Senin, 04 Januari 2016

Pengajian di Malam Tahun Baru



Oleh Ngainun Naim

Tahun baru disambut gegap gempita di berbagai tempat di seluruh dunia. Bermacam-macam acara digelar, mulai yang bernuansa religius sampai yang bernuansa hedonis. Semua dilakukan dalam rangka menyambut harapan baru di tahun baru.
Jika Anda keluar rumah, Anda bisa menyaksikan riuh rendahnya suasana malam menjelang pergantian tahun. Kegembiraan terpancar dengan ekspresi yang beranekaragam. Dan keadaan semacam ini telah menjadi ritual rutin setiap tahun.
Secara pribadi saya lebih menyukai kegiatan keagamaan dalam menyongsong tahun baru. Bentuknya bisa pengajian, dzikir atau refleksi bersama. Kegiatan keagamaan menurut saya lebih bermanfaat daripada masuk dalam lingkaran hiruk-pikuk yang kurang bermanfaat.
Saya sendiri di malam tahun baru tidak ikut dalam hiruk-pikuk atau ikut kegiatan keagamaan. Semalam saya mengantar Bapak kontrol kesehatan ke dokter. Usia sepuh memang membuat kondisi kesehatan beliau tidak lagi prima sebagaimana saat muda.
Saat perjalanan pulang, tanpa sengaja saya menemukan stasiun radio yang menyiarkan secara langsung pengajian kiai yang lagi naik daun, KH Anwar Zahid. Setelah pengajian usai baru saya tahu bahwa itu adalah stasiun  radio Angkling Darmo FM yang berada di Desa Mirigambar. Sedangkan lokasi pengajian di Desa Bendilwungu.
Sebagai orang yang mencintai dunia membaca-menulis, ceramah K.H. Anwar Zahid pun harus saya rekam. Saya tidak ingin ilmu penting yang saya peroleh hilang begitu saja karena lupa. Karena keadaan, saya mencatat poin-poin penting ceramah beliau di hp saya.
Brosur pengajian KH Anwar Zahid di Tulungagung

Berdasarkan catatan di hp, KH Anwar Zahid menyampaikan tentang pentingnya menghormati: (1) ulama; (2) umara; (3) tetangga; (4) saudara; (5) suami atau istri.
(1) Tentang menghormati ulama dijelaskan kiai asal Bojonegoro tersebut bahwa ulama merupakan ahli waris Nabi. Kita belajar Al-Quran dan Hadis tidak bisa langsung kepada Nabi. Ilmu ulama yang membuat kita mengerti ajaran Islam.
KH Anwar Zahid membuat analogi sederhana terkait persoalan ini. Allah diibaratkan sumber air, Nabi diibaratkan pompa air, Ulama diibaratkan paralon. Kita bisa memanfaatkan air karena paralon. Kita mendapatkan ilmu Islam melalui jasa ulama.
(2) Terhadap umara kita juga harus menghormati. Program mereka kita sokong agar berhasil. Jika kurang setuju kita kritik. Tujuannya agar baik. "Tapi gunakan kritik yang  santun. Jangan anarkhis", tegas KH Anwar Zahid.
(3) Terhadap tetangga demikian juga adanya. Sehari-hari kita berinteraksi dengan mereka. Apapun yang kita lakujan secara sosial mesti berkaitan dengan mereka. Maka perbaikilah relasi dengan mereka karena tetangga yang akan membantu kita saat kita butuhkan.
(4) Saudara adalah orang yang memiliki pertalian darah dengan kita. Mereka harus kita hormati. Kita jalin rasa keterikatan agar hidup semakin berkah. Jangan sampai afa konflik, apalagi memutus tali persaudaraan.
(5) Pasangan hidup adalah orang yang menemani perjalanan hidup kita. KH Anwar Zahid mengajak untuk mengedepankan kebaikan dalam hubungan dengan mereka. Bukan justru menjelek-jelekkan.
Pengajian di malam tahun baru sungguh bermanfaat. Acara semacam ini jauh bernilai dibandingkan hura-hura. Semoga di tahun ini kebaikan demi kebaikan menyertai hidup kita. Amin.

Trenggalek, 1-2 Januari 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar