuri. Menulis itu harus dinikmati. Itulah yang menjadikan menulis dilingkupi kegembiraan. Orientasi material mungkin menyenangkan, tetapi bisa menyiksa.

Ketiga, menulis itu harus dilakukan dengan totalitas. Aspek ini menyadarkan saya bahwa totalitas itu menentukan keberhasilan menulis. Kurangnya totalitas menyebabkan proses menulis kurang berjalan maksimal. Penting bagi kita belajar pada totalitas musikus dunia, Beethoven;

”Pada musim dingin atau musim panas, Beethoven bangun pagi saat matahari terbit. Kemudian, dia duduk di meja tulisnya, dan terus menulis sampai waktu makan siang pada pukul dua atau tiga sore. Pekerjaannya tidak pernah putus kecuali untuk berjalan-jalan mencari udara segar, tetapi selalu dengan membawa notes untuk menuliskan inspirasi segar yang didapatinya saat berjalan-jalan” (h. 16-17).

Keempat, terus belajar. Menjadi penulis tidak boleh sombong dengan berhenti belajar. Jika ingin berhasil, belajar harus terus dilakukan sepanjang usia. Sebenarnya masih ada banyak hal penting lain yang bisa diperoleh dari buku ini. Jika Anda rajin menelaah isinya, Anda akan menemukan banyak ilmu yang bermanfaat. Salam. 

Pondok Pesantren MIA  Tulungagung, 26-5-2016.

4 komentar:

  1. Kalimat ”Karya yang besar lahir karena sebuah ilmu benar-benar digeluti dengan intensitas dan pengorbanan tidak setengah-setengah, pula disertai meditasi,” memberi inspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belajar Teknologi@ terima kasih atas apresiasinya.

      Hapus
  2. Terima kasih atas apresiasi ini, Pak Ngainun. Senang sekali membacanya. Salam literasi.

    BalasHapus
  3. Sama-sama Mas Sidik Nugroho. Senang juga bisa membaca buku Mas Sidik. Salam.

    BalasHapus