Rabu, 11 Februari 2015

Si Kecil Penggerak Literasi



Tulisan ini adalah karya adikku yang bungsu. Sekarang dia duduk bangku kelas XII MAN 2 Tulungagung. Aku berharap dia mau menekuni dunia literasi sebagaimana yang juga Aku tekuni. Semoga ia semakin rajin membuat tulisan.
 
Oleh Ngainul Yaqin
Adikku yang menulis catatan ini (tengah), si penggerak literasi (Safira, berjilbab hitam), dan Anakku Qubba N. Ilman Naim). Foto ini diambil pada tahun 2008.

 Hari ini merupakan hari minggu yang seperti biasanya Aku lewati dengan mencuci beberapa potong pakaian dan kaos kaki sekolah yang sudah lusuh. Terdengar teriakan ibuku memanggilku sejenak setelah menyelesaikan tugas. Beliau menyuruhku untuk memberikan uang ke rumah kakakku yang berjarak kurang lebih 10km dari rumah kami.
Selepas dhuhur kupacu motorku dengan kecepatan sedang. Angin bertiup ke arah selatan. Sembari mendongak ke atas, Aku lihat awan tebal berwarna abu-abu siap menjatuhkan muatannya. Dengan segera Aku pacu motorku lebih cepat. Kurang dari 20 menit Aku sudah sampai di rumah kakakku. Yap, Aku adalah bungsu dari 6 saudara, sedangkan kakakku ini adalah yang ketiga. Dia sudah menikah dan mempunyai dua putri.
Setelah melepas helm Aku sudah disambut keponakanku yang sudah merencanakan untuk melihat bazar buku di depan Perpusda – Perpustakaan Daerah - di kota kami. Setelah memberikan uang, keponakanku ngeyel mengajakku ke bazar buku itu. Tanpa bisa menolak Aku pun menuruti permintaannya. Tampaknya cuaca diluar enggan menurunkan hujan pada sore hari ini, meskipun awan tebal sudah mengelilingi seluas mata memandang, tetapi hujan tak kunjung turun.
Sesampainya dibazar dengan cepat keponakanku langsung mencari buku yang menurutnya ia sukai. Tidak seperti kebanyakan anak SD lainnya yang lebih suka bermain, keponakanku menyukai apa yang anak SD lainnya tak sukai. Yap, membaca. Entah sejak kapan tepatnya ia menyukai aktifitas itu. Kebiasaan yang diturunkan oleh orang tuanya yang juga cukup menyukai aktivitas membaca. Mungkin virus membaca ini juga diturunkan dari pamannya yang merupakan kakak tertuaku. Iya, beliau adalah tokoh penggerak literasi - entah apa itu , mungkin kata keren dari aktivitas membaca dan menulis -. Masih ingat diingatanku betapa beliau - secara tidak langsung – menuntunku untuk rajin membaca. Dimulai ketika Aku masih sangat belia. Beliau membelikanku majalah dan buku yang sudah tak terhitung berapa banyaknya. Sekarang pun, beliau masih sering membelikanku buku yang secara tidak langsung menyuruhku untuk semangat membaca. Beliau sudah menggeluti bidang itu mungkin semenjak kuliah atau tepatnya sebelum aku dilahirkan kedunia. Entah berapa banyak tulisan beliau yang sudah dihasilkan. Beberapa diantaranya dimuat di berbagai literature, blog, Koran juga beberapa buku yang tulis sendiri yang juga membahas tentang literasi. Beliau bukan hanya tokoh literasi saja, tapi juga guru, penulis, pembawa acara, pembimbing, dan tak lupa, beliau juga kakakku yang memberi banyak pengalaman berharga yang jarang didapatkan kebanyakan orang.
Tersentak kaget Aku disodori buku oleh keponakanku. Segera Aku menuju kasir dan membayar buku itu. Sejenak teringat aku tentang kakakku apabila melihat ada hal yang berbau dengan aktivitas membaca dan menulis. Virus yang ditularkan kepada semua anggota keluargaku walaupun secara tidak langsung. Tak terkecuali keponakannya yang Aku yakin juga tertular virus itu.
Tulungagung, 2 Februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar