Selasa, 12 Januari 2016

Revolusi untuk Perbaikan Negeri



Judul Buku: Revolusi Pancasila
Penulis: Yudi Latif
Penerbit: Mizan Bandung
Edisi: Juni 2015
Tebal: xiii+208 halaman


Buku Yudi Latif

Perhatian terhadap Pancasila tampaknya mengalami kemunduran dari waktu ke waktu. Kemunduran ini terjadi pada hampir semua komponen bangsa, termasuk pada mereka yang berada di dunia pendidikan. Salah satu indikasinya adalah semakin berkurangnya jumlah intelektual Indonesia yang memiliki perhatian terhadap topik ini. Selain itu, semangat mempelajari dan mensosialisasikan Pancasila di berbagai institusi pendidikan juga menurun drastis. Hal ini dapat dicermati dari fakta semakin banyaknya generasi muda yang tidak hafal terhadap sila-sila Pancasila. Bahkan secara tegas Prof. Dr. Moh. Mahfud MD menyatakan bahwa gema Pancasila sekarang ini memang semakin mengendur. Pertanyaan dasarnya, jika sila-sila Pancasila saja tidak hafal, bagaimana mungkin mengetahui dasar filosofis dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari?
Fenomena semakin terasingnya Pancasila dari kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia sesungguhnya merupakan sebuah ironi. Pancasila merupakan dasar negara. Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan dasar berdirinya NKRI. Lebih jauh, Pancasila adalah dasar dalam mengatur  penyelenggaraan negara. Selain itu, Pancasila juga merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia. Sebagai pandangan hidup, ia menjadi titik orientasi seluruh kehidupan masyarakat secara luas.
Selain sebagai dasar negara dan sebagai pandangan hidup, Pancasila juga memiliki peranan dan fungsi lain. Fungsi-fungsi Pancasila menunjukkan bahwa Pancasila memiliki peranan yang signifikan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Karena itu ketika semakin banyak warga masyarakat yang tidak mengetahui dan memahami terhadap Pancasila maka kondisi ini sesungguhnya membahayakan bagi kehidupan bangsa ini pada taraf selanjutnya.
Pada kondisi semacam ini diperlukan berbagai upaya untuk menjadikan Pancasila kembali menjadi ideologi yang menguatkan eksistensi bangsa ini. Sejauh ini sesungguhnya sudah ada usaha cerdas dan kreatif untuk melakukan penafsiran Pancasila dalam konteks kehidupan sekarang ini. Salah satu intelektual muda yang penting untuk disebut adalah Yudi Latif.
Sejauh ini ia telah menulis beberapa buku tentang Pancasila, yaitu Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (2011), Mata Air Keteladanan, Pancasila dalam Perbuatan (2014), dan yang terbaru Revolusi Pancasila. Buku-buku tersebut merupakan ikhtiar serius Yudi Latif untuk menghadirkan Pancasila sebagai perilaku hidup sehari-hari bangsa Indonesia.
Buku Revolusi Pancasila ini bisa disebut sebagai titik puncak kegelisahan Yudi Latif terhadap keadaan Indonesia yang kian hari kian kacau. Kondisi ketidakjelasan ini tidak boleh dibiarkan. Harus dilakukan langkah penyelamatan agar bangsa ini tidak hancur di titik nadir. Caranya adalah dengan Revolusi Pancasila.
Buku ini berisi pemikiran orisinal dan bernas Yudi Latif dalam menafsirkan Pancasila. Bagi Yudi Latif, revolusi menjadi pilihan paling strategis untuk keluar dari jerat persoalan yang sedemikian kompleks. Tanpa melakukan revolusi, Pancasila akan semakin kehilangan peran strategisnya. Implikasinya, kehidupan bangsa ini akan semakin keluar jauh dari rel kehidupan yang diidealkan.
Yudi Latif menguraikan secara rinci dan detail tentang apa yang ia maksud dengan revolusi Pancasila, mulai dari aspek yang sifatnya filosofis hingga agenda praktis untuk mewujudkannya. Paparan demi paparan di buku ini menunjukkan bahwa kita masih memiliki harapan untuk menjadi bangsa yang besar. Harapan itu masih mungkin karena kita memiliki banyak peluang untuk mewujudkannya.
Tawaran yang digagas Yudi Latif memang menarik dalam konteks pencarian jalan keluar atas segenap persoalan yang sekarang tengah menghimpit bangsa ini. Tetapi jalan keluar yang bisa ditempuh tentu tidak semudah yang digagas Yudi Latif. Bahkan untuk memahami kata revolusi itu sendiri tidak mudah. Walaupun Yudi Latif sudah mengklarifikasi secara historis dan teoritis terkait kata revolusi, tetapi stigma yang pejoratif menjadikan kata revolusi Pancasila membutuhkan proses tersendiri untuk bisa dipahami. 

Sebagai tawaran pemikiran, kita harus mengapresiasi secara konstruktif terhadap ikhtiar Yudi Latif. Tanpa pemikir semacam ini, perjalanan bangsa ini akan semakin gelap. Buku ini signifikan perannya dalam ”mencari terang” di tengah kegelapan dan ketidakjelasan arah perjalanan bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar