Kamis, 02 Juli 2015

Menertawakan Diri Sendiri, Babu Saja Menulis



Resensi ini ditulis oleh wartawan senior Malang, Bapak Husnun N. Djuraid. Terima kasih kepada beliau atas kebaikannya untuk meresensi buku saya.


Judul Buku            : The Power of Writing, Mengasah Keterampilan Menulis untuk Kemajuan Hidup
Penulis                   : Ngainun Naim
Penerbit                :Lentera Kreasindo
Cetakan                 : Januari 2015
Tebal                     :  230 halaman

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Mau belajar menulis, bacalah buku The Power of Writing, Mengasah Keterampilan Menulis untuk kemajuan Hidup, karya Ngainun Naim, dosen IAIN Tulungagung. Meskipun penulisnya seorang dosen, jangan bayangkan tulisannya  berat sarat dengan teori dan referensi yang sulit dicerna orang kebanyakan.  Untuk membaca buku ini, kita tidak perlu mengerenyitkan dahi – pertanda berpikir keras – tapi tetap tenang menikmati tulisan yang ringan mengalir. Tapi, sesekali buku ini akan membuat pembacanya tersenyum kecut tersindir, mengapa sampai sekarang tidak juga menulis.

Bagi Ngainun, menulis dan menerbitkan buku bukan sesuatu yang asing dalam hidupnya, karena menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sejak kuliah dia sudah intens menulis artikel dan resensi buku yang diterbitkan di banyak media. Itu belum termasuk 23 buku yang ditulisnya sendiri maupun bersama dengan teman-temannya. Kehadiran dunia maya menjadikan semangatnya menulis semakin menggebu, setiap hari dia menulis status di dinding Facebooknya berbagai tulisan motivasi menulis yang berlatar belakang kehidupan sehari-hari.

Suatu saat dia bercerita tentang anaknya yang sudah mulai membuat catatan. Pentingkah tulisan itu ? Mungkin banyak yang menganggap mengapa tulisan remeh temeh itu ditampilkan. Tapi kalau kita mencermati, sesungguhnya penulis mengajak kita untuk menertawakan diri sendiri, anak kecil saja mau menulis, bagaimana dengan kita yang sudah dewasa dan punya segala macam fasilitas untuk menulis. Tinggal kemauan saja yang harus dimunculkan. Nah, dengan membaca buku ini sebenarnya – dan seharusnya – bisa memunculkan semangat untuk menulis, karena penulisnya memberikan conton yang mudah dan lugas. Kalau berbicara hambatan, semua orang pasti punya, tapi bagaimana mengatasi hambatan tersebut dengan langsung action, tanpa banyak mengeluh. Inilah bedanya para pemenang dan para pecundang. Para pecundang menghadapi masalah dengan keluhan dan alasan, tapi para pemenang menghadapi masalah untuk dicari pemecahannya.

Salah satu ‘’kelemahan’’ buku ini adalah pada bab VI, Belajar Menulis dari Para Tokoh. Bagi orang yang pandai beralasan untuk tidak segera menulis, mereka akan mendapatkan pembenaran alasannya, karena yang ditampilkan sebagai contoh adalah tokoh terkenal yang sudah banyak menulis buku.  Seharusnya yang dilihat bukan tokohnya, tapi spirit menulisnya yang dijadikan contoh. Memang kalau berbicara alasan tidak akan ada hentinya.

Tapi nanti dulu, penulis tidak hanya menampilkan para profesor, motivator, sastrawan atau penulis profesional sebagai acuan belajar. Pada halaman 15 penulis mengajak pembacanya untuk menertawakan diri sendiri – yang kerap belasan untuk  mulai menulis – karena yang ditampilkan sebagai  contoh adalah (maaf) seorang babu bernama Sri Lestari yang bekerja sebagai TKW di Hong Kong. Melalui Babu Ngeblog,  dia menulis  berbagai masalah keseharian yang ringan dan mudah dicerna, bukan masalah politik yang membuat tensi naik. Ternyata TKW itu mempunya banyak follower yang dengan setia menunggu tulisannya setiap hari. Ngainun mengaku tidak sedang memrovokasi pembacanya, tapi sebenarnya dia sedang mengajak untuk menertawakan diri sendiri : babu saja bisa menulis, masak kaum terpelajar tidak bisa ? Para pemalas dan suka beralasan akan mengatakan : di rumah majikan Sri kan ada fasilitas free wifi ? 

Selamat menulis. (husnun n djuraid, mengajar di UMM) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar