Kamis, 10 September 2015

Jejak Tuanku Imam Bonjol di Bumi Nyiur Melambai



Oleh Ngainun Naim

Manado adalah sebuah wilayah yang belum pernah saya kunjungi. Karena itu saya sangat bersyukur saat mendapatkan kesempatan menjadi partisipan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS ke XV) pada 3-6 September 2015. Kesempatan ini harus saya manfaatkan sebaik mungkin. Saya harus mengikuti kegiatan demi kegiatan secara baik.
Bersama rombongan dari beberapa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Jawa Timur, kami menuju Manado. Perjalanan Surabaya sampai Manado ditempuh selama hampir tiga jam. Secara umum perjalanan berlangsung lancar.
Pesawat Lion Air mendarat di Bandar Udara Sam Ratulange Manado pada pukul 13.15 WITA. Begitu keluar bandara, panitia sudah menyambut kami dengan ramah. Kesan pertama yang saya tangkap, Manado suhunya cukup panas. Tidak berbeda jauh dengan Surabaya. Keadaan kotanya juga nyaris tidak berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia yang pernah saya kunjungi. Macet, semrawut, kotor, dan tata kota yang kurang rapi.
Namun demikian, selalu ada yang istimewa di setiap kota. Demikian juga dengan Manado. Saya mulai menjelajahi beberapa bagian kota yang dikenal sebagai "Bumi Nyiur Melambai" ini pada malam hari seusai acara pokok. Bersama teman-teman, kami berjalan menyusuri beberapa bagian kota sekitar hotel. Maksud hati adalah mencari mi goreng atau mi godok.
Warung mi godok kami temukan di deretan toko depan Hotel Aston. Malam itu mi godok terasa nikmat sekali. Saya menyaksikan masyarakat yang memenuhi warung sederhana tersebut.
Usai makan, kami berjalan ke penginapan. Sepanjang jalan saya melihat angkutan kota yang hingga jauh malam masih beroperasi. Di Jawa, angkutan kota banyak yang sudah gulung tikar.
Pagi hari, usai shalat subuh, saya melanjutkan petualangan seorang diri. Saya berjalan kaki menyusuri sudut kota. Saya menemukan sebuah tempat yang unik. Tempat itu bernama Jalan Roda. 
Jalan Roda

Jalan Roda laiknya sebuah pasar. Saya masuk ke dalamnya. Deretan warung kopi lebih dari dua ratus meter berderet dari ujung ke ujung. Karena penasaran, saya pun mencoba berhenti di salah satu warung, memesan kopi, dan menikmati menu khasnya, yaitu nasi kuning. Di Jawa, nasi kuning modelnya mirip dengan nasi kucing.
Kopi dan nasi kuning


Setelah cukup, saya kembali ke penginapan. Badan sudah basah oleh keringat. Saya pun segera mandi dan bersiap menuju lokasi acara pokok.
Malam harinya, usai acara, petualangan saya lanjutkan. Seorang teman memberikan informasi adanya warung saraba. Saraba adalah minuman khas yang terdiri dari susu, madu, dan jahe. Saya dan beberapa teman tergerak untuk melacak. Tempat yang ditunjukkan kami lacak dengan jalan kaki. Tetapi tampaknya kami kurang beruntung. Mencari-cari lokasi dan juga bertanya ke orang ternyata tidak juga membuahkan hasil. Akhirnya kami kembali. Karena terlanjur keluar, kami kembali ke warung mi yang kami kunjungi pada malam sebelumnya.
Tidak ada yang istimewa di warung ini sampai kemudian datang tiga orang karyawan Hotel Aston. Salah seorang yang paling senior mulai menyapa kami, bertanya tentang berbagai hal, dan ternyata ia orang Jawa. Aslinya Wonogiri. Ia juga cukup tahu tempat-tempat di Tulungagung.
Hampir tengah malam tetapi kami kesulitan mengakhiri pertemuan. Orangnya kocak banget. Ia bisa ndalang, cerita falsafah budaya Jawa, dan nembang juga. Setelah cukup, saya pun meminta pamit.
Malam sudah sangat larut. Kami harus istirahat. Esok masih ada acara konferensi yang serius.
Di hari terakhir, kami memiliki waktu luang cukup lumayan. Jadwal penerbangan masih cukup lama. Malamnya kami merencanakan untuk mengunjungi beberapa tempat. Kami bersepakat pagi-pagi sekali berangkat agar segera sampai di tujuan. Tujuan pertama adalah Bunaken.
Terumbu karang yang bisa dilihat dari atas perahu

Bunaken adalah laut yang terkenal dengan terumbu karangnya. Dari perahu kita bisa melihat keelokan terumbu karang plus ikan-ikan yang bebas berenang dengan jenis yang sangat beragam. Perjalanan sekitar sejam menuju Bunaken sungguh mengesankan. Beberapa teman kemudian memilih snokling dan mengabadikannya dalam gambar. Saya yang tidak memiliki keberanian memilih istirahat, minum kopi, dan berbelanja oleh-oleh untuk keluarga.
Pantai Bunaken yang indah

Usai dari Bunaken kami berziarah ke makam Imam Bonjol. Saya sungguh tidak menduga jika Tuanku Imam Bonjol dibuang oleh Belanda ke pulau yang sangat jauh dari Padang, Sumatera Barat. Makam pahlawan nasional tersebut berada di perbukitan tandus di luar kota Manado.
Sesaat sampai di makam saya menuju ke tempat shalat Tuanku Imam Bonjol. Lokasinya sangat terpencil, di sebuah tempat di dekat sungat, sekitar 100 meter dari makam beliau. Saya menuruni tangga yang menjorok curam ke bawah. Di mushala yang menjadi tempat shalat beliau, ada seorang penjaga. Saya pun berbincang santai dengan beliau.
Makam Tuanku Imam Bonjol tampak dari depan

Perbincangannya seputar Tuanku Imam Bonjol dan kiprahnya di lokasi pengasingan. Beliau bercerita bahwa dalam pengasingan, Tuanku Imam Bonjol ditemani seorang pengawalnya. Pengawal ini menikah dengan penduduk asli yang kemudian memeluk agama Islam. Penjaga ini ternyata keturunan kelima dari Sang Pengawal.
Tempat shalat Tuanku Imam Bonjol

Setelah cukup saya pun mohon diri. Di belakang saya ada puluhan orang yang baru saja datang. Saya bergegas menuju makam dan berdoa. Sungguh besar jasa Tuanku Imam Bonjol. Demi negara, beliau sampai dibuang jauh dari tanah kelahirannya.
Batu tempat shalat Tuanku Imam Bonjol

Secara umum saya menangkap kesan kalau makam itu kurang terawat baik. Di sana sini kotoran bertebaran. Jalan menuju makam juga rusak. Saya membayangkan seandainya dikelola secara baik, makam beliau dapat menjadi tujuan wisata spiritual sebagaimana pahlawan dan ulama di Jawa.
Sesungguhnya saya ingin melanjutkan perjalanan ke Kampung Jawa Tondano. Di kampung ini salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro diasingkan. Namanya Kyai Mojo. Saya mendapatkan informasi bahwa ada beberapa makam di sekitar makam Kyai Mojo. Juga ada Masjid Kyai Mojo. Sayang, anggota rombongan sudah kelelahan. Maka kami pun bersepakat untuk pulang ke penginapan.
Dalam perjalanan pulang, kami berhenti sejenak untuk mengambil gambar di depan patung raksasa Yesus. Di samping patung ada tulisan Yesus Memberkati. Patung tersebut rupanya menandai bahwa di Bumi Nyiur Melambai, agama Kristen cukup dominanan. Memang, gereja menjadi pemandangan yang mendominasi di berbagai tempat.
Manado adalah sebuah wilayah yang cukup plural. Semua agama ada. Bahkan tempat ibadah sinagog pun ada. Namun kerukunan terjaga secara baik.
Perjalanan selama beberapa hari di Manado memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga. Pluralitas masyarakatnya, keindahan tempatnya, dan juga keramahan penduduknya merupakan pesona tak terkira. Semoga afa kesempatan lagi untuk menjelajahi Bumi Nyiur Melambai.

Trenggalek, 8 September 2015

4 komentar:

  1. Hello I'am Chris !
    I suggest you to publicize your blog by registering on the "directory international blogspot"
    The "directory" is 25 million visits, 194 Country in the World! and more than 20,000 blogs. Come join us, registration is free, we only ask that you follow our blog
    You Have A Wonderful Blog Which I Consider To Be Registered In International Blog Dictionary. You Will Represent Your Country
    Please Visit The Following Link And Comment Your Blog Name
    Blog Url
    Location Of Your Country Operating In Comment Session Which Will Be Added In Your Country List
    On the right side, in the "green list", you will find all the countries and if you click them, you will find the names of blogs from that Country.
    Imperative to follow our blog to validate your registration.Thank you for your understanding
    http://world-directory-sweetmelody.blogspot.com/
    Happy Blogging
    ****************
    i followed your blog, please follow back
    Best Regards
    Chris
    +++++++++++++++++++

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Terima kasih berkenan berkunjung di blog sederhana ini.

      Hapus