Jumat, 31 Juli 2015

Ayo Menulis (Lagi)



Oleh Ngainun Naim

Buku ”Geliat Literasi” yang merupakan buku kompilasi banyak penulis telah terbit bulan lalu. Buku tersebut menandai semangat membaca dan menulis dari IAIN Tulungagung. Jika Anda membaca buku tersebut, Anda akan mendapatkan kekayaan khazanah pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan para penulisnya. Buku tersebut menandai gerakan sekaligus sosialisasi bahwa IAIN Tulungagung berusaha keras untuk mentradisikan membaca dan menulis.
Secara sederhana, para penulis dari buku ”Geliat Literasi” terbagi menjadi tiga. Pertama, kalangan dosen. Kedua, mahasiswa. Ketiga, stakeholders. Jumlah total penulisnya ada lebih 60 orang. Ketebalan buku ini juga cukup lumayan, di atas 300 halaman. Bagi Anda yang belum memiliki buku ini, bisa pesan via inbox atau datang ke kantor LP2M IAIN Tulungagung. Harganya cukup murah, hanya Rp. 50 ribu.
Buku baru. Minat bisa hubungi kami.


Buku ini juga sudah dibedah di Trenggalek pada akhir ramadhan lalu. Antusiasme para peserta bedah buku juga cukup lumayan. Kehadiran buku menandai spirit baru literasi. Semoga semakin banyak yang aktif berliterasi.
Dalam kerangka sosialisasi gerakan literasi, buku ”Geliat Literasi” direncanakan juga untuk dibedah di IAIN Tulungagung. Soal waktunya masih melihat kondisi dan situasi. Tentu aneh jika di tempat lain sudah dibedah justru di IAIN Tulungagung belum.
Dalam kerangka menindaklanjuti spirit literasi, LP2M IAIN Tulungagung kembali mengajak khalayak untuk menulis. Kali ini terbuka untuk umum. Topiknya tentang hari ibu. Kali ini direncanakan tidak hanya satu buku, tapi dua buku sekaligus. Ya, dua buku. Satu buku kumpulan esai dan satu buku kumpulan puisi. Jadi, ayo menulis mumpung ada kesempatan. Topiknya adalah tentang IBU. Silahkan menulis apa pun tentang IBU dan kirimkan ke panitia. Dengan membayar Rp. 50 ribu, Anda akan mendapatkan 1 eksemplar buku sebagai bukti terbit.
Menulis itu memang tidak selalu mudah. Lebih tidak mudah lagi adalah menerbitkan sebuah tulisan. Tidak sedikit calon penulis yang patah arang begitu naskahnya ditolak penerbit.
Banyak calon penulis yang tidak tahu bahwa penulis yang kini namanya bertebaran di buku-buku itu hampir semuanya mengalami penolakan penerbit di masa-masa awal menekuni dunia menulis. Tapi mereka tidak patah arang. Mereka terus berkarya dan terus berkarya. Penolakan demi penolakan justru dijadikan sebagai mefia berlatih dan terus berlatih.
Bagi yang belum terbiasa, dibutuhkan media alternatif menerbitkan buku. Buku kompilasi sebagaimana yang dirintis LP2M IAIN adalah salah satu cara berkarya. Semoga saja ke depannya betul-betul bisa mandiri dalam berkarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar