Senin, 09 Mei 2016

Mahasiswa, Tradisi Menulis, dan Transformasi Sosial



Oleh Ngainun Naim


Menulis adalah proses belajar yang tak berkesudahan di tengah berbagai informasi yang berdayung di mana-mana—Ratna Indraswari Ibrahim

Sepandai apa pun seorang manusia, apabila di dalam hidupnya ia tidak menuliskan kepandaiannya itu dalam bentuk karangan, begitu ia meninggal dunia maka karyanya kurang dikenang dan diwaris oleh generasi selanjutnya—Pramoedya Ananta Toer

Menulis adalah belajar. Oleh karena itu sangat menyenangkan—Prof. Dr. Muhammad Chirzin

Menulis merupakan kegiatan penuangan ide yang memiliki pengaruh luas dan lebih awet. Karya tulis bisa dibaca oleh masyarakat luas dan dalam rentang waktu yang lama. Sementara ucapan lisan hanya diketahui dalam skala yang terbatas. Misalnya kita mendengarkan ceramah, maka hanya hadirin yang ada di tempat ceramah itu saja yang tahu, sementara mereka yang berada di lain tempat tidak mengetahuinya. Selain itu, apa yang dibicarakan dalam forum ceramah itu akan hilang begitu saja ketika acara usai. Sementara tulisan, sepanjang bentuk fisiknya masih ada, masih dapat dibaca, ditelaah, dan terus dikaji sepanjang masa.
Satu contoh adalah Imam al-Ghazali. Kita semua tidak ada yang tahu dan berkenalan secara fisik dengan beliau. Beliau hidup di masa yang jauh sekali dengan kita, karena telah meninggal dunia pada tahun 1111 M. Jadi, rentang waktunya memang sangat jauh dari kita. Tetapi nama Imam al-Ghazali dan pemikirannya masih memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan umat Islam sampai sekarang ini karena beliau meninggalkan karya tulis yang berlimpah.
Mungkin menyebut nama Imam al-Ghazali terlalu besar dan terlalu jauh dari konteks kita sekarang ini. Kalau dalam konteks sekarang, mungkin bisa kita sebut nama yang sedang tenar, Andrea Hirata. Novelnya yang fenomenal, Laskar Pelangi, membius puluhan ribu pembaca Indonesia. Tidak hanya itu, novel tersebut memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan banyak orang. Inspirasi Laskar Pelangi telah mengubah kehidupan banyak orang.
Selain Andrea, tentu ada banyak lagi tokoh yang menebarkan pengaruh kepada masyarakat dalam skala luas karena karya-karya mereka. Bukan persoalan besar atau kecilnya pengaruh, tetapi yang lebih penting adalah mau dan mampu menulis sehingga dapat dibaca oleh banyak orang. Dalam kerangka inilah, seharusnya mahasiswa mulai memikirkan strategi transformasi sosial lewat jalur menulis. Lewat menulis, ide-ide dan gagasan dapat tersalurkan secara luas dan lebih awet.

Peran Mahasiswa
Mahasiswa sesungguhnya memiliki peran signifikan dalam dinamika sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa besar di Indonesia selalu melibatkan peran mahasiswa. Sumpah pemuda tahun 1928, Proklamasi, tumbangnya Orde Baru, dan Reformasi adalah peristiwa penting yang melibatkan mahasiswa. Tentu ada banyak peristiwa lainnya yang juga melibatkan mahasiswa di dalamnya.
Dalam era sekarang, diperlukan pemikiran serius mengenai peran apa yang dapat dilakukan oleh mahasiswa. Demonstrasi, gerakan kritis, dan sebagainya memang tetap diperlukan, tetapi juga penting untuk memikirkan gerakan lain yang selama ini mulai banyak ditinggalkan oleh mahasiswa, yaitu gerakan menulis. Media menulis sekarang ini sangat luas. Selain lewat media cetak, ada banyak media lain yang dapat digunakan mahasiswa untuk menyalurkan ide dan gagasannya. Internet menjadi media yang memungkinkan mahasiswa sekarang ini untuk berekspresi, menyebarkan ide, dan dalam kerangka luas melakukan transformasi sosial. Memang, pengaruh dari tulisan tidak sehebat dan secepat gerakan fisik atau gerakan massa. Tetapi jika kita cermati, pengaruh menulis jauh lebih lama, mengakar kuat, dan membangun kesadaran dalam skala yang luas.
Banyak yang menilai bahwa menulis itu pekerjaan yang cukup berat. Tidak semua orang dapat melakukannya. Hanya sebagian kecil saja yang mampu menuangkan ide, melontarkan gagasan, dan kemudian menyelesaikan sebuah naskah sampai tuntas. Sementara sebagian besar dari kita jarang yang mampu menulis dalam makna yang sesungguhnya. Mungkin saja ada di antara kita yang otaknya penuh dengan ide, atau keinginan menulisnya begitu menggembu-gebu, tetapi kemudian tidak sampai pada aksi. Semuanya baru sebatas angan-angan.
Ingin bukti? Sekarang coba amati di kalangan mahasiswa dan dosen. Berapa orang dari ribuan mahasiswa dan dosen yang aktif menulis? Jawabnya hanya sebagian kecil saja. Oleh karena itu, mereka yang mau dan ingin menulis secara konsisten, bukan menulis secara terpaksa, dapat dikategorikan sebagai "makhluk langka", karena memang yang mau, dan mampu menulis ternyata hanya sebagian kecil saja. Tampaknya kita memang lebih terbiasa ngomong daripada menulis.
Syarat menulis adalah memiliki kemauan untuk terus menulis. Ya, menulis tentang apa saja, dimana saja, kapan saja, dan tidak boleh patah semangat. Jangan pedulikan soal kualitas, karena kualitas akan meningkat seiring dengan seringnya menulis. Karena itu kalau saya ditanya caranya menulis, jawabnya cuma satu; MENULISLAH sekarang juga.  Jangan lagi ditunda. Hal utama yang harus dibangun saat akan (dan sedang) menekuni dunia menulis adalah memompa semangat menulis, menjaga secara konsisten, tekun, rajin dan terus berusaha menulis. Tundukkan semua hambatan dan halangan yang membuat sulit menulis.

Menulis itu Tidak Berat
Sebenarnya menulis tidak berat asal kita menjadikan menulis sebagai kegiatan yang kita nikmati, kita hayati dan kita jadikan sebagai bagian tidak terpisah dari kehidupan kita. “Menulis bagi saya ibarat bernafas”, kata penulis wanita Naning Pranoto. Bernafas adalah penopang utama hidup. Kalau sampai tidak bernafas berarti kita mati. Demikian juga dengan menulis. kalau kita tidak menulis ibaratnya juga mati.
Beberapa nama yang dapat dijadikan contoh adalah: Rosihan Anwar, D Zawawi Imron, Pipiet Senja, Muhidin M. Dahlan, Pramoedya Ananta Toer, Ajib Rosidi, dan masih sederet nama lainnya.
Dengan demikian, menulis tidak mensyaratkan secara mutlak terhadap jenjang pendidikan. Bahkan sejujurnya, kalau kita mau menikmati dan menjadikan sebagai proses, kegiatan menulis makalah sebenarnya merupakan media yang cukup efektif untuk mengasah ketrampilan menulis.
Menulis itu pekerjaan yang cukup berat. Tidak semua orang dapat melakukannya. Hanya sebagian kecil orang yang mampu menemukan ide, menyusun kalimat, dan kemudian menyelesaikannya menjadi sebuah tulisan. Sementara sebagian besar yang lainnya jarang yang mampu melakukannya. Mungkin ide mudah didapat, tetapi giliran mau menuangkannya di komputer atau kertas, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Mungkin saja ada di antara kita yang semangat menulisnya tinggi, tetapi tidak diikuti dengan aksi nyata.
Melihat sedikitnya orang yang mau dan mampu menulis, wajar jika dikatakan bahwa menulis merupakan pekerjaan yang cukup berat. Bahkan Anwar Holid dalam bukunya Keep Your Hand Moving (2010: xvi-xvii) menyatakan kalau menulis memang bukan hal mudah. Tidak sedikit orang yang memiliki semangat tinggi saat ikut pelatihan menulis, tetapi begitu praktik, dia tidak lagi memiliki semangat. Ia menyerah pada rumitnya memindahkan bahasa pikiran ke tulisan. Ada juga orang yang merasa sudah putus asa sebelum mulai menulis karena merasa memang tidak berbakat.
Melihat realitas sedikitnya orang yang mampu menulis, wajar jika ada yang menyebut bahwa penulis itu merupakan "makhluk langka". Disebut demikian karena memang yang mau dan mampu menulis ternyata hanya sedikit sekali. Tampaknya, kita memang lebih terbiasa ngomong daripada menulis.
Siapa pun Anda, apa pun profesi Anda, jika memang ingin menjadi penulis, langkah awal yang harus Anda bangun adalah membangun tekad dan kemauan keras untuk terus menulis. Mungkin Anda bertanya, menulis tentang apa? Tulislah apa saja, mulai hal sederhana sampai hal yang paling rumit. Seorang penulis akan selalu berusaha meluangkan waktu untuk menulis. Saat menulis, jangan pedulikan soal kualitas karena kualitas akan meningkat seiring dengan seringnya Anda menulis. Karena itu kalau saya ditanya caranya menulis, jawabnya cuma satu, yaitu MENULISLAH sekarang juga. Jangan lagi ditunda.
Satu hal utama yang harus Anda bangun saat akan (dan sedang) menekuni dunia menulis adalah memompa semangat menulis, menjaga secara konsisten, tekun, rajin, dan terus berusaha menulis. Tundukkan semua hambatan dan halangan yang membuat Anda sulit dan malas menulis.
Sebenarnya menulis juga tidaklah berat asal kita menjadikan menulis sebagai kegiatan yang kita nikmati, kita hayati, dan kita jadikan sebagai bagian tidak terpisah dari kehidupan kita. “Menulis bagi saya ibarat bernafas”, kata penulis wanita Naning Pranoto. Anda bisa pahami pernyataan ini? Bernafas adalah penopang utama hidup. Kalau sampai tidak bernafas berarti kita mati. Demikian juga dengan menulis. Kalau kita tidak menulis ibaratnya juga mati.
Semua orang yang pernah sekolah pasti bisa menulis. Menulis tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya jenjang pendidikan. Tidak sedikit mereka yang menempuh jenjang pendidikan hingga S3 ternyata juga kurang mampu mengekspresikan pikirannya secara baik. Sebaliknya, banyak penulis yang pendidikan formalnya jauh dari cukup, tetapi karena semangatnya yang luar biasa, mereka menjadi penulis yang berhasil dan diperhitungkan dalam khazanah kepenulisan Indonesia. Beberapa nama yang dapat dijadikan contoh adalah; Rosihan Anwar, D Zawawi Imron, Pipiet  Senja, Muhidin M. Dahlan, Pramoedya Ananta Toer, Ajib Rosidi, dan masih sederet nama lainnya. Menulis, dengan demikian, tidak mensyaratkan secara mutlak terhadap jenjang pendidikan.
Menurut The Liang Gie dalam bukunya Terampil Mengarang (2002), ada beberapa nilai yang dapat kita peroleh dari kegiatan menulis. Pertama, nilai kecerdasan. Dengan sering menulis, orang akan terbiasa untuk berolah pikir, mencari ide baru, menganalisis kasus, dan merancang urutan pemikiran yang logis untuk dituangkan dalam tulisan. Kedua, nilai kejiwaan. Manakala karya tulis seseorang berhasil menembus “blockade” redaktur dan lolos dimuat di media massa, apalagi media massa besar dan terkenal, pasti akan merasakan kepuasan, kelegaan, kegembiraan, dan kebanggaan. Pada gilirannya dia akan lebih percaya diri. Penulis itu harus percaya diri. Jangan takut tidak dimuat dan seterusnya, karena tugas penulis adalah menulis. Soal kualitas bisa sambil jalan seiring kemauan Anda untuk terus berlatih, menulis, dan menulis. Ketiga, nilai sosial. Seorang penulis yang telah berhasil menenggerkan karya tulisnya di media massa, baik lokal maupun nasional, namanya akan semakin dikenal oleh publik. Wajar jika ada banyak penghargaan, kritik, dan juga komentar ytang memiliki arti dan makna signifikan dalam pengembangan karier kepenulisan. Keempat, nilai pendidikan. Dengan terus-menerus menulis, walaupun kadang tidak disadari, orang telah melakukan kegiatan mendidik, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Mendidik diri sendiri terjadi manakala kita dipaksa untuk membuka kamus, membaca buku, mengingat kembali berita atau tulisan dan seterusnya. Sedang mendidik orang lain terjadi manakala mereka membaca hasil tulisan kita. Kelima, nilai keuangan. Menulis itu menghasilkan. Karya tulis dalam bentuk apapun di media massa, umumnya dihargai dengan rupiah. Ada yantg besar, sedang, kecil, atau bahkan tidak dikasih honor. Tetapi sebenarnya menekuni dunia menulis secara sungguh-sungguh dapat memberikan keuntungan material secara memadai atau cukup. Hanya memang ukuran cukup itu sendiri relatif. Keenam,  nilai filosofis. Menulis memiliki makna yang mendalam berkaitan dengan beragam bidang kehidupan.

Proses Kreatif
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘kreatif’ diartikan: (1) memiliki daya cipta; (2) memiliki kemampuan untuk menciptakan. Jadi, proses kreatif adalah proses mencipta sesuatu dan konteks. Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan proses kreatif adalah proses mencipta tulisan atau menulis, baik itu tulisan yang bersifat fiksi maupun non-fiksi. Mereka yang menulis fiksi disebut pengarang dan mereka yang menulis non-fiksi disebut penulis. Seorang penulis bisa menjadi pengarang, tetapi pengarang pada umumnya sedikit yang menjadi penulis. Hambatannya, menjadi penulis diperlukan topangan referensi yang lebih luas dan mendalam, apalagi bila yang bersangkutan menulis tulisan yang bersifat akademis. Tetapi bukan berarti bahwa menjadi seorang pengarang itu lebih mudah dibandingkan menjadi penulis. Sebab, baik untuk menjadi pengarang maupun penulis, keduanya memerlukan modal utama yaitu memiliki dorongan yang kuat untuk  menulis (the strong will to write) atau ‘lapar menulis' (tidak sekedar haus).
Agar tulisan yang kita hasilkan bermutu, kita harus memiliki tradisi membaca yang baik. Hernowo dalam buku Andaikan Buku itu Sepotong Pizza (2003) menyatakan bahwa bacaan yang baik akan membuat tulisan yang kita buat semakin bermutu. Penulis yang baik berarti juga pembaca yang baik. Kalau Anda memang berniat serius menulis, selain memiliki semangat—sebagaimana telah diuraikan di bagian awal tulisan ini—Anda juga harus rajin membaca. Bacalah apa saja agar wawasan dan pengetahuan Anda semakin luas. Banyaknya bacaan akan memudahkan Anda menangkap ide, mengembangkan tulisan, dan menambah bobot tulisan Anda.
Selain itu, aspek teknis yang harus Anda pahami adalah proses kreatif. Untuk memulai menulis memang memerlukan proses kreatif, yaitu dimulai dengan adanya ide (kekayaan batin/intelektual) sebagai bahan tulisan. Ide bisa diperoleh setiap saat dan kapan saja. Sumber utamanya adalah bacaan, pergaulan, perjalanan (traveling), kontemplasi,  konflik dengan diri sendiri (internal) maupun dengan di luar diri kita (external), pemberontakan (rasa tidak puas), dorongan mengabdi (berbagi ilmu), kegembiraan, mencapai prestasi, tuntutan profesi, dan sebagainya. Semuanya itu bisa dijadikan gerbang untuk mendorong memasuki proses kreatif menulis. Kuncinya adalah punya hasrat yang kuat untuk menulis (the strong will to write).
Modal lainnya adalah berkomitmen disertai disiplin untuk menulis. Jika memang serius ingin bisa menulis, Anda harus memiliki jadwal yang ditaati. Selain itu juga rajin mengumpulkan ide-ide yang akan ditulis. Sayangnya, kadang kegiatan rutin yang wajib kita kerjakan membuat kegiatan menulis jadi tertunda atau terbengkalai sehingga tulisan tidak pernah selesai. Untuk mensiasatinya, maka perlu menulis di pagi hari (dini hari) atau malam (hingga larut malam, menjelang pagi). Baik juga memanfaatkan waktu luang pada akhir pekan atau hari libur. Yang penting, ada waktu khususnya untuk memberi ‘ruang’ proses kreatif yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan (karya nyata).  Tetapi sekali lagi, kuncinya ada pada Anda. Jadi, tunggu apalagi. Jika memang mau menulis, segera tulis saja, dan jangan menyerah dengan hambatan. Semoga akan lahir banyak generasi penulis di masa mendatang. Amin.

Tulungagung, 13 April 2016

2 komentar: