Selasa, 25 Agustus 2015

Melihat Keragaman dengan Cinta



Oleh Ngainun Naim



Bagi peminat kajian Islam Indonesia, khususnya kajian hukum Islam, nama Nadirsyah Hosen menempati posisi yang cukup penting. Karya tulisnya sering menghiasi berbagai media.
Saya menyukai gaya tulisan Kiai Nadir. Rois Syuriah PCI NU Australia--New Zealand dan Pengajar School of Law di University of Wollongong, Australia ini mampu mengurai secara renyah persoalan yang rumit sekalipun. Buku dengan sampul menarik berjudul Dari Hukum Makanan tanpa Label Halal hingga Memilih Mazhab yang Cocok (Bandung: Mizania, 2015) adalah salah satunya.
Buku Prof. Nadirsyah Hosen yang menjadi inspirasi catatan ini memang menarik. Sebelum membuat catatan tentang buku ini, saya juga pernah membaca dan membuat resensi sederhana buku beliau yang lainnya, yaitu Mari Bicara Iman. Anda bisa membacanya di blog sederhana saya: www.ngainun-naim.blogspot.com.
Ketertarikan saya terhadap buku ini, selain faktor penulisnya, juga karena rekomendasi (secara tidak langsung) dari para ilmuwan Indonesia yang saya baca di jejaring sosial. Mereka umumnya menyarankan untuk memiliki buku tersebut karena kandungan isinya yang mencerahkan. Selain itu, buku tersebut juga berbeda dengan buku-buku yang lain dalam genre yang sama.
Begitu ada kesempatan ke toko buku, prioritas utamanya adalah mencari buku tersebut. Beruntung, buku masih ada. Segera saja saya ambil (lalu dibayar). Dan sesudah itu, selama beberapa hari saya memelototi bagian demi bagian sampai tuntas.
Buku karya Prof. Nadirsyah Hosen ini unik. Berbeda dengan buku ilmiah yang gaya bahasanya kaku, buku ini--menurut saya--lebih mirip dengan novel atau kumpulan cerita pendek (cerpen). Tentu, novel atau cerpen ilmiah yang berbobot. Disebut demikian karena buku ini ada ceritanya. Tokoh utamanya seorang santri yang sedang studi di Australia. Namanya Ujang. Ujang sendiri adalah penulis buku ini.
Pengantar buku ini menarik karena tidak hanya berisi alasan mengapa buku ini ditulis, tetapi juga berisi riwayat akademik penulisnya, walaupun hanya sekilas. Satu hal yang menurut saya menarik adalah alasan Ujang studi di Australia, bukan justru di Arab atau Timur Tengah.
Ujang putra seorang ulama besar. Pendidikannya di pesantren. S1 di Fakultas Syariah IAIN Jakarta. Spirit belajarnya yang besar untuk studi di luar negeri membuatnya serius belajar bahasa Inggris. Setiap pagi selama 2 jam ia belajar bahasa Inggris secara autodidak. Buku bahasa Inggris apa pun dibacanya secara tekun. Kemampuannya dalam bahasa Inggris berkembang pesat. Semester enam S1 ia sudah mampu menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa Indonesia untuk diterbitkan. Ia juga rajin mengunjungi British Council Library untuk mengasah listening dan speaking.
Namun perjuangan studi ke luar negeri ternyata tidak mudah. Ia pernah gagal. Beruntung ia memiliki guru spiritual yang merupakan penjual martabak di Ciputat. Ujang dan guru spiritualnya menjadi nama yang mewarnai kisah buku ini dari awal sampai akhir.
Ada kesan bahwa hukum Islam merupakan bagian ajaran Islam yang kaku. Implikasi kesan semacam ini kurang positif terhadap Islam secara keseluruhan. Seolah Islam adalah agama yang kurang mengapresiasi terhadap realitas yang ada. Melalui buku ini, Prof. Nadirsyah berhasil menghadirkan perspektif yang menarik. Sebuah persoalan ternyata tidak menghasilkan jawaban hukum tunggal. Ada begitu banyak perspektif dari para ulama. Setelah menghadirkan beberapa perspektif, Prof. Nadir kemudian memberikan analisis kritis. Pada ujungnya, Prof. Nadhir memberikan kesimpulan atas persoalan yang dihadapi oleh umat Islam di Australia.
Salah satu contoh operasionalisasi metodologi semacam ini adalah pada kasus cuci kaki di wastafel. Tradisi mencuci kaki saat wudhu tidak menjadi persoalan di tempat-tempat umum di Indonesia. Tidak demikian halnya dengan di luar negeri, termasuk Australia. Tempat umum di negeri kanguru tersebut memiliki toilet kering.
Persoalan muncul saat orang Indonesia berada di negeri tersebut. Saat wudhu, kaki mereka naik ke wastafel. Akibatnya, air berceceran ke mana-mana. Selain itu, kondisi ini juga memunculkan kesan negatif bagi mahasiswa non-Muslim. Orang lain juga mudah terpeleset dengan kondisi lantai yang licin.
Ujang yang mendapat pertanyaan teman-temannya terkait persoalan ini berusaha memberikan perspektif yang mencerahkan. Bagi Ujang, Islam itu agama yang mudah. Ia pun mengutip hadis, kitab, dan sumber hukum yang lainnya. Pada akhir bab ia menyimpulkan bahwa tidak harus membasuh kaki di wastafel. Cukup diusah kaki atau kaos kakinya.
Ada puluhan masalah yang diulas pada buku ini. Masalah yang diulas adalah masalah khas Australia. Bukan berarti masalahnya yang sama tidak ada sama sekali di Indonesia, tetapi karena konteksnya berbeda maka dibutuhkan jawaban yang berbeda pula.
Prof. Nadirsyah mengajarkan bahwa sebuah persoalan acapkali direspon dengan jawaban yang beranekaragam. Karena itulah, keanekaragaman seharusnya diapresiasi secara positif-konstruktif. Melalui cara semacam ini Islam tidak akan terjatuh menjadi agama yang umatnya gemar mencela dan menuduh.
Perbedaan berbasis ilmu merupakan hal wajar. Justru pada aspek inilah yang menjadikan ilmu bisa tumbuh subur. Tradisi semacam ini sayangnya belum tumbuh optimal. Melalui buku ini kita bisa belajar tentang banyak hal, termasuk bagaimana melihat keragaman dengan cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar