Jumat, 22 April 2016

Berguru kepada Master Mengikat Makna




Oleh Ngainun Naim



Salah satu buku yang cukup berpengaruh dalam proses saya belajar menulis berjudul "Mengikat Makna". Buku ini ditulis oleh Hernowo. Lewat buku dengan kemasan unik-menarik tersebut, saya menemukan strategi baru dalam menulis. Saya tidak ingat persis berapa kali menamatkan membaca buku bergizi tersebut. Yang jelas sudah berkali-kali. Saya selalu menemukan hal baru setiap kali membaca lagi.


Setelah 'Mengikat Makna', buku-buku Pak Hernowo saya buru. Setiap buku beliau saya temukan di toko buku, saya usahakan untuk saya beli. Bagi saya, buku-buku karya beliau adalah sumber energi dan inspirasi tak bertepi. 
Di antara buku karya Hernowo



Walaupun puluhan buku beliau sudah saya baca, saya baru bisa bersua beliau di tahun 2016. Mubes dan Kopdar Sahabat Pena Nusantara (SPN) yang dilaksanakan di Wisma Sargede Yogyakarta pada 10 April 2016 menjadi momentum bertemu dan berguru kepada beliau.
Saya sungguh beruntung mendapatkan kesempatan bertemu dan mendengarkan ceramah Pak Hernowo. Apa yang selama ini saya baca dari buku-buku beliau mendapatkan peneguhan melalui uraian yang bernas dan tangkas. Pak Hernowo tidak hanya berteori, tetapi juga melakukan demonstrasi. 
Demonstrasi Free Writing Hernowo


Makalah dengan judul 'Dua Model Latihan Menulis: Mengikat Makna dan "Free Writing", menjelaskan secara detail mengenai bagaimana membaca dan menulis dilakukan secara bebas. Saya ingat persis bagaimana beliau berkali-kali menekankan tentang pentingnya menulis secara rutin. Bahkan beliau menyarankan untuk memakai alarm. Kata Master Mengikat Makna tersebut, "Menulis yang dilakukan mendekati deadline pasti tidak bagus. Karena itu menulis harus dilakukan secara rutin, konsisten, istiqamah. Latihan menulis jangan seperti kerupuk yang mudah melempem atau seperti lilin yang mudah meleleh. Konsistensi dan kesungguhan itu membuat diri kita menjadi 'lebih baik'."
Menulis, bagi Hernowo, berkaitan erat dengan membaca. Untuk membangun konsep belatih menulis yang menyinergikan membaca-menulis maka Hernowo membangun konsep 'Mengikat Makna'. Konsep ini telah menjadi paten sehingga jika disebut 'Mengikat Makna' maka berarti Pak Hernowo.

 
Mengikat Makna


Saat membaca catatan saya di atas, melalui Grup WA Sahabat Pena Nusantara, Pak Hernowo memberikan tanggapan:


Alhamdulillah, hanya dalam beberapa paragraf, Pak Ngainun berhasil menyampaikan apa yang saya sampaikan kemarin--lewat tulisan dan presentasi power point. Tanpa mau dan mampu berlatih membaca dan menulis, kita mustahil punya keterampilan dan dapat meningkatkan keterampilan membaca dan menulis. 

Pak Ngainun Naim juga memberikan titik tekan penting bagaimana agar latihan membaca dan menulis yang kita lakukan efektif--ada EFEK-nya, tidak seperti es lilin dan kerupuk. Pertama, latihan itu harus dapat memberdayakan diri--bukan malah memayahkan dan memperdaya diri kita. Kedua, latihan itu membebaskan diri kita--tidak menekan dan tidak membuat diri kita kerepotan atau terkerangkeng. Ketiga, latihan itu perlu dilakukan secara rutin (kontinu), konsisten, dan penuh kesungguhan.

Bagaimana agar kita dapat berlatih membaca dan menulis yang memberikan hasil gilang-gemilang? Komitmen. Ya kita perlu berkomitmen kepada diri kita sendiri. Apakah benar kita memang ingin punya kemampuan membaca dan menulis? Apakah kita ingin dapat terus meningkatkan kemampuan diri kita? Dan apakah kita memang bertanggungjawab terhadap diri kita untuk menjadikan diri kita senantiasa membaik dari hari ke hari? Hanya diri kitalah yang tahu.


Saya kemudian membuat catatan lanjutan. 

Saya menikmati tiga hal pada kehadiran Pak Hernowo di acara SPN minggu lalu. Pertama, presentasi lisannya yang penuh semangat. Padahal, kondisi fisik beliau kurang fit. Paparannya jelas, gamblang, dan intonasi yang relatif tinggi. Saya menemukan banyak sekali informasi dan pengetahuan dari ceramah beliau. 

Kedua, power point yang beliau siapkan sangat menarik. Saya mengambil gambar setiap halaman slide yang disajikan. Terlihat sekali bagaimana beliau bekerja keras untuk menghadirkan data lengkap, gambar menarik, dan slide yang mempesona. Lewat slide itulah saya tahu foto James Pannebaker yang sangat memengaruhi Pak Hernowo. Juga gambar, buku, dan informasi lain yang sangat berharga. 

Mengikat Makna dan Menulis Bebas

Ketiga, makalah yang sangat renyah. Membaca makalah yang disajikan tak ubahnya berdialog lisan. Bahasanya enak, renyah, dan mengalir. Saya menemukan perspektif baru dari makalah yang beliau sajikan. Menurut beliau, kegiatan mengikat makna akan lebih efektif jika dikaitkan dengan empat pilar komunikasi: membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Mengaitkan mengikat makna dengan keempat hal tersebut menjadikan mengikat makna selalu menarik dijalankan. 


Catatan sederhana ini lahir atas inspirasi Pak Hernowo. Terima kasih banyak saya haturkan untuk beliau. Semoga beliau selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah. Amin.



Menanggapi catatan saya, Pak Hernowo menulis:


Alhamdulillah, trims banyak atas apresiasinya Pak Ngainun Naim. Benar, kondisi saya saat presentasi sesungguhnya sedang "remuk" he he he. Kereta Argo Wilis yg saya tumpangi AC-nya mati. Anda bisa membayangkan bagaimana keadaan perjalanan saya waktu itu. 

Saya sangat bergairah menyampaikan presentasi saya karena saya ingin BERTERIMA KASIH yang tulus kepada Dr. Pennebaker, Ibu Wycoff, Dr. Rico, Pak Buzan, Pak Gelb, Bu DePorter, dan masih banyak lagi yang lain atas jasanya memberikan "ilmu"-nya kepada saya. Tak ada "jasa" di dunia yang layak dikenang dan nilainya melebihi pemberian ilmu.

Untuk Pak Ngainun (lagi): Saya berhasil menuliskan "makalah" saya secara mengalir karena saya melibatkan diri saya. Saya menggunakan bahasa yang cenderung "personal" agar diri saya terwakili oleh diksi yang saya pilih. Ini tentu bertentangan dengan kecenderungan bahasa makalah ilmiah yang harus obyektif dan menggunakan bentuk deskripsi orang ketiga. Kalau tak jago menulis, bahas ini akan menjadi bahasa yang kaku, kering, dan membosankan alias tidak mengalir.



 
Prof. Dr. Muhammad, Pak Hernowo, Saya, dan Dr. Much. Khoiri
Demikian catatan sederhana saya. Semoga ada manfaatnya.

Kampus IAIN Tulungagung, Jumat, 22 April 2016.




6 komentar:

  1. Sangat bermanfaat Pak. Naim,,

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas kunjungan komentarnya Mas M. Khaliq Shalha, Ahmad Fahru, dan Eka Sutarmi.

    BalasHapus
  3. beruntung banget IAIN Tulungagung punya orang seperti ustadz Ngainun Naim, semoga karyanya dan ide cemerlangnya bisa barokahi penggemarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Terima kasih Mas Agus Taufiq.

      Hapus