Rabu, 13 April 2016

Bersua Para Penulis Luar Biasa



Oleh Ngainun Naim

Hari Sabtu tanggal 9 April 2015 jam 15.30 dua teman aktivis Sahabat Pena Nusantara (SPN), Fahru Arraniri dan M. Choirur Rochim, sudah sampai di rumah saya yang ada di pelosok Trenggalek. Saya belum mandi dan bersiap-siap karena baru saja sampai di rumah setelah mengikuti sebuah kegiatan di Tulungagung. Rencananya kami bertiga akan menuju Yogyakarta untuk Kopdar dan Pelatihan Menulis yang diadakan oleh SPN. 
Penulis produktif asal Yogya Haidar Musafa dan Fahru Arraniri (berkacamata): anggota SPN asal Tulungagung

Jauh hari saya sudah merencanakan untuk hadir di acara tersebut karena bagi saya acara tersebut sangat bermanfaat. Berjumpa para penulis luar biasa adalah asupan inspirasi yang sangat berharga. Diskusi dan berbagi pengalaman bisa menjadi energi kreatif yang mendorong saya untuk tetap berusaha menulis. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya berjumpa dengan para penulis luar biasa seperti Hernowo, Prof. Dr. Muhammad Chirzin, Dr. Amie Primarni, M. Husnaini dan para penulis lainnya. Berjumpa dengan mereka dan menggali ilmu mereka yang sangat saya harapkan. 
Dari kiri ke kanan: Prof. Dr. Muhammad Chirzin, Ir. Hernowo, Saya, dan Dr. Much. Khoiri, M.Si.

Perjalanan secara umum lancar. Kami mengambil jalur Trenggalek Ponorogo yang bergunung-gunung. Hari mulai gelap saat kami masuk Kota Reog Ponorogo. Gelapnya malam dan jalan yang penuh ketinggian antara Ponorogo Wonogiri mewarnai perjalanan di sabtu malam. Dan setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam akhirnya kami sampai di lokasi, yaitu Wisma Sargede. 
Wisma Sargede

Wisma ini berada di Jalan Pramuka Kav. 5F Umbulharjo Yogyakarta. Lokasi wisma ini bersebelahan dengan Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sekitar 400 meter ke utara ada XT Square yang dulu adalah Terminal Bus Umbulharjo. 
Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Saat keluar dari resepsionis Wisma Sargede untuk memesan kamar, kami sudah disambut empat anggota SPN yang sedang berbincang santai. Mereka adalah Ketua SPN M. Husnaini yang datang dari Lamongan, M. Nurroziqi dari Tuban, Ibu Rita Audriyanti yang terbang langsung dari Kuala Lumpur Malaysia dan Doni Febriando dari Yogyakarta. Saya bersama dua teman tidak sempat berbincang lama karena segera menuju kamar 215 untuk istirahat. M. Husnaini memberikan saya buku terbitan SPN yang merupakan tulisan bersama, yaitu Quantum Cinta.
Ibu Rita yang datang jauh dari Kuala Lumpur dan Dr. Amie Primarni yang energik

Minggu pagi suasana Yogyakarta cukup cerah. Usai shalat subuh saya merebahkan diri lagi. Badan rasanya capek sekali karena tidur hanya beberapa jam setelah perjalanan darat yang melelahkan. Tetapi saya tidak bisa tidur lagi. Di depan Wisma Sargede mulai terdengar alunan musik senam pagi. 
Pendaftaran peserta

Saya beranjak meninggalkan kamar menuju jalanan. Olahraga jalan kaki saya kira merupakan pilihan yang bermanfaat. Maka, saya telusuri Jalan Pramuka yang mulai ramai lalu masuk ke gang kecil di perkampungan. Sekitar setengah jam kemudian saya kembali lagi ke Wisma Sargede. 

Di depan kamar panitia sudah ada M. Husnaini, M. Nurroziqi dan Aditya Akbar. Saya pun bergabung ngobrol dengan mereka. Sesaat kemudian bergabung Ketua Panitia, Dr. Amie Primarnie. Maka, perbincangan minggu pagi itu menjadi begitu hangat. 
 
M. Nuroziqi dengan senyum manisnya; Aditya Akbar serius membaca, dan Athiful Khoiri mengecek bahan seminar
Menjelang jam tujuh saya pamit mandi. Sarapan pagi juga sudah diantar ke kamar. Maka saya pun menyeruput teh lalu sarapan pagi untuk kemudian mandi. 

Tepat jam delapan saya menuju lokasi acara. Beberapa tokoh sudah hadir, seperti Prof. Muhammad Chirzin dan Much. Khoiri. Kami pun terlibat perbincangan hangat karena secara fisik sudah cukup lama tidak bertemu. 
Bahagia diapit dua penulis top: Much. Khoiri dan Prof. Dr. Muhammad Chirzin

Jam setengah sembilan acara dimulai. Dr. Amie Primarnie dan M. Husnaini, M.Pd.I maju ke depan untuk mengisi seremoni. Di saat mereka berdua berbicara, satu demi satu peserta datang, seperti Bahrus Surur-Iyunk, Ahmad Jauhari, Ganjar, Ridho, dan beberapa yang lainnya.
Saya belajar menulis dengan tertatih-tatih. Tidak ada guru yang membimbing secara langsung. Buku-buku tentang menulis menjadi panduan yang sangat berharga saat saya belajar merangkai kata dan kalimat. 
Ketua Panitia dan Ketua SPN

Di antara nama penting yang harus saya sebut adalah Hernowo. Buku-bukunya sungguh luar biasa dan menginspirasi. Catatan-catatannya di media sosial saya baca dan cerna. Mubes SPN kedua di Yogyakarta memberikan anugerah luar biasa karena membuat saya bisa bertemu muka dan mendengar paparan ceramahnya yang menggugah. Hal-hal yang selama ini hanya saya tahu di buku, hari itu saya ketahui penjelasannya secara langsung. 
Pak Hernowo didampingi Haidar Musafa

Satu setengah jam mendengar paparan beliau rasanya sangatlah kurang. Pak Much. Khoiri melengkapi wawasan saya dengan paparan provokatifnya. Suasana dan peserta yang mulai lelah terobati dengan guyonannya yang bermutu. Sungguh suatu anugerah saya bisa bersua dan berkenalan dengan beliau. 
Pak Emcho memprovokasi peserta. 

Prof. Muhammad Chirzin menyadarkan saya akan makna penting menulis. Tulisan beliau tentang 40 renungan filosofis menghentak kesadaran. "Kesadaran adalah matahari", begitu Pak Emcho membaca puisi dengan penuh ekspresi. 
Prof. Dr. Muhammad Chirzin menyanyi. Suasana berubah haru. Banyak peserta meneteskan air mata. Sangat menyentuh.

Saya yang juga ditunjuk untuk berbicara hanya bicara hal remeh-temeh. Saya justru merasa mendapatkan banyak ilmu dan inspirasi dari para pembaca dan peserta. Semoga keberkahan selalu melimpahi kami semua. Amin
Terima kasih SPN atas kesempatannya.

Yogyakarta—Tulungagung, 10-12 April 2016.

2 komentar: