Jumat, 04 Maret 2016

Dialog dengan Buku



Oleh Ngainun Naim
Buku-buku di rumah berserakan kurang tertata rapi. Entahlah, rasanya kok sulit untuk merapikannya. Selalu saja ada alasan untuk tidak melakukannya. Beberapa kali kupandangi buku-buku koleksiku. Aku kira jumlahnya cukup lumayam. Itu adalah akumulasi dari pembelian yang kulakukan secara rutin. Juga pemberian dari penerbit saat dulu aktif menulis resensi di media, atau dari teman-teman yang berbaik hati memberikannya kepadaku. Aku bersyukur bisa memiliki gudang ilmu tersebut. Buku-buku itulah yang telah memberiku energi untuk belajar. Ya, dengan buku Aku menjadi manusia yang tidak tahu. Karenanya Aku berusaha membaca, meskipun kesempatannya sangat minim.
Prof. Khaled Abou El Fadl dan buku-buku koleksinya. Sumber gambar www.ohbuku.com

Sebuah buku mungil karya Khaled M. Abou El Fadl tiba-tiba datang melintas di ingatan. Buku yang berjudul 'Musyawarah Buku' itu sungguh mempesona. Aku coba cari di lemari buku, nihil. Semoga saja buku itu tidak lenyap. Seingatku, buku itu adalah rangkuman dari musyawarah Khaled setiap malam saat ia menyerap buku. Buku telah mendedahkan energi hidup yang luar biasa pada diri Khaled. Serapan energi itu kemudian berbuah produksi karya yang jumlahnya melimpah. Konon, Khaled memiliki koleksi buku di kisaran 40.000 eksemplar. Ya, itu jumlah buku yang sungguh tak terperi. Dan sekitar separonya adalah buku klasik karya para ulama terdahulu.
Buku inspiratif karya Khaled Abou El Fadl

Buku demi buku yang terus menambah koleksi menjadi energi untuk belajar. Memang aktivitas sehari-hari menjadi tantangan tersendiri untuk menikmatinya. Antara waktu dan kesempatan membaca menjadi tidak seimbang. Tetapi entahlah, buku memang selalu mempesona. 'Jika ada uang beli saja. Kalo kamu tunda, bukunya bisa sulit didapat,' nasihat guruku MTs yang koleksi bukunya hampir 15 ribu judul. Aku tersenyum saja mendengar nasihat itu. Dalam hati mengiyakan walau kadang sedih saat ada buku bagus tapi uang tidak cukup untuk membelinya. Buku demi buku adalah sarana untuk mendulang energi menulis. Membaca yang dilakukan secara rutin merupakan sumber energi menulis yang melimpah. Jika tidak pernah membaca jangan berharap bisa menghasilkan tulisan yang baik.
Sebagian buku sederhana karyaku

Buku sederhana yang saya tulis, The Power of Reading, berisi tentang hal-ikhwal membaca. Intinya buku itu menyatakan bahwa membaca besar sekali manfaatnya. Kampanye tentang membaca buku harus terus disuarakan. Inilah kunci penting kemajuan hidup. Sayang, banyak yang tahu tetapi tidak mau melakukan. “Membacalah sedikit demi sedikit. Serap manfaatnya,” kata Hernowo. Jadi, ayo membaca.


6 komentar:

  1. luar biasa nih pny banyak koleksi... mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak banyak Bang, hanya lumayan. Sedang berusaha terus untuk menambah koleksi he he he. Terima kasih sudah berkenan membaca catatan sederhana saya.

      Hapus
  2. Saya mau melaksanakan nasehat guru bapak, saya bisa beli yg menjadi guru inspuratif?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa bu. Kirim alamat ya ke email saya: naimmas22@gmail.com

      Hapus
  3. semoga nulari Pak Kyai....

    BalasHapus