Senin, 23 Februari 2015

Dunia Mahasiswa adalah Dunia Menulis



Oleh Ngainun Naim
 
Tempat acara bedah buku
Anda yang berstatus mahasiswa boleh tidak setuju dengan judul tulisan ini. Tetapi coba endapkan rasa, bangun spirit berpikir positif, dan lakukan analisis secara obyektif. Jika ini Anda lakukan sangat mungkin Anda akan menyetujuinya. Jika Anda tetap tidak setuju juga tidak apa-apa.
Sesungguhnya kuliah sejak awal sampai akhir selalu berhubungan dengan aktivitas menulis, mulai dari membuat makalah, meresume sampai menulis tugas akhir. Karena itulah keterampilan menulis penting dimiliki oleh mahasiswa.  Mahasiswa yang tidak atau kurang memiliki keterampilan menulis akan menghadapi hambatan dalam perjalanan kuliahnya.
Realitasnya tampaknya memang belum terlalu menggembirakan, setidaknya di kampus IAIN Tulungagung tempat saya mengabdikan diri. Keterampilan menulis belum dikuasai secara luas oleh mahasiswa (dan--maaf—juga dosennya). Hanya beberapa persen saja yang memiliki tradisi menulis.
Namun demikian kita tidak boleh berkeluh-kesah dengan realitas tentang belum tumbuhnya tradisi menulis di IAIN Tulungagung. Keluh-kesah tidak akan mengubah keadaan. Justru semakin berkeluh-kesah keadaan akan semakin terpuruk. Keluh-kesah makin merumitkan keadaan.
Kampanye menulis merupakan salah satu sarana yang saya yakin cukup efektif untuk membangun kesadaran menulis. Saya berkampanye dengan terus berusaha menulis catatan nyaris setiap hari di facebook. Saya tidak ingin sekadar mengajak tetapi ingin memberi contoh. Menulis itu memang bukan sekadar teori, tetapi yang lebih utama adalah praktik.
Apakah kampanye saya ada hasilnya? Saya tidak mau menjawabnya. Teman-teman yang merasa mendapatkan inspirasi dari kampanye saya silahkan menjawabnya. Saya akan lebih berbahagia jika kampanye saya diikuti bukti nyata berupa tulisan.
Saya sangat senang saat Jurusan Hukum Ekonomi Syariah (HES) IAIN Tulungagung mengundang untuk bedah buku saya, The Power of Writing. Bagi saya, ini merupakan kesempatan emas untuk berkampanye tentang dunia literasi. Melalui acara tersebut saya berharap semakin banyak mahasiswa yang tertarik menekuni dunia menulis.
Cover bukuku

Acara berlangsung pada hari selasa tanggal 17 Februari 2015. Secara umum acara berlangsung lancar. 200 kursi yang disediakan panitia hampir semuanya penuh terisi. Peserta juga terlihat antusias menyimak acara sejak awal sampai akhir.
Materi yang saya sampaikan, tentu saja, terkait dengan isi buku saya. Karena itu, saya tidak akan mengulasnya di catatan ini. Silahkan teman-teman merujuk langsung ke buku saya. Pada catatan ini saya ingin menulis topik yang diulas oleh pembanding, yaitu Dr. Kutbuddin Aibak, S.Ag., M.H.I.
Secara meyakinkan Dr. Aibak mengajak seluruh peserta untuk menulis. Menurut Dr. Aibak, menulis itu bukan soal bakat atau bukan, tetapi soal bagaimana mau melakukannya secara terus-menerus. Karena itulah seorang penulis yang baik selalu menyediakan alat perekam ide di dekatnya. Alat perekam itu bisa berupa pulpen-kertas (klasik), atau HP, tabled, iPAD, dan BB (modern). Saat ide muncul sesegera mungkin diikat dengan menulis di alat perekam yang telah tersedia tersebut.
Setelah ide direkam, Dr. Aibak memberikan tips tentang cara menulis yang baik. Doktor muda lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan penulis sejumlah buku tersebut menyarankan untuk; (1) banyak belajar. Penulis yang baik selalu dan terus belajar tanpa kenal lelah. Melalui cara semacam ini keterampilan menulis bisa diperoleh.
(2) Abaikan aturan main. Di paper yang dibagikan kepada peserta bedah buku, Dr. Aibak menulis, "Bagi seseorang yang masih dan mulai belajar menulis, maka ada baiknya (harus) mengabaikan semua syarat tata cara penulisan yang benar. Menulislah sebisanya, mengalir saja, dan jangan terbebani oleh aturan-aturan".
Coba Anda cermati saran Dr. Aibak tersebut. Terlihat betapa saran tersebut cukup aktual dan operatif. Salah satu hambatan menulis adalah "takut". Rasa "takut" ini harus diatasi. Caranya adalah dengan mengikuti saran di atas.
(3) Banyak membaca. Membaca menjadi modal penting menulis. Apa yang kita tulis sesungguhnya merupakan akumulasi pengetahuan yang kita baca. Semakin banyak membaca semakin besar modal kita untuk menghasilkan tulisan yang baik. 

(4) Bertanya/diskusi. Penulis yang baik adalah yang sering diskusi. Diskusi adalah media produktif untuk menumbuhsuburkan tradisi menulis. Karena itu, manfaatkanlah diskusi untuk meningkatkan mutu tulisan.



6 komentar:

  1. dunia mahasiswa adalah menulis, dunia dosen adalah berkampanye pada mahasiswa untuk mau menulis termasuk kampanye terhadap diri sendiri untuk selalu menulis, betul begitu pak? :-)

    BalasHapus
  2. Ya, saya kira begitu mas. Mari giatkan menulis. Insyaallah bermanfaat.

    BalasHapus
  3. Setuju, memang sejak awal sampe akhir mahasiswa ga akan lepas dari yg namanya tugas menulis. Tapi jujur, saya aja jadang masih suka susah nulis kalau udah berhubungan dengan hal2 scientific jurusan. Kebiasaan nulis di blog pak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mas Ridha Tantowi. Yang penting kita menulis. Soal pilihan tema, tentu disesuaikan dengan minat. Salam.

      Hapus
  4. Bagaimana cara mengatasi masalah menyalurkan ide-ide kita yg berantakan ke dalam kalimat-kalimat, hingga tulisan kita jadi enak dibaca pak??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Caranya dengan menulis setiap hari. Ya, harus setiap hari walaupun mungkin hanya dengan satu paragraf. Menulis yang dilakukan setiap hari akan melatih kita membuat kalimat secara baik. Anda bisa membaca buku The Power of Writing yang saya tulis. Di buku itu saya telah menguraikan panjang lebar strategi menulis agar kalimat menjadi enak dibaca. Salam.

      Hapus