Senin, 09 Maret 2015

Spirit Menulis: Berdaya dengan Karya

Tulisan ini diambil dari blog:  http://www.portalmuda.com

Oleh Mey Wirda

Judul              : The Power of Writing: Mengasah Keterampilan Menulis untuk Kemajuan Hidup
Penulis            : Ngainun Naim
Penerbit          : Lentera Kreasindo, Yogyakarta
Cetakan          : I Januari 2015
Tebal              : 230 hlm
ISBN               : 978-602-1090-14-5

“Bila ada buku yang ingin kau baca tapi buku itu belum pernah ditulis maka engkaulah yang mesti menulisnya.”-Toni Morrison.
Buku The Power of Writing

Gambaran Toni Morrison di atas barangkali hampir serupa dengan apa yang dialami oleh penulis buku ini. Setelah sukses meluncurkan buku berjudul The Power of Reading pada April 2013 yang lalu, dosen sekaligus penulis produktif—yang setiap pagi selalu konsisten menulis catatan di dinding Facebook dengan jargon ‘ini catatanku, mana catatanmu’—ini, tampaknya belum puas untuk menyajikan hal ihwal yang unik dan out of box. Sehingga antusiasnya yang terus menggebu akhirnya berbuah manis dan terciptalah buku pasangan buat karyanya bertajuk seputar membaca itu. Ya, The Power of Reading dan The Power of Writing adalah pasangan serasi; sebuah entitas yang tak terpisahkan.
Kalau diamati dari sisi substansi, jelas buku ini berbeda dengan buku-buku karyanya yang kebanyakan bernuansa pemikiran. Dengan kata lain, dalam besutannya kali ini, penulis tak ingin terjebak pada tataran konsep yang melangit. Sehingga buku ini seolah mengusung misi untuk mendobrak stigma “buku berat” yang cenderung ilmiah dan sukar dipahami. Dari pengakuan penulis dalam kata pengantar, buku ini memang berangkat dari ketidaksengajaan. Lebih jelasnya, dari kebiasaan menulis 3-8 paragraf di Facebook setiap pagi itu, lambat laun terkumpul dan menjadi banyak tulisan. Nah, dari situlah akhirnya muncul inisiatif untuk merangkumnya menjadi sepucuk buku.
Buku yang terdiri dari enam bab ini boleh dibilang bernuansa provokatif. Dikatakan demikian karena hampir sebagian besar isinya adalah ajakan untuk menulis. Spirit menulis terasa begitu kental dalam buku ini. Misalnya di halaman awal, penulis mengakui bahwa semangat menulis itu fluktuatif. Dan semua orang pasti mengalaminya, tak terkecuali penulis sendiri. Tetapi ada hal mendasar yang membedakan antara penulis besar dan penulis pemula yaitu cara menyikapi kondisi ketika spirit menulis sedang menurun. Penulis besar tidak akan larut dalam kondisi spirit yang menurun tersebut. Ia akan selalu berusaha mencari jalan agar spirit menulis kembali meningkat. Sementara penulis pemula, ia akan pasrah pada keadaan, pasif dan menunggu datangnya momentum untuk menulis (hal.2).
Selain berdasar dari pengalaman empiris penulis, dosen yang sudah menelurkan 23 judul buku ini tak lupa juga menyuguhkan rekam jejak para inspirator menulis di bab terakhir. Ada 9 tokoh penulis ternama yang diulas profil dan kegigihannya seperti, Muhammad Fauzil Adhim, Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Anwar Holid, Prof. Yudian Wahyudi, Ph.D, N. Mursidi, The Liang Gie, Wawan Susetya, Zara Zettire ZR dan yang terakhir Krishna Mihardja.
Namun ada bagian yang (menurut saya) paling menarik dari buku ini yakni di sub bab bertajuk Menulis Itu Perjuangan: Belajar Menulis kepada N. Mursidi. Di bagian ini, penulis mengisahkan pengalaman beratnya ketika masih awal-awal berjuang menembus media massa dulu. Penulis mengaku memang tidak kenal akrab dengan N. Mursidi lantaran hanya bertemu sekali saja. Ia hanya merasa begitu dekat lantaran sering membaca karya N. Mursidi nongol di berbagai media massa termasuk bukunya yang berjudul Tidur Berbantal Koran, Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan. Disela-sela mengulas kisah perjuangan N. Mursidi yang begitu memilukan sekaligus sarat dengan inspirasi itu, penulis menceritakan secuil kisahnya di era 1997-an. Ia mempunyai teman yang bernama Maman—seorang penulis yang kala itu masih duduk di bangku Aliyah—yang baginya sangat menginspirasi dan menyulut semangat agar lebih giat berkarya. Produktivitas Maman semakin menggila ketika ia sudah duduk di bangku kuliah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tepatnya tiga tahun kemudian. Suatu ketika Maman mengirim sepucuk surat kepada penulis. Surat yang tertanggal 28 November 2000 itu berbunyi begini:
Dulu ketika masih di Tulungagung, terus terang, aku sangat bangga dapat berkenalan erat dengan kamu karena tulisanmu dimuat di Surabaya Post—tahun 2000 ini aku juga membaca dua tulisan resensimu di Surabaya Post melalui internet, analisanya tidak berkembang, pancet! Barangkali karena ketika itu aku tak bisa menembus koran sore itu, sehingga hampir mendewakanmu (hal. 200).
 Ada satu penggalan surat yang lebih menohok lagi, di bagian penutup yang bunyinya begini:
 Kata adik-adikmu, sekarang kau sudah jadi dosen (luar biasa) di STAIN TA. Syukurlah, namun jangan merasa dan mengaku sudah menjadi intelektual. Kau berhak mengaku intelektual jika nama dan tulisanmu pernah (minimal sekali) terpampang di Harian Kompas. Catat itu! (hal. 201).
Dengan demikian, buku yang disajikan dengan gestur bahasa yang renyah dan ringan ini hadir bukan sebagai guru panduan praktis atau buku sejenis ‘how to’ akan tetapi lebih sebagai teman motivasi lantaran menyuguhkan fakta pengalaman yang menyeret pembaca hanyut dan setelah sadar bakal tersulut semangatnya untuk sesegera mungkin menggerakkan pena. Itulah yang menjadi ciri khas buku ini dan membedakan dengan buku lainnya. Kalaupun ada kekurangan, mungkin hanya terletak pada sisi editing bahasa saja. Lantaran ada satu dua kata yang luput dari sentuhan. Namun sebagaimana pepatah lama: “tak ada gading yang tak retak, ” hal demikian wajar dan manusiawi adanya.

3 komentar:

  1. Mohon cp atau alamat penerbit Lentera Kreasindo?

    Terimakasih
    089672000218

    BalasHapus
  2. Mohon cp atau alamat penerbit Lentera Kreasindo?

    Terimakasih
    089672000218

    BalasHapus
  3. setelah membacanya the power of reading, mengilhamiku menulis artikel tentang literasi dan beberapa kalimatnya kujadikan kutipan tuk penguat dalam tulisan tersebut. Ternyata the secret powernya tersembunyi in the last chapter. It's a motivationfull book.

    BalasHapus