Senin, 25 Januari 2016

Revolusi Mental Berbasis Budaya Jawa



Judul Buku: Revolusi Mental dalam Budaya Jawa
Penulis: Suwardi Endraswara
Penerbit: Narasi, Yogyakarta
Cetakan: 1, Januari 2015
Tebal: xiii+258 halaman
ISBN: 978-979-168-423-1
Peresensi: Ngainun Naim, Pegiat Literasi, Tinggal di Trenggalek.


Kata revolusi mental identik dengan Presiden Jokowi. Hal ini disebabkan karena kata tersebut dicetuskan, dikampanyekan, dan dijadikan icon Jokowi selama masa kampanye presiden tahun 2014 lalu. Sehingga kalau disebut kata revolusi mental maka konotasinya secara langsung tertuju pada Presiden Jokowi.
Namun demikian, kata revolusi mental sesungguhnya masih menimbulkan banyak pertanyaan seperti sesungguhnya yang dimaksud dengan revolusi mental, apa substansinya, dan bagaimana menerjemahkannya secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Seiring perjalanan waktu, ia juga semakin kehilangan konteks dan semakin dilupakan. Padahal jika dapat teraplikasi secara optimal, revolusi mental bisa merubah bangsa ini menjadi lebih baik.
Kondisi bangsa yang semakin runyam dengan belitan rumitnya persoalan membutuhkan solusi yang jitu. Secara konseptual, revolusi mental sesungguhnya bisa menjadi solusi yang strategis. Justru karena posisi strategis inilah maka revolusi mental seharusnya tidak dilupakan begitu saja. Ia harus digali nilai-nilainya dan diterjemahkan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Revolusi mental bisa digali dengan berbagai macam pendekatan. Salah satunya adalah pendekatan budaya. Pendekatan budaya memungkinkan teridentifikasinya mental-mental destruktif untuk kemudian direvolusi dengan mental-mental baru yang konstruktif. Pada titik inilah revolusi mental memiliki peluang besar untuk bergerak dari tataran konsep menjadi aksi.
Pada aspek inilah, usaha yang dilakukan Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum penting untuk diapresiasi. Guru besar Universitas Negeri Yogyakarta ini menggali mental-mental negatif yang ada pada masyarakat Jawa dan menawarkan revolusinya berupa mental-mental positif yang potensial untuk merubah masyarakat. Tawaran Prof. Suwardi merupakan jawaban yang lebih konkrit dan operasional dari apa yang disebut revolusi mental.
Sepuluh bab di buku ini berisi berbagai jenis mental yang dirumuskan berdasarkan tipologi tertentu. Bab dua misalnya bertajuk ”Revolusi Mental Hewaniah Jawa”. Identifikasi Prof. Suwardi menemukan ada empat jenis mental hewaniah sekaligus mental revolusinya. Pertama, mental klenik ke mental klinik. Kedua, mental serakah ke mental berkah. Ketiga, mental sengkeran ke mental the liyan. Dan keempat, mental angin busuk ke mental angin segar.
Setiap jenis mental jelek diurai secara mendetail dengan berbagai tinjauan. Demikian juga dengan mental solusinya. Sebagai ahli budaya Jawa, uraian Prof. Suwardi sangat luas dan mendalam. Penulis buku ini juga berhasil memperluas konteks bahasannya tidak hanya pada budaya Jawa, tetapi juga pada budaya-budaya lainnya. Pada titik inilah buku ini menemukan signifikansinya guna menjawab keingintahuan masyarakat tentang revolusi mental.
Setiap budaya memiliki dimensi positif dan negatif. Demikian juga dengan budaya Jawa. Bab demi bab pada buku ini memberikan deskripsi secara obyektif tentang mental Jawa. Realitas mental yang telah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan masyarakat Jawa tidak harus diterima sepenuhnya. Perubahan di berbagai bidang kehidupan seyogyanya melahirkan sikap kritis untuk melakukan revolusi menuju kehidupan yang lebih baik. Jika revolusi mental berhasil dilakukan maka berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini sedikit demi sedikit akan terurai. Jika tidak, kita akan tetap sibuk bertengkar tanpa ujung. Padahal, mental semacam ini seharusnya direvolusi.

4 komentar:

  1. Catatan yang menarik, Pak. Buku memang membawa banyak perubahan dalam masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Sidik. Betul, buku memang membawa perubahan ke arah kemajuan. Oh ya, saya juga baru selesai membaca Tewasnya Gagak Hitam, cuma belum sempat membuat review. Semoga ada kesempatan menuliskannya. Salam.

      Hapus
  2. Ass. Alhamdulillah saya dapat Insfirasi untuk menelaah budya-budaya Bengkulu yang sepertinya dari yang negatif ke arah positif, Makasih ya, Sukses

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wass. Alhamdulillah. Semoga mendapatkan hal-hal positif untuk pengembangan budaya yang lebih baik.

      Hapus