Rabu, 08 Juli 2015

Ramadan Produktif



Oleh Ngainun Naim
 
Mari isi ramadan dengan membaca
Ramadan tahun ini dimulai pada tanggal 18 Juni 2015. Sebulan penuh kita sebagai umat Islam akan ditempa dengan tidak makan dan minum. Tentu bukan hanya tidak hanya tidak makan dan minum, melainkan juga bagaimana kita meningkatkan kualitas diri kita.
Dan penting juga menulis di bulan ramadan

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas. Salah satunya adalah dengan membaca Al-Quran. Jika sebelum ramadan kita kurang rajin mengaji, ramadan adalah momentum untuk mengistiqamahkan mengaji. Tentu lebih bagus jika selama sebulan bisa khatam, minimal sekali.
Pagi tanggal 18 Juni saya membaca Esai Ramadan KH A Mustofa Bisri di Jawa Pos. Judul esainya menarik, yaitu "Mampukah Kita Meningkatkan Puasa Kita?". Bagian demi bagian saya baca. Tulisan yang renyah mengalir Gus Mus sungguh mempesona sekaligus kritis.
Salah satu bagian yang menurut saya menarik adalah saat beliau menulis:
Pengulangan-pengulangan, termasuk pada penyikapan kita terhadap Ramadan, bisa jadi hanya merupakan rutinitas yang hambar. Bahkan mungkin membunuh kreativitas. Tetapi, bisa juga merupakan laku keistiqamahan yang meningkatkan kualitas.
Coba simak kutipan di atas. Sangat mungkin kita terjebak pada rutinitas minim makna. Kita hanya suka cita dan ikut arus semata. Tetapi jika diniati secara tulus, puasa memang bisa meningkatkan kualitas diri kita. Puasa adalah momentum istimewa yang oleh Gus Mus dinilai sebagai sarana mendidik diri menjadi ikhlas dan jujur. Juga, momentum untuk melakukan evaluasi tahunan atas diri dan amal perilaku kita selama sebelas bulan.
Jika ini mampu kita lakukan maka itulah yang disebut dengan "Ramadan Produktif". Semoga.
Bagi pecinta Al-Quran, mengaji satu hari satu juz bukan hal istimewa. Tapi bagi orang awam seperti saya, satu juz setiap hari jelas perjuangan berat.
Idealnya memang sehari mengaji minimal 1 juz. Ini yang seharusnya diperjuangkan. Caranya dengan mencicil.
Ya, di WA saya beredar strategi membaca Al-Quran ini. Setelah shalat wajib 4 halaman. Jika istiqamah maka sebulan khatam. Tinggal dikalikan saja jika ingin khatam lebih sekali.
Ini teori. Untuk menjalankannya butuh konsistensi. Jika tidak diperjuangkan tentu khatam sekali hanya mimpi. Sesuatu yang awalnya menginspirasi tetapi tidak berenergi karena tidak mampu dieksekusi.
Selain membaca Al-Qur'an, menulis juga merupakan kegiatan produktif yang bisa dilakukan selama bulan penuh hikmah ini. Sebagaimana rutin saya lakukan, saya ingin menulis catatan rutin sekitar tiga paragraf setiap harinya. Ya, hanya tiga paragraf.
Tiga paragraf itu jika seminggu sudah sekitar tiga halaman. Lumayan bukan? Daripada tidak menulis sama sekali, menulis tiga paragraf jelas lebih produktif.
Setelah saya rasa cukup, paragraf demi paragraf itu saya susun ulang, saya edit lalu saya tampilkan di blog saya. Dengan catatan sederhana semacam itu saya berharap banyak orang membaca dan mendapatkan hikmahnya. Semoga.

2 komentar:

  1. jujur saya merasa agak keteteran utk produktif banget di Ramadan; tadarus Alquran insyaAllah terus dilakukan walaupun seberapa lembar hasilnya, demikian pula nulis, baca, urusan kerumahtanggaan, tapi sungguh berat melawan kantuk yg selaluuuu saja menerpa di kala melakukan semua hal produktif itu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesungguhnya sama Bu. Saya keteteran juga. Tetapi paling tidak berusaha semampunya untuk tetap produktif.

      Hapus