Sabtu, 27 Februari 2016

Buku Berbasis Status

Oleh Ngainun Naim

Ternyata sudah cukup lama saya tidak mengisi blog. Padahal, sesungguhnya ada keinginan yang cukup kuat untuk rutin mengisinya. Tetapi alasan memang selalu ada. Alasan utamanya ya kesibukan sehari-hari.

Bukan berarti saya berhenti menulis. Saya terus berusaha menulis setiap hari, walaupun hanya satu paragraf. Memang, saya berusaha berkomitmen menulis. Tetapi jujur, tidak mudah menjaga komitmen tersebut.
 
Buku karyaku yang bahannya dari tulisan sederhana yang kutulis nyaris setiap hari
Kali ini saya ingin berbagi catatan sederhana tentang buku berbasis status. Catatan ini terinspirasi dari kegiatan saya yang biasanya menulis status pendek secara berseri yang saya unggah di facebook. Jadi, catatan kali ini merupakan pengembangan dari status facebook yang saya tulis sejak senin sampai jumat, 22-26 Februari 2016.

Di catatan yang berjudul buku berbasis status, saya mengawali dengan sebuah pertanyaan. ”Buat apa menulis status panjang dan berseri di dinding facebook?” Biasanya saya tidak banyak memberikan jawaban. Bagi saya, yang penting membuat catatan. Itu saja. Tetapi setelah saya renungkan, ternyata ada banyak manfaat yang saya peroleh.  

Pertama, menjaga spirit menulis. Semua penulis pernah mengalami semangat naik turun. Jika sedang semangat, sebuah karya bisa cepat diselesaikan. Tapi jika sedang malas, bisa berminggu-minggu tidak membuat tulisan. Catatan yang pada awalnya di facebook semacam ini bisa diposisikan sebagai sarana menjaga semangat menulis.

Kedua, merawat ide. Menulis sesering mungkin, berdasarkan pengalaman personal saya, memiliki fungsi yang cukup strategis dalam menjaring ide. Saya memaksa diri untuk merangkai hal yang sangat sederhana sekalipun, seperti catatan ini, untuk ditulis. Konsekuensinya, ide demi ide sering datang menghampiri. Ide bisa muncul dari kepekaan diri untuk menerima secara kritis berbagai fenomena yang ada. Buku, peristiwa, bahkan status di jejaring sosial juga memiliki fungsi sebagai sumber ide. Tinggal bagaimana kita mengelolanya secara baik. Setelah ide diperoleh barulah ditulis. Tapi tidak sesederhana itu prosesnya. Menulis tiga paragraf saja tidak jarang prosesnya cukup rumit. Jika Anda sudah rutin membuat catatan setiap hari, tentu Anda tidak akan bertanya mengapa cukup rumit. Bagi yang belum, silahkan mencoba.

Ketiga, menulis bertahap. Menulis buku tidak harus mengikuti model menulis karya 
ilmiah yang ketat seperti skripsi, tesis, atau disertasi. Ada model lain yang bisa dipilih. Mengumpulkan tulisan-tulisan yang memiliki tema berdekatan menjadi satu buku juga merupakan strategi yang bisa dipilih. Model semacam ini sesungguhnya lebih mudah dibandingkan dengan model menulis ilmiah yang ketat. Yang penting temanya berdekatan, bisa disatukan. Status facebook adalah modalnya. Tentu harus diperbaiki, diberi referensi, dan ditata ulang. Jadi, status di facebook adalah salah satu tahap dalam menulis buku.

Keempat, melatih disiplin. Disiplin menulis itu ternyata tidak mudah. Bagi saya 
sungguh berat. Ya, sungguh sangat berat. Tidak jarang saat malas menyapa, tidak ada satu pun energi yang menggerakkan untuk menghasilkan karya. Catatan sederhana semacam ini dapat menjadi sarana untuk berdisiplin. Mungkin memang hanya beberapa paragraf, tetapi jika rutin dilakukan akan membawa hasil yang cukup lumayan. Jika satu hari bisa membuat tiga paragraf saja, seminggu sudah menghasilkan satu artikel yang lumayan panjang. Mungkin sangat sederhana, tetapi itu lebih baik dibandingkan hanya berkeinginan belaka.

Kelima, berbagi inspirasi. Saya tidak terlalu berharap banyak atas apa yang saya tulis. Saya buat tulisan sesungguhnya untuk diri sendiri. Jika kemudian bermanfaat buat orang lain, tentu saya syukuri. Semestinya ada begitu banyak lagi manfaat yang bisa diperoleh dari membuat status semacam ini. Silahkan teman-teman melengkapinya. Salam.

Trenggalek—Tulungagung, 22-26 Februari 2016.

2 komentar:

  1. kalo saya status pendek2 aja, jadi gk bisa jadi buku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya bisa saja Bang, asal direvisi, dikumpulkan, lalu diolah jadi buku. Hanya memang butuh kesabaran mengolahnya.
      Terima kasih sudah berkenan membaca dan memberikan komentar. Salam.

      Hapus