Jumat, 29 Mei 2015

Spirit Literasi Seorang Kiai



Oleh Ngainun Naim

Tradisi literasi ternyata mulai bersemai di tempat-tempat tertentu. Banyak fakta mengejutkan sekaligus menggembirakan berkaitan dengan telah berkembangnya tradisi literasi ini. Fakta semacam ini penting untuk disosialisasikan dan disebarluaskan agar semakin banyak komunitas dan individu yang semakin terampil berliterasi. Jika ini terwujud maka akan semakin banyak manfaat positif yang bisa diperoleh.

Saya menemukan fakta literasi ini di Pondok Pesantren Ngalah Sengonagung Pasuruan. Hari Sabtu tanggal 25 Oktober 2014—jadi sudah sekitar 7 bulan lalu—saya diundang oleh MATAN Pasuruan untuk acara bedah buku karya saya yang berjudul Islam dan Pluralisme Agama, Dinamika Perebutan Makna (Yogyakarta: Lentera Kreasindo, 2014). Sebelum acara dimulai, saya diajak ”sowan” ke Pengasuh Pesantren, yaitu K.H. Sholeh. Beliau menerima kami dengan sangat ramah. 
Suasana bedah buku


Saat beliau menemui kami, hal pertama yang beliau lakukan adalah segera mengambil sebuah kitab berbahasa Arab dan meminta saya untuk membacanya. Bagi saya ini merupakan suatu hal yang mengejutkan sekaligus menggembirakan. Mengejutkan karena sangat jarang atau bahkan belum pernah saya mengalami hal semacam ini. Biasanya saat ”sowan” kepada kiai, saya berdiskusi dan mendapatkan banyak nasihat. Lebih mengejutkan lagi karena saya yakin bahwa saya tidak mampu melakukan membaca kitab secara baik. Membacanya mungkin bisa, tetapi salah harakat dan salah makna itu pasti. Beruntung, beliau tidak meminta saya membaca layaknya santri sorogan. Maka, saya pun terselamatkan. Menggembirakan karena apa yang beliau lakukan merupakan manifestasi tradisi berliterasi. Dan ini merupakan fenomena yang menarik untuk ditindaklanjuti, bahkan ditradisikan.

Dunia pesantren selama ini (di/ter)kesan(kan) agak kurang akrab dengan dunia menulis. Dunia membaca jelas sangat akrab, tetapi dunia menulis relatif belum tumbuh dan berkembang. Dari ribuan atau bahkan mungkin ratusan ribu kiai pesantren, hanya sebagian kecil saja yang menulis buku atau kitab. Demikian juga dengan ratusan ribu atau mungkin jutaan santri, yang mau menekuni dunia menulis juga hanya sebagian kecil saja. Pada kondisi semacam ini, apa yang dilakukan oleh Kiai Sholeh dan Pondok Pesantren Ngalah telah memberikan warna lain yang mencerahkan.

Kedua, kiai memberi spirit literasi kepada santri dan alumni santri. Spirit ini beliau berikan melalui berbagai kesempatan yang ada, seperti pengajian, ceramah, saat santri ’sowan’, dan berbagai kesempatan yang lainnya. Upaya yang dilakukan oleh kiai tersebut menjadi penting artinya dalam konteks dunia pesantren. Kiai dalam komunitas pesantren menempati posisi sentral. Apa yang diperintahkan oleh kiai menjadi sebuah keharusan bagi santri untuk menjalankannya. Dampaknya terasa nyata, yakni terbitnya buku-buku dari rahim lembaga-lembaga yang dikelola oleh Kiai Sholeh, terutama dari Universitas Yudharta, Pasuruan.

Saya beruntung sekali karena mendapatkan buku-buku hasil besutan para santri Pondok Ngalah secara gratis. Ada dua buku tebal yang masing-masing jumlah halamannya lebih 500, yaitu Sabilur Rasyad. Saya juga mendapatkan tiga judul buku lainnya. Buku-buku tersebut lahir atas inspirasi dan anjuran—langsung atau tidak langsung—dari Kiai Sholeh.

Ketiga, ”Jangan datang kalau belum menulis buku.” Kata-kata ini cukup sering disampaikan oleh Kiai Sholeh sebagai bentuk tantangan kepada para santri dan alumni. Tantangan itu betul-betul beliau tanyakan kembali kepada para alumni yang ”sowan,” khususnya alumni yang telah menyelesaikan S-2. ”Pernah ada seorang alumni lulusan S-2 untuk datang kembali dengan membawa buku hasil karyanya karena alumni tersebut belum membawa buku karyanya,” kata seorang pengurus dalam perbincangan santai dengan saya di Universitas Yudharta.

Bagi saya, kebijakan kiai tersebut sangat strategis dalam kerangka membangun dan menumbuhsuburkan tradisi literasi di lingkungan Pondok Pesantren Ngalah. Hasil dari kebijakan tersebut cukup nyata, yaitu munculnya karya tulis dari lingkungan Pondok Ngalah. Ada banyak buku yang saya temukan terbit dari lingkungan pesantren ini. Jika tradisi ini terus dijaga dan ditumbukembangkan maka dalam beberapa tahun ke depan akan lahir komunitas literasi yang menjanjikan.

Komunitas literasi sesungguhnya mulai tumbuh subur di berbagai pesantren. Salah satu pesantren yang dapat dijadikan eksemplar adalah Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Pesantren ini sangat produktif menghasilkan berbagai karya tulis dalam berbagai bidang kajian Islam. Selain itu, pesantren ini juga menerbitkan sebuah majalah secara rutin. Di Pesantren Lirboyo, literasi telah memperkaya wawasan dan memberikan karakteristik yang khas.
Selain Pondok Pesantren Lirboyo, di beberapa pondok pesantren yang lain juga mulai tumbuh gairah literasi yang cukup menjanjikan. 

      Fenomena ini cukup menggembirakan karena dapat menjadi titik yang menentukan bagi kemajuan dunia pesantren secara umum. Kemajuan sebuah komunitas secara umum ditandai oleh—salah satunya—budaya literasi. Hal ini dapat dipahami karena karya tulis dapat menjadi sarana transformasi menuju kehidupan yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar