Selasa, 24 Mei 2016

Mengulas Islam Nusantara



Oleh Ngainun Naim

Pembukaan

Istilah Islam Nusantara masih tetap seksi sebagai tema diskusi. Pro dan kontra mengiringi seolah tanpa henti. Justru karena itulah topik ini memiliki magnet tersendiri.
Zainul Milal presentasi


Secara pribadi saya tidak menempatkan Islam Nusantara sebagai objek kajian unggulan. Saya membaca buku-buku dan tulisan-tulisan tentang Islam Nusantara sebagaimana tema-tema yang lainnya. Posisi ini tentu berbeda dengan para peneliti yang fokus pada bidang ini.

Karena itu merupakan sebuah kejutan saat Ketua RMI Cabang Tulungagung, Kiai Bagus Ahmadi, tiba-tiba datang ke ruang kerja saya. Intinya beliau meminta saya untuk menjadi pembanding dalam kegiatan bedah buku yang digelar tanggal 5 Mei 2016. Buku yang dibedah adalah Masterpiece Islam Nusantara karya Dr. Zainul Milal Bizawie.
Poster acara

Tentu, saya mengiyakan. Kepercayaan yang beliau berikan harus saya rawat secara baik. Caranya dengan membaca secara baik isi buku yang ketebalannya nyaris menyentuh angka 600 halaman tersebut, mencari kunci-kunci penting buku, menganalisis, dan memberikan catatan kritis. Harus jujur saya akui, saya keteteran menyediakan waktu membaca. Saya tidak ingin menyebut kesibukan sebagai penyebab, walaupun sesungguhnya saya lumayan banyak kegiatan. Tetapi semuanya harus dikerjakan secara baik.

Presentasi penulis buku

Rabo sore Kiai Bagus Ahmadi berkirim WA yang isinya mengingatkan bahwa kamis adalah hari pelaksanaan acara. Saya pun mengiyakan. 

Tepat pukul 08.30 saya sampai di Kantor NU Cabang Tulungagung. Di ruangan sudah ada Ketua PCNU, KH Abdul Hakim Mustofa dan Dr. Zainul Milal Bizawie. Bersama Dr. Milal ada Mas Hariri dan Mbak Lala dari Penerbit Compass yang menerbitkan buku Masterpiece Islam Nusantara.
Foto bersama usai acara


Satu persatu pengurus NU hadir di kantor PCNU Tulungagung. Ada Kiai Abdul Fatah, ada Kiai Muhson Hamdani, dan ada juga Faris Ramadan dari Perkasa FM. 

Hari sudah semakin siang. Acara pun dimulai. Faris Ramadan yang menjadi MC memulai acara. Suaranya yang renyah menjadi daya tarik tersendiri. Maklum, penyiar radio.

Urutan acara pembukaan sesungguhnya tidak istimewa. Secara umum sama dengan seremoni yang lainnya. Setelah dibuka, dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Quran. Setelah itu menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Subbanulwathan.

Usai acara

Giliran sambutan Ketua PCNU, Kiai Hakim menyampaikan banyak hal. Salah satunya adalah penjelasan tentang agenda Harlah NU ke 93 oleh PCNU Tulungagung. Bedah buku karya Dr. Zainul Milal Bizawie adalah acara kedua dalam rangkaian Harlah NU. Acara sebelumnya adalah pengobatan gratis yang digelar di Kecamatan Sendang. Sedangkan acara penutupnya adalah istighasah yang akan digelar pada hari minggu, 8 Mei 2016.

Ada hal menarik dari pidato Kiai Hakim, yaitu tentang rendahnya apresiasi warga NU terhadap kegiatan ilmiah. Kondisinya memang berbeda dengan kegiatan shalawatan yang selalu dihadiri jamaah yang berjubel. Pernyataan Kiai Hakim sesungguhnya menyiratkan kegelisahan intrinsik. Kegelisahan bahwa NU secara massa memang kuat, tetapi secara intelektual belum sesemangat aktivitas yang melibatkan massa.

Usai sambutan Kiai Hakim, acara ditutup dengan doa yang disampaikan Kiai Fatah. Setelah itu, Faris Ramadan menyerahkan acara kepada moderator, M. Kholid Thohiri, M.Pd.I.

Setelah membacakan biodata Dr. Zainul Milal Bizawie dan biodata saya serta pengantar ringkas, moderator memberikan kesempatan Dr. Milal menyampaikan pokok-pokok pikirannya. Waktu yang disediakan moderator 15 menit. 

Tentu bisa dibayangkan, 15 menit jauh dari cukup untuk sebuah presentasi. Tetapi Dr. Milal mampu menyampaikan beberapa hal yang substansial; latar belakang buku, konteks penulisan, signifikansi, dan peran NU. Saya menyimak secara cermat apa yang disampaikan Gus Milal.

Giliran saya, waktu yang disediakan juga sama, yaitu 15 menit. Saya berusaha memanfaatkan waktu dengan menjelaskan beberapa hal. Pertama, saya lebih nyaman disebut pembahas daripada pembanding. 

Kedua, saya sudah menelaah tujuh buku dengan tema Islam Nusantara. Harus jujur diakui buku Dr. Milal paling komprehensif dan melengkapi kajian-kajian sebelumnya. Buku ini berbobot bukan hanya karena ketebalan isinya, tetapi juga berbobot isinya.

Ketiga, periode 1830-1945 sebagai batasan waktu merupakan pilihan menarik. Periode ini jarang dilakukan telaah dan riset mendalam. Dr. Milal berhasil menghadirkan sejarah tersembunyi yang jarang disentuh.

Keempat, fokus jejaring menjadikan akar geneologi keilmuan dan konteks relasinya menjadi jelas terbaca. Konteks sekarang banyak yang tidak paham (atau sengaja dikaburkan) terhadap jejaring ini.

Sebagai catatan, buku karya Dr. Milal penting ditindaklanjuti dengan menghadirkan narasi-narasi lokal yang cenderung terabaikan. Sesungguhnya ada begitu banyak tokoh penting di setiap daerah, termasuk Tulungagung. Karena tidak berada di arus sejarah utama, mereka menjadi terabaikan.

Bedah buku berlangsung sangat meriah. Para peserta sangat antusias bertanya. Dua sesi yang disediakan tidak mampu mengakomodasi semua pertanyaan. Jika melihat antusias yang sedemikian tinggi, diharapkan spirit tersebut bisa ditransformasikan ke dalam gerak institusi untuk kemajuan. Semoga.


Trenggalek, 7-9 Mei 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar