Senin, 06 April 2015

Buku 'Menipu Setan'



Oleh Ngainun Naim
 
Sampul belakang
Salah satu kebahagiaan penulis adalah saat bukunya terbit. Perjuangan menorehkan kata demi kata pada akhirnya ada hasilnya.
Itu juga yang aku rasakan sekarang ini. Bukuku yang berjudul "Menipu Setan, Kita Waras di Zaman Edan" beredar di toko-toko buku di akhir maret ini. Buku yang diterbitkan Quanta Gramedia ini merupakan penanda baru perjalanan kepenulisanku.
Aku sebut penanda baru karena inilah buku yang berbeda dari buku-bukuku yang lainnya. Buku ini mengulas dimensi kehidupan sosial keagamaan dalam format bahasa ringan. Aku berharap buku ini bisa diterima masyarakat pembaca Indonesia.
Buku ini menandai babak baru kepenulisan saya. Selama beberapa tahun menekuni dunia menulis buku, baru kali ini saya menembus Penerbit Quanta yang merupakan imprint dari Penerbit Elex Media Komputindo Jakarta.
Sebelumnya saya sudah pernah mengirimkan naskah buku tetapi nasib belum berpihak. Naskah saya belum diterima. Inilah makanya saya menyebut buku ini sebagai babak baru kepenulisan.
Judul buku ini memang terkesan unik. Setan itu makhluk penggoda manusia. Tetapi saya justru mengambil sesuatu yang kontra, yaitu menipu setan, bukan setan yang menipu. Bagaimana logikanya?
Cover depan

Tentu ada logika dan argumentasinya. Jika Anda menelusuri halaman demi halaman buku ini maka Anda akan menemukan jawabannya.
Buku ini bukan buku ilmiah. Mungkin bisa disebut buku populer. Di dalamnya, tentu saja, tidak ada ciri-ciri yang menandai sebuah karya ilmiah seperti catatan kaki.
Catatan kaki, dalam penulisan ilmiah, merupakan upaya seorang penulis untuk mengakui bahwa pokok pikiran yang dikutip berasal dari sumber yang jelas. Pada penulis tertentu, saya bahkan pernah menemui catatan kaki yang lebih panjang dari narasi.
Bahasa yang saya gunakan dalam buku ini saya usahakan sesederhana mungkin. Jika Anda menyimak catatan-catatan saya di facebook, maka seperti itu pula bahasa yang saya gunakan. Saya berharap dengan gaya bahasa semacam ini isi buku bisa lebih diterima oleh masyarakat luas. Apalagi penerbitnya adalah penerbit besar dengan jaringan toko buku di seantero Nusantara.
Buku ini terdiri dari 6 bab. Bab I yang merupakan Bab Pendahuluan menjelaskan tentang apa, mengapa, dan bagaimana buku ini ditulis. Secara mendasar saya menjelaskan bahwa tantangan kehidupan sekarang ini sedemikian rumit. Godaan hidup juga semakin berat. Pada kondisi semacam ini kita tetap dituntut untuk berpikir jernih dan tidak hanyut dalam arus yang menjerumuskan. Realitas menunjukkan bahwa sekarang ini begitu banyak manusia yang tergoda setan. Mereka melakukan apa pun demi mewujudkan segenap hasratnya.
Mengapa menulis buku ini? Tentu ada banyak alasan. Salah satunya adalah keinginan untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam menghadapi tantangan hidup yang tidak mudah. Mungkin hanya sedikit atau kecil kontribusi yang diberikan buku ini. Tetapi sedikit itu, menurut saya, masih jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. Saya berdoa semoga goresan pena yang terangkum dalam buku ini bisa memberikan manfaat kepada para pembaca sekalian. Amin.
Bagaimana buku ini ditulis? Karena buku ini bukan buku ilmiah maka cara menulisnya tidak seketat dan serumit menulis buku ilmiah. Saya menulis bagian demi bagian dalam waktu yang relatif panjang. Setiap tulisan kemudian saya susun dan strukturkan demi kepentingan buku ini. Begitulah, setelah melalui perjalanan panjang menulis, pada bulan Maret 2015 buku ini terbit.
Bagaimana caranya agar kita tetap waras? Ada banyak cara. Salah satunya dengan meneladani kehidupan dari dunia pesantren.
Di bab 2 yang bertajuk 'Keteladanan Dunia Pesantren' saya menulis bahwa dunia pesantren menyediakan sangat banyak keteladanan. Kita dapat banyak belajar untuk menjadikan hidup kita tetap sarat makna.
Satu hal yang berat kita lakukan adalah istiqamah. Istiqamah dalam konteks ini adalah dalam kebaikan; ibadah, belajar, mengaji, shalat jamaah, dan seterusnya.
Kita selayaknya belajar istiqamah pada Kiai Abdul Mujib Abbas, seorang kiai besar dari Pesantren Al-Khoziny Buduran Sidoarjo. Dalam hal apa saja beliau istiqamah? Anda bisa menelusurinya di buku ini.
Di bab 2, sesuai judul, saya memang menulis beberapa kisah yang layak kita teladani dari para kiai. Kisah keteladanan kiai dapat kita jadikan sebagi inspirasi untuk menjalani kehidupan secara lebih baik. Selain Kiai Abdul Mujib Buduran Sidoarjo, keteladanan juga bisa dipetik dari kisah Abuya Dimyathi Banten, Kiai Bisri Mustofa Rembang (ayahanda Gus Mus) yang menulis ratusan kitab, Kiai Mahrus Aly Lirboyo, dan lain-lain. Melalui keteladanan para kiai kita bisa menjadikannya terang di tengah hidup yang kian tak jelas sekarang ini.
Pada bab 3 yang berjudul "Belajar dari Tokoh", saya mengulas berbagai keteladanan hidup dari para tokoh. Mereka adalah orang-orang sukses di bidangnya masing-masing. The Liang Gie, misalnya, adalah tokoh yang serius menjalani profesinya. Bahkan sepenuh jiwa. Sebagai dosen di UGM Yogyakarta, ia getol mengajar, meneliti dan menulis. Melalui buku-buku yang ditulisnya yang jumlahnya lebih dari 50 judul, Gie mengajak masyarakat Indonesia untuk menjadi masyarakat maju yang beradab.
Sampul dalam

Kita juga bisa belajar untuk tetap waras pada (Alm.) Yoyoh Yusroh. Bisa Anda bayangkan bagaimana mengasuh anak lebih 10, anggota DPR, aktif dalam seabrek kegiatan, tetapi setiap hari mampu membaca al-Quran 3 juz. Jika senggang bahkan 5 juz. Bagaimana beliau melakukannya? Silahkan baca dan telusuri di buku Menipu Setan ini.
Masih ada tiga bab lagi di buku ini. Bab 4 bertajuk "Kearifan Hidup". Di dalamnya ada 8 tulisan. Salah satunya berjudul 'Generasi Berprestasi'.
Bab 5 berjudul "Spiritualitas Hidup". Di dalamnya ada 7 tulisan. Salah satunya berupa renungan filosofis dengan judul "Less is More".
Bab 6 berjudul "Inspirasi Mencerahkan". Salah satunya berjudul 'Kisah Perjuangan Orang Kecil Naik Haji'.
Itulah catatan saya tentang buku Menipu Setan. Semoga buku ini memberikan manfaat dan berkah.

2 komentar: