Rabu, 16 Maret 2016

Hidup dan Ketidakterdugaan




Oleh Ngainun Naim

”Bapak tidak punya banyak harta. Satu-satunya yang Bapak miliki ya rumah dan tanah ini. Karena itu kamu harus sekolah sampai sarjana supaya punya banyak ilmu. Warisan ilmu tidak akan habis. Kalau warisan harta, beberapa saat akan habis.” 

Pesan Bapak itu disampaikan entah berapa kali di berbagai kesempatan. Tentu, pesan itu masih terus terngiang kuat di benak saya hingga kini. 
Foto wisuda S-2 bersama Bapak dan Ibu


Saat awal Bapak memberi nasihat, saya masih duduk di bangku MTsN. Bapak berpesan begitu mungkin karena saya adalah anak sulung. Sementara di belakang saya ada lima orang adik.

Apa yang beliau sampaikan betul-betul beliau wujudkan. Seluruh saudara saya diusahakan untuk menempuh kuliah. Walaupun untuk itu, beliau harus hutang sana-sini di berbagai tempat. Hal ini terjadi karena beliau hanya seorang guru SD. Tentu Anda semua tahu, atau mendengar, bahwa gaji guru SD di era Orde Baru sungguh jauh dari kata layak. Jujur, saya salut tak terkira kepada beliau. Sebagai guru SD dengan enam orang anak, semuanya diusahakan untuk kuliah. Sungguh, ini bukan perjuangan yang ringan. Jika ingat masa-masa itu, tidak jarang saya menitikkan air mata.

Perjuangan demi perjuangan untuk bisa menyekolahkan kami bersaudara dilalui dengan penuh perjuangan. Sumber utama ekonomi keluarga hanya dari Bapak sebab Ibu seorang ibu rumah tangga biasa.

Ada satu peristiwa yang saya ingat betul sampai sekarang. Saat itu saya sudah duduk di bangku IAIN Tulungagung. Suatu ketika, saat harus membayar SPP semester empat, tidak ada uang sama sekali di rumah. Atas masukan dari Bapak, saya bersama dengan ibu menuju rumah seorang saudara jauh. Beliau seorang juragan gula merah. Tujuan utama kami hanya satu, yaitu mencari pinjaman uang untuk membayar SPP.

Kami datang ke rumah beliau dengan naik sepeda motor yang cukup tua karena hanya itu yang kami miliki. Saat kami datang, Ibu pemilik rumah ada di belakang rumah. Menurut saya, juga menurut Ibu, beliau sesungguhnya melihat kami. Tetapi beliau tidak menyapa atau mempersilahkan kami masuk. Pembantunya yang mempersilahkan kami masuk.

Cukup lama kami menunggu. Bahkan beberapa jam. Kami bertahan karena memang kami yang butuh. Selain itu, belum ada satu orang pun yang menemui kami. Sesungguhnya kami bingung, tetapi tidak tahu apa yang harus kami lakukan.

Hari mulai petang saat si tuan rumah akhirnya menemui kami. Setelah berbasa-basi, Ibu menyampaikan tujuan kami. Dan seperti diduga, jawabannya kurang mengenakkan. Pada akhirnya kami memang mendapatkan pinjaman, tetapi jumlahnya sangat jauh dari kebutuhan SPP saya.

Jika teringat kejadian itu, saya merasakan nelangsa sekali. Betapa tidak enaknya menjadi orang miskin.  Namun demikian, saya tetap mengucapkan terima kasih kepada famili tersebut karena telah menyelamatkan kuliah saya dengan uang pinjaman dari beliau.

Saya tahu persis bagaimana beratnya perjuangan menyekolahkan kami semua. Cukup sering saya diajak Bapak meminjam ke beberapa tempat saat saya atau adik-adik harus membayar SPP. Memang, kondisi ekonomi kami sesungguhnya kurang memungkinkan untuk membiayai sekian banyak anak menempuh pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.
Bapak dan Ibu tahun 2007


Saya menempuh jenjang S-1 dengan tertatih-tatih. Beberapa kali nyaris putus di tengah jalan karena kondisi keuangan. Tetapi Bapak selalu meyakinkan saya untuk terus belajar dengan serius. Dan sesudah dinasihati oleh beliau, saya kembali bersemangat menyelesaikan kuliah.

Saya menyelesaikan kuliah tepat waktu. Tahun 1998, saya diwisuda. Saya melihat bagaimana aura kebahagiaan Bapak dan Ibu. Buliran air mata terlihat di pelupuk mata beliau berdua saat mengantarkan saya wisuda. Rasa bahagia tak terkira menyelimuti kami sekeluarga.

Beruntung, menjelang wisuda saya diterima sebagai tenaga pendamping sebuah program pengabdian masyarakat. Bidang saya adalah media. Jadi saya harus menulis laporan berbagai kegiatan program untuk kemudian dimuat di majalah yang dikelola secara internal oleh program tempat saya bekerja. Sungguh ini sebuah keberuntungan yang harus saya syukuri. Dengan bekerja, saya bisa memiliki penghasilan dan sedikit memberikan bantuan keuangan buat keluarga.

Bekerja sistem kontrak yang harus diperbarui setiap tahunnya sesungguhnya beresiko. Tetapi memang tidak ada pilihan lain selain menekuni bidang tersebut. Saya terus menekuni pekerjaan tersebut sambil berusaha mencari informasi beasiswa S-2.

Beberapa kali aplikasi beasiswa gagal. Saya pun memilih kuliah S-2 dengan biaya sendiri. Uang hasil kerja saya pergunakan sebagai modal kuliah. Saya nekat kuliah karena memiliki cita-cita menjadi dosen. Jika saya hanya memiliki ijasah S-1, tentu mustahil menjadi dosen karena syarat menjadi dosen minimal berijasah S-2.

Perjuangan penuh dinamika betul-betul saya rasakan. Bekerja di Tulungagung, sementara kuliahnya di Malang. Nyaris dua tahun energi dan pikiran saya tercurah untuk bekerja dan kuliah. Saya berusaha keras untuk tidak membebani lagi keuangan keluarga karena adik-adik saya lebih membutuhkan biaya pendidikan.

Tahun 2002 saya menyelesaikan kuliah. Bahagia tak terkira. Akhirnya saya meraih gelar magister. Bersamaan dengan itu, saya diterima sebagai dosen tidak tetap di kampus almamater, yaitu STAIN Tulungagung.

Tahun berikutnya, yaitu tahun 2003, saya menikah. Sebulan sebelum menikah, ada informasi penerimaan CPNS di STAIN Tulungagung. Kebetulan ada formasi yang cocok dengan ijasah saya. Tentu, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Berbagai persyaratan saya penuhi. Bersamaan dengan pikiran yang pusing dengan persiapan pernikahan, saya juga harus berusaha memenuhi syarat administratif tes CPNS.

Undangan pernikahan telah tersebar. Hari resepsi sudah ditentukan. Dan tiba-tiba ada pengumuman bahwa pelaksanaan tes CPNS adalah tanggal 15 Oktober 2003. Saya pusing bukan main. Tanggal 13 saya akad nikah, tanggal 14 resepsi di rumah pengantin perempuan, sementara tanggal 15 harus menjalani ujian CPNS. Dan tanggal 16 rombongan pengantin akan hadir di rumah orang tua saya.

Namun Allah sungguh Maha Adil. Semuanya sudah diatur. Walaupun jadwalnya sedemikian rumit, tetapi semuanya berjalan lancar.  

Sebulan setelah ujian, ada pengumuman tahap pertama. Saya bergegas meluncur ke kampus. Hati bergetar tiada terkira saat saya membaca ada nama saya di situ. Tetapi segera saya tersadar bahwa itu baru tahap pertama. Masih ada satu tahap lagi yang harus dilalui.

Pertengahan bulan Ramadhan, saya menjalani tes lisan. Berbagai pertanyaan diajukan. Dan seingat saya, nyaris semua pertanyaan bisa saya jawab dengan baik. Karena itu, saya membangun optimisme diri bahwa saya memiliki peluang untuk lolos. Tetapi saya juga menyiapkan mental untuk tetap optimis seandainya pun gagal.

Malam takbiran Idul Fitri menjadi sangat bermakna karena di hari raya itu saya memiliki istri. Suasananya tentu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana saya masih seorang diri. Tahun itu juga untuk pertama kalinya saya merayakan Idul Fitri tidak di rumah sendiri, tetapi di rumah mertua.

Sore hari setelah lelah silaturrahim ke tetangga, tiba-tiba ada telepon dari Bapak. ”Coba kamu cari berita. Tadi ada informasi katanya kamu lolos tes CPNS,” suara Bapak terdengar agak bergetar.

”Nggih Pak,” jawab saya.

Saat itu belum musim HP seperti sekarang. Telepon rumah menjadi alat komunikasi utama. Saya segera menelepon beberapa kenalan. Hasilnya nihil. Mereka semua silaturrahim. Maklum, karena hari lebaran.

Setelah ditelepon Bapak, pikiran saya kacau. Saya penasaran. Tetapi untuk menuju Tulungagung cukup jauh. Rumah mertua ada di Kabupaten Trenggalek yang jaraknya sekitar 30 kilometer dari Tulungagung. Dan saat itu sudah malam hari.

Karena sudah malam, saya pun memutuskan istirahat. Tetapi saya tidak bisa tidur. Pikiran melanglangbuana ke mana-mana.

Esoknya masih sangat pagi saya bersama istru meluncur menuju Tulungagung. Tujuan utamanya adalah melihat pengumuman di STAIN Tulungagung. Saya ingin memastikan nasib saya.

Sampai di pintu gerbang, seorang satpam keluar dari pos jaga. ”Selamat mas, sampean lolos,” katanya sambil mengulurkan tangan. Saya pun menyambut uluran tangannya. Tak terasa air mata saya menetes. Segera setelah mendapatkan kepastian, saya pamit kepada satpam. Saya meluncur pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, Bapak segera saya salami, saya cium tangannya penuh haru. Air mata saya tumpah. Ibu yang tahu informasi bahwa saya diterima sebagai CPNS juga ikut hanyut dalam suasana. Beberapa tamu yang ada di rumah bingung menyaksikan apa yang terjadi. Baru mereka paham setelah suasana kembali normal dan Bapak bercerita apa yang sesungguhnya terjadi.

Kini Bapak sudah berusia lebih dari 70 tahun. Beberapa bulan lalu beliau harus dioperasi karena sakit yang dideritanya. Secara fisik, kondisi beliau semakin melemah. Tetapi semangat hidup beliau sangat tinggi.

Saya bersama istri dan anak

Kini beliau menyaksikan kami anak-anaknya telah menempuh jalan hidup kami masing-masing. Tinggal si bungsu yang masih menempuh bangku kuliah. Saya sungguh sangat bersyukur atas apa yang saya alami. Atas jasa Bapak saya bisa menjadi seorang dosen. Sungguh ini merupakan ketidakterdugaan. Tidak pernah terbayang dalam benak saya sebelumnya untuk menjadi seorang dosen.

Dulu, saat kuliah, beberapa teman bertanya tentang cita-cita saya. ”Menjadi guru SMP,” jawab saya. Cita-cita itu muncul karena saya ingin melebihi Bapak yang guru SD. Namun Allah berkehendak lain. Saya justru mendapatkan pekerjaan sebagai dosen. Ini sungguh ketidakterdugaan. Dan semua ini karena jasa besar Bapak. Terima kasih banyak Pak. Semoga kesehatan dan keberkahan selalu menyertai beliau. Amin.

Catatan sederhana ini merupakan upaya saya merawat kenangan hidup. Hidup yang penuh ketidakterdugaan. Semoga ke depan hidup saya selalu dilimpahi keberkahan dari Allah Swt.

Menulis melalui blog semacam ini juga memiliki banyak manfaat. Seandainya tidak ada ajakan Mbak Ika Puspitasari, mungkin saya tidak akan membuat tulisan semacam ini. Mbak Ika Puspitasari melalui blog yang dikelolanya, http://www.bundafinaufara.com, menjadi pendorong saya untuk menulis tentang sebagian perjalanan hidup saya.

Secara personal saya belum bertemu beliau. Melalui blog yang beliau kelola, saya mendapatkan banyak informasi dan manfaat. Dan tulisan ini adalah salah satu komitmen saya untuk merawat tradisi menulis, sesederhana apa pun tulisan yang saya buat. Paling tidak saya berusaha menggali inspirasi dari seorang blogger seperti beliau. 

Salam.

Trenggalek, 16 Maret 2016. 



10 komentar:

  1. Selesai membaca tulisan ini, hati kecilku tergerak untuk ikut menuliskan perjuangan bapak ibuku yang begitu luar biasa pengorbanannya untuk mendidik aku hingga sekarang. Tulisan ini seperti percikan api untuk menyulutkan bara semangat menulis sosok besar di belakang saya. Terima kasih ustad pelajaran dan hikmahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan sederhana Mas. Semoga ada manfaatnya.

      Hapus
    2. Tulisan sederhana namun manfaat dan efeknya lebih dari kata sederhana. Luar biasa.

      Hapus
  2. mengharukan....dan bikin saya malu sebab merasa diri saya kurang bersyukur selama ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih berkenan membaca dan mengunjungi blog saya. Semoga catatan sederhana ini, juga tulisan-tulisan saya lainnya, menjadi amal kebaikan buat kedua orang rua saya. Amin.

      Hapus
  3. Tidak sadar, air mata saya menetes baca biografi Pak. Naim, terharuu ...semoga orang tua Pak. Naim diberikan kesehatan selalu dan umur panjang

    BalasHapus
  4. Sebuab perjalanan yang berliku tetapi tidak banyak yang tahu. Tahunya sekarang sudah menjadi orang sukses dan TOP...!

    BalasHapus
  5. M. Khaliq Shalha, M.Pd.I.@ Amin. Terima kasih mas. Yusuf As Sany@ AMin. TOP itu artinya opo to? Perasaan panggah biasa wae.

    BalasHapus